Di Teluk Palabuhanratu, cahaya-cahaya kecil di atas laut bukan sekadar penanda aktivitas malam. Ia adalah simbol kerja, harapan, sekaligus dinamika perikanan yang terus bergerak. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah bagan apung di perairan ini meningkat signifikan. Data resmi menunjukkan kenaikan dari 135 unit pada 2019 menjadi 390 unit pada 2023. Namun ketika laut dibaca melalui citra satelit, jumlah yang teridentifikasi pada waktu tertentu bahkan lebih besar. Data ini mencerminkan perubahan cara ruang laut dimanfaatkan dan bagaimana nelayan beradaptasi dengan kondisi perairan yang dinamis.
Melalui analisis citra Sentinel-2 pada area sekitar 210 kilometer persegi Teluk Palabuhanratu, posisi bagan apung dapat dipetakan dari waktu ke waktu. Hasil analisis spasial menunjukkan pola sebaran yang cenderung acak, dengan indeks nearest neighbor berkisar antara 0,90 hingga 1,23. Dalam bahasa sederhana, bagan-bagan itu tidak mengelompok secara tetap, tetapi tersebar mengikuti logika teknis di lapangan.
Pergerakan itu terjadi terutama dipengaruhi oleh musim. Pada musim barat, ketika gelombang relatif tinggi, bagan cenderung ditempatkan lebih dekat ke pesisir demi stabilitas. Sebaliknya, saat musim timur yang lebih tenang, unit-unit tersebut bergerak lebih jauh ke laut. Distribusi bagan dengan demikian bersifat spasio-temporal, berubah mengikuti ritme alam.

Secara teknis, penempatan bagan mempertimbangkan kedalaman perairan agar jaring berukuran sekitar 9 x 9 meter dapat dioperasikan optimal tanpa menyentuh dasar laut. Arus yang terlalu kuat dihindari karena dapat mengganggu stabilitas struktur. Jarak dari pangkalan turut diperhitungkan karena memengaruhi konsumsi bahan bakar dan efisiensi waktu operasi. Sebagian besar bagan di Palabuhanratu menerapkan sistem one day fishing: berangkat menjelang sore dan kembali pada pagi hari. Di tengah gelap laut, teknologi utama yang bekerja adalah cahaya.
Dengan genset berkapasitas sekitar 5.000 hingga 8.500 watt, lampu putih dinyalakan untuk menarik ikan pelagis kecil seperti teri, tembang, dan peperek. Ikan-ikan ini memiliki respons fototaksis positif, yaitu mendekati sumber cahaya. Setelah terkonsentrasi, lampu dipadamkan secara bertahap, menyisakan cahaya di pusat jaring sebelum proses penarikan dilakukan.
Tahapan ini memerlukan ketepatan waktu. Konsentrasi ikan berlangsung sekitar satu hingga dua jam, sedangkan proses hauling membutuhkan 10 hingga 30 menit. Dalam kurun waktu singkat itulah keberhasilan tangkapan ditentukan.
Di Palabuhanratu, sebagian besar bagan masih menggunakan sistem penarikan manual dengan roller. Secara teknis, stabilitas tarikan berpengaruh terhadap konsentrasi ikan di dalam jaring. Gangguan kecil pada kolom air dapat memicu gerombolan menyebar sebelum seluruh jaring terangkat. Di sinilah aspek mekanis yang tampak sederhana ternyata memiliki dampak nyata terhadap hasil tangkapan.

Ketika data administratif dibandingkan dengan hasil identifikasi citra satelit, muncul perbedaan yang menunjukkan bahwa dinamika di lapangan bergerak lebih cepat daripada pencatatan formal. Di sinilah teknologi penginderaan jauh memberi perspektif dalam pemanfaatan data spasial melalui citra satelit.
Namun membaca data citra satelit bukan berarti menggantikan pengalaman nelayan. Justru sebaliknya, pendekatan spasial membantu kita memahami bagaimana pengalaman itu diterjemahkan ke dalam pola yang lebih luas. Pergerakan bagan mengikuti musim, pemilihan lokasi berdasarkan kedalaman dan arus, serta pengaturan cahaya untuk memanfaatkan perilaku ikan menunjukkan bahwa praktik ini adalah sistem teknis yang adaptif.
Bagan apung bukan sekadar alat tangkap, melainkan ruang pertemuan antara pengetahuan lokal, kehidupan masyarakat pesisir, dan sains modern. Di satu sisi, nelayan membaca tanda-tanda alam dengan intuisi yang terasah oleh pengalaman. Di sisi lain, citra satelit dan analisis spasial memberi kita cara baru untuk memahami pola-pola yang selama ini hanya dirasakan di lapangan. Cahaya yang menyala di atas bagan setiap malam bukan hanya menarik ikan. Ia juga mengingatkan bahwa perikanan kita berada di persimpangan antara tradisi dan teknologi. Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan merawat keduanya agar tetap saling menguatkan.*
Oleh: Lantun Paradhita Dewanti dan Ardan Praja
Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran





