Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu telah lama menjadi pusat perikanan tangkap penting di pesisir selatan Jawa Barat. Barang berharga untuk ekspor, ikan layur, diangkut dari pelabuhan ini ke pasar domestik dan internasional. Namun, di balik gambaran sentra layur, ada pertanyaan mendasar: seberapa efisien dan berkelanjutan perikanan rawai layur yang mendukung bisnis ini?

Data produksi untuk lima tahun terakhir (2020–2024) menunjukkan produksi ikan layur kapal rawai Palabuhanratu sangat bervariasi, berkisar dari sekitar 44 ton pada tahun terendah hingga lebih dari 260 ton pada tahun tertinggi. Pola ini berulang setiap musim: tinggi di awal dan akhir tahun, lalu merosot di pertengahan tahun. Karena perikanan sangat dipengaruhi oleh musim, fluktuasi ini di atas kertas dapat dianggap wajar. Namun, ketika angka produktivitas kapal dan alat tangkap dihubungkan, gambaran menjadi lebih serius.
Berdasarkan penelitian tahun 2024, produksi kapal rawai layur rata-rata sekitar 0,33 ton/GT per tahun. Ini masih di bawah standar produktivitas rawai dasar yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan. Selain itu, produktivitas alat tangkap relatif rendah, sekitar 0,04 ton per trip. Artinya, perikanan ini bekerja dalam batas efisiensi teknis dan ekonomi.
Namun, rawai layur Palabuhanratu dianggap sangat selektif dari segi spesialisasi. Lebih dari 97 persen hasil tangkapan adalah ikan demersal, dengan ikan layur sebagai target utama sebagian besar. Komposisi ini sangat berbeda dari karakter rawai biasa yang berfokus pada manyung, kakap, atau kerapu. Di satu sisi, spesialisasi ini menunjukkan bagaimana nelayan menyesuaikan diri dengan peluang yang ada di pasar. Nelayan berkonsentrasi pada alat tangkapnya secara khusus karena permintaan layur yang stabil dan rantai pemasaran yang telah terbentuk kuat.
Sebaliknya, spesialisasi yang terlalu sempit membuat produktivitas sangat bergantung pada perilaku spesies tertentu. Ikan layur memiliki karakteristik biologis yang membedakannya dari ikan demersal lainnya. Ini termasuk ukurannya yang lebih kecil, migrasi vertikal setiap hari, dan musim tangkap yang singkat. Jika stok berkurang atau musim berubah, dampaknya langsung terhadap produksi.
Sebenarnya, nelayan sudah ada sejak lama. Kapal motor tempel bercadik berukuran 2 GT yang saat ini digunakan merupakan modifikasi dari kapal pancing ulur. Nelayan mengubah tata letak dan alat tangkap untuk menjadi lebih efisien tanpa mengubah konstruksi utama. Untuk mempertahankan kesegaran umpan dan mengurangi jarak tempuh, bahkan ada ide untuk membangun “pondokan” di dekat daerah tangkap. Ini menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan diri pada skala bisnis kecil.

Namun, adaptasi teknis belum sepenuhnya menyelesaikan masalah struktural. Banyak dari biaya melaut berasal dari biaya operasional, terutama bahan bakar. Frekuensi perjalanan juga terpengaruh ketika harga atau distribusi BBM berubah. Sebaliknya, gejala perikanan klasik, ikan semakin sulit ditemukan di lokasi daerah penangkapan ikan yang biasa dituju nelayan, ditunjukkan oleh penyebaran daerah tangkap ke perairan Ujung Genteng dan Ujung Kulon.
Kondisi ini menyampaikan pesan penting. Produksi tinggi adalah hasil dari banyak faktor yang berbeda, termasuk interaksi biologis, teknis, ekonomi, dan tata kelola. Tekanan terhadap sumber daya dapat meningkat jika produktivitas terus berada di bawah standar tanpa evaluasi. Ini karena nelayan akan terdorong untuk menambah trip atau memperluas daerah tangkap untuk menutupi kekurangan hasil.
Saat ini, pengelolaan adaptif menjadi sangat penting. Pertama, standar produktivitas harus dibaca secara kontekstual dengan mempertimbangkan karakter target spesies yang berbeda. Rawai dasar multispesies tidak dapat disamakan dengan rawai layur yang sangat unik. Kedua, untuk menyesuaikan upaya penangkapan dengan fluktuasi sumber daya, peningkatan sistem pemantauan stok layur dan musim menjadi sangat penting. Ketiga, efisiensi operasional, seperti dukungan teknologi sederhana dan akses BBM yang lebih stabil, dapat meningkatkan produktivitas tanpa meningkatkan tekanan pada stok.
Palabuanratu telah menunjukkan dirinya sebagai lokasi penting untuk perikanan layur. Keberlanjutan tidak hanya diukur dari jumlah ekspor, tetapi juga diukur dari kemampuan untuk mengimbangi hasil tangkapan, produksi usaha, dan kesehatan stok ikan. Rawai layur adalah contoh kebertahanan perikanan skala kecil di tengah perubahan ekonomi dan ekologi. Masa depan layur Palabuhanratu sangat bergantung pada seberapa baik kebijakan, penelitian, dan pengalaman nelayan dapat bekerja sama. Jika tidak, fluktuasi yang dianggap musiman hari ini mungkin menunjukkan penurunan yang lebih permanen.*
Oleh: Lantun Paradhita Dewanti
Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran





