Pembesaran Kerang Scallops, Ini Rahasia Dari Hokkaido!

oleh -

Pulau Hokkaido, yang terletak di sebelah Utara Jepang, merupakan lokasi tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) mahasiwa Prodi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran selama 1 atau 2 semester sebagai wujud penerapan Kampus Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Bapak Nabiel Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat ini.

Ada berbagai hal yang menjadi objek yakni budidaya ikan laut dan kerang-kerangan, namun yang sangat produktif karena kualitas airnya sangat cocok adalah  budidaya scallops (Amusium Pleuronectes).

Tulisan ini merupakan tulisan serial ke-4, yakni pembesaran kerang scallops di Pulau Hokkaido, di akhir tulisan akan disampaikan bagaimana budidaya scaloops di Indonesia. Pemeliharaan Spat (benih) kerang scallops stadia ‘juvenile’ (pemeliharaan menengah). Spat kerang yang telah disortir utama digantung untuk jangka waktu tertentu, kemudian dipelihara di jaring budidaya kerang mutiara sampai mencapai ukuran tertentu yang sesuai untuk budidaya atau Jimaki (penyebaran di dasar laut).

Pemeliharaan kerang scallops dewasa (Pemeliharaan Final)

Setelah pemeliharaan juvenile selesai, spat kerang dipindahkan ke keranjang bundar (keranjang andon) (Gambar 1) atau jaring pocket (Gambar 2) sampai menjadi kerang muda atau kerang dewasa.

Gambar 1.  Keranjang Bundar (Keranjang Andon)

Gambar 2. Jaring Pocket

Ada juga metode yang langsung mengaitkan cangkang kerang yang telah dilubangi pada tali gantung menggunakan kawat pengait (metode ini disebut “Mimi-Zuri” budidaya kerang gantung) (Gambar 3) yang digantung ke fasilitas budidaya.

Gambar 3.  Mimi-Zuri atau budidaya kerang gantung

Setelah itu proses budidaya sampai proses pengiriman/delivery ke lokasi distribusi ini yang disebut “Pemeliharaan Final”. Pada saat itu, hal yang sangat penting untuk jumlah kerang yang dimasukkan dan jumlah kerang yang digantung, diatur secara tepat agar tidak membuat kerang menjadi stress yang berpengaruh terhadap  pertumbuhan kerang.

Pengelolaan Budidaya

Kerang Hotate atau scallops sebagai makhluk hidup harus diperlakukan dengan baik dan benar agar tidak stress dan dapat tumbuh derngan optimal. Diawali dengan proses penyortiran spat kerang berdasarkan ukuran atau proses membuat lubang untuk Mimi-Zuri, sebaiknya hal ini  dilakukan pada pagi hari sebelum suhu air dan suhu udara naik.

Jika terpaksa dilakukan pada siang hari, penting dilakukan di dalam gubuk tempat kerja yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Terlebih untuk spat kerang scallops yang rentan terhadap sinar matahari langsung, suhu tinggi (di atas 22℃), kekeringan (angin), air hujan dan kekurangan oksigen, maka perlu kehati-hatian yang cukup. Selain itu, cangkang terpatah (ini disebut “cangkang cacat”), bagian dalam cangkang berubah menjadi coklat kekuningan (ini disebut “pewarnaan bagian dalam”), kerang yang berhenti pertumbuhan disebut “kerang abnormal” (Gambar 4).

Gambar 4.  Kerang Abnormal

 

Bagaimana Budidaya di Indonesia

Telah dilakukan suatu riset tentang  kerang scallops (Amusium pleuronectes) di laboratorium  Universitas Diponegoro, Bahan uji dalam penelitian ini adalah benih kerang berukuran kecil (3-4 cm) dan sedang (4-5 cm) yang ditangkap dengan jaring arad dan menggunakan kapal nelayan.

Media Pemeliharaan yang digunakan dalam penelitian berasal dari air laut yang disediakan oleh sistem penyediaan air laut dengan sistem filtrasi pasir di bak pengendapan, kemudian disaring

melalui plankton net, benih kerang scallops yang digunakan pada penelitian ini di tempatkan dalam wadah uji dengan volume air laut sebanyak 1 liter. Kepadatan mikroalga yang digunakan sesuai dengan penelitian utama. Pertumbuhan terbaik adalah scallops yang diberikan Chaetoceros, denghan konsentrasi diet menu 30000-40000 sel/ml.

Demikian sepintas mengenai proses pembesaran kerang scallop di Pulau Hokkaido dan di Indonesia, semoga dapat menambah wawasan terutama mahasiswa yang akan melakukan Praktek Kerja Lapang di Pulau Hokkaido Jepang.

*****

Penulis : Rita Rostika

Dosen Prodi Perikanan Pangandaran, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Comments

comments