Waspadai Parasit Dan Penyakit Pada Scallops (Amusium Pleuronectes), Ini Rahasia Keberhasilan Budidaya

oleh -

Kampus Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Bapak Nabiel Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Republik Indonesia, mendorong mahasiswa semester 5, semester 6 dan semester 7 untuk melakukan berbagai hal positif di luar prodinya, salah satunya adalah magang di industri. Prodi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran menawarkan magang di industri yang berada di Pulau Hokkaido, terletak di sebelah utara Jepang sebagai lokasi tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) mahasiwa selama 1 atau 2 semester.

Ada berbagai hal yang menjadi objek magang di Pulau Hokkaido dan sekitarnya,yakni budidaya ikan laut dan kerang-kerangan, namun yang sangat produktif karena kualitas airnya cocok adalah budidaya scallops (Amusium Pleuronectes).

Tulisan ini merupakan tulisan serial ke-5, yakni hama dan penyakit kerang scallops di Pulau Hokkaido, di akhir tulisan akan disampaikan apa saja yang menjadi hama dan penyakit pada budidaya scallops di Indonesia.

Hama dan penyakit ada di sekitar organisma, namun akan menjadi masalah manakala organisma itu mengalami tekanan atau stress. Spat kerang scallops peka terhadap sinar matahari langsung, suhu tinggi (di atas 22℃), kekeringan (angin), air hujan dan kekurangan oksigen, maka perlu kehati-hatian yang cukup. Selain itu, cangkang yang patah (disebut “cangkang cacat”), atau bagian dalam cangkang berubah menjadi coklat kekuningan (disebut “pewarnaan bagian dalam”), ataupun kerang yang berhenti pertumbuhan (disebut “kerang abnormal”). Kerang scallops abnormal timbul karena dibudidayakan dengan kepadatan tinggi dan atau karena fasilitas budidaya terguncang karena gelombang (badai laut), keranjang dan cangkang saling bertabrakan, lalu menyebabkan kerusakan pada mantel.

Tergantung pada umur scallops, berbagai organisme penempel akan melekat pada permukaan kerang scallops secara langsung, bahkan pada permukaan fasilitas budidaya (tali seperti tali utama dan tali gantung, jaring mutiara, keranjang bundar, bola pelampung). Bahkan ada bintang laut (Gambar 1) dan kepiting (Gambar 2) juga yang memakan kerang scallops secara langsung.

Gambar 1.  Bintang Laut Yang Memangsa Benih Kerang Scallops

Gambar 2.  Jenis-Jenis Kepiting Yang Memangsa Scallop

Selain itu, terdapat Murasaki gai (kerang ungu), Fujitsubo (Teritip), Hoya (Ascidian), anemon laut, dan cacing annelida/Polychaeta sebagai organisme penempel yang menempel pada permukaan kerang/ cangkang sehingga menghambat pertumbuhan scallops, juga menempel pada fasilitas budidaya (Gambar 3).

 Gambar 3.  Berbagai Organisme Penempel Pada Permukaan Kerang/ Cangkang Yang Menghambat Pertumbuhan Scallops, Juga Menempel Pada Fasilitas Budidaya

Berikut ini adalah gambar organisme penempel yang biasa ada pada scallops dan fasilitas budidaya.

Gambar 4.  Fujitsubo (Teritip) B: Murasaki gai (Kerang ungu) C: Hoya (Ascidian) D: Kasane Kanzashi (sejenis cacing anereidae)

Kebanyakan kerang-kerangan termasuk scallops merupakan filter feeder, sehingga apabila terkonsumsi plankton beracun, maka walaupun kerangnya tidak mati namun kerangnya akan mengganggu kesehatan organisma yang mengkonsumsinya. Pada scallops, racun kerang diketahui tersimpan di hepatopankreas. Orang yang makan kerang scallops bisa mengalami gejala seperti kelumpuhan dan diare, dan dalam kasus terburuk bisa menyebabkan kematian.

Ada yang disebut  “keracunan kerang paralitik” atau Paralityc Shellfish Poison dan “keracunan kerang diaretik atau disebut juga Diarrhetic Shellfish Poisoning. Kuantitas jumlah racun dinyatakan dalam satuan yang disebut Mouse Unit (MU), dan nilai aman setiap racun pun ditentukan. Untuk memastikan bahwa kerang scallops dapat dikonsumsi secara aman oleh konsumen, secara rutin dilakukan survei plankton beracun dan inspeksi racun kerang. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kerang scallops mengandung racun kerang yang melebihi batas nilai aman, maka dilakukan pembatasan pengiriman.

Demikian informasi mengenai parasit dan  penyakit yang biasa menyerang scallops, yang harus diantisipasi agar tidak mempengaruhi pertumbuhan scallops.

*****

Penulis : Rita Rostika

Dosen Prodi Perikanan Pangandaran, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

 

Comments

comments