Rahasia Yang Harus Diketahui Tentang Pembenihan Kerang Scallops (Amusium Pleuronectes)

oleh -

Negeri Jepang, khususnya Pulau Hokkaido merupakan lokasi tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran selama 1 atau 2 semester sebagai wujud penerapan Kampus Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Bapak Nabiel Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Di Pulau ini terdapat sentra budidaya laut, khususnya kerang scallops (Amusium Pleuronectes)  yang banyak dibudidayakan dengan sistem Jimake atau menebar benih di ladang kerang dasar laut. Tulisan ini terdiri dari beberapa seri, seri ini merupakan tahap ke 3, yakni pembenihan kerang scallops.

Pembenihan Kerang scallops adalah upaya manusia mengumpulkan spat kerang scallops yang lahir di laut kemudian membesarkan serta mengirimkannya. Selama budidaya, kerang scallops tumbuh dengan memakan fitoplankton di laut. Metode budidaya yang digunakan di sebagian besar wilayah Hokkaido adalah metode rawai gantung (Gambar 1).

Pengambilan benih alami larva kerang scallops yang mengambang di laut memiliki sifat melekat pada benda-benda saat mencapai ukuran sekitar 0,3 mm. Dengan memanfaatkan sifat tersebut, wadah pengambil benih direndam di dalam laut agar larva yang mengambang menempel pada wadah pengambil benih. Pengambilan spat kerang yang menempel dan bertumbuh disebut “pengangkatan benih alami”.

Wadah pengambil benih ada dua jenis yaitu: Kantong Bawang Bombay yang berisi netron net atau Jaring Tua, dan Jaring Batang yang dibuat dari jaring tua yang diikat dalam bentuk batang. Saat memasang wadah pengambil benih, mula-mula kumpulkan larva yang mengambang menggunakan jaring plankton, cek jumlah dan ukuran larva menggunakan mikroskop, hal ini dilakukan untuk menentukan waktu pemasangan wadah pengambil benih. Pemasangan wadah pengambil benih dilakukan beberapa kali secara bertahap, perhatikan bentuk wadah yang digunakan pembudidaya di Teluk Funka/ jaring batang dan Teluk Mutsu /kantong bawang bombay (Gambar 2 dan 3).

Gambar 2.  Jaring Batang yang digunakan sebagai wadah penyimpan benih, biasa digunakan pembudidaya di Teluk Funka, Jepang.

Gambar 3.  Jaring Kantong Bawang Bombay  yang digunakan sebagai wadah penyimpan benih, biasa digunakan pembudidaya di Teluk Mutsu, Jepang.

Jika proses pengambilan benih alami ini tidak dapat menjamin spat yang cukup, maka akan berdampak besar pada budidaya kerang scallops dan Jimaki (penyebaran kerang scallops di dasar laut), jadi dapat dikatakan proses ini yang paling penting. Perlu dicatat bahwa di Jepang, produksi benih buatan kerang scallops tidak dilakukan sangat mengandalkan benih dari alam.

Pengambilan Benih dan Penyebarannya

Pengambilan benih kerang scallops dimulai sekitar bulan Maret,  karena spat kerang yang menempel pada wadah pengambil benih dapat tumbuh dengan pesat, maka begitu wadah pengambil benih diangkat dari laut segera spat kerang diambil. Spat kerang yang diambil dari wadah pengambil benih dipindahkan kedalam keranjang besar yang ukuran mata keranjangnya disesuaikan dengan tahap pertumbuhannya. Tahapannya adalah sebagai berikut,

  • Kari-Bunsan” (Sortir Sementara)

Di wilayah Teluk Funka yang menggunakan wadah pengambil benih dalam bentuk jaring batang dan di wilayah yang menggunakan wadah pengambil benih dari kantong bawang Bombay,  yang banyak bintang laut dan kepiting yang masuk kedalamnya, maka bintang laut dan kepiting harus disingkirkan untuk menghindari hama pemakan spat kerang. Selain itu, jika ukuran spat kerang disortir ukurannya dengan saringan, maka pekerjaan sortir utama sebagai tahap berikutnya dapat dilakukan secara efisien. Ini disebut “Kari-bunsan” dan dimulai sekitar bulan Juli. Spat kerang hasil “Kari-bunsan” ditempatkan di dalam jaring mutiara/ZabutonKago (Gambar 3) dan digantung di fasilitas budidaya.

Gambar 4.  Zabuton Kago

  • ”Hon-Bunsan “ (Sortir Utama)

Spat kerang scallops hasil “Kari-Bunsan” yang digantung kedalam laut diangkat. Lalu dengan menggunakan saringan, spat kerang disortir berdasarkan ukurannya, dan dibagi berdasarkan tujuan penggunaannya seperti untuk benih Jimaki (penyebaran dasar laut), pengiriman kerang muda dan pengiriman kerang dewasa.

Masukkan kembali kedalam jaring mutiara (wadah benih) dengan jumlah yang telah ditentukan berdasarkan tujuan penggunaannya. Proses ini disebut “Hon-Bunsan” dan dimulai sekitar bulan Agustus. Berdasarkan waktu pengiriman sebagai kerang muda atau kerang dewasa, sortir kedua atau sortir ketiga dapat dilakukan proses ini. Di daerah yang proses Kari-Bunsan tidak dilakukan, wadah pengambil benih diangkat mulai akhir bulan Juli hingga bulan Agustus untuk memisahkan bintang laut dan kepiting. Selain itu, dengan menggunakan saringan, spat kerang disortir berdasarkan ukurannya, dan dimasukkan kedalam jaring mutiara dengan jumlah yang telah ditetapkan berdasarkan ukuran untuk dipasarkan, dan digantung kembali di fasilitas budidaya. Pada setiap kali proses sortir, jaring mutiara juga diganti agar mata jaringnya lebih besar yang sesuai dengan pertumbuhan kerang. Jumlah spat kerang yang dimasukkan juga harus disesuaikan secara tepat, agar pertumbuhan kerang tidak terganggu.

Pemeliharaan Spat Kerang (Pemeliharaan juvenile)

Spat kerang yang telah disortir utama digantung untuk jangka waktu tertentu, kemudian dipelihara di jaring mutiara sampai mencapai ukuran tertentu yang sesuai untuk budidaya atau Jimaki (penyebaran di dasar laut).

Proses pengumpulan benih dilakukan sejak Maret, lalu sortir sementara dan sortir utama berlangsung hingga Agustus. Para mahasiswa yang melakukan magang di industri budidaya scallops dapat melakukan hal ini pada kegiatan magangnya.

*****

 

Penulis : Rita Rostika

Dosen Prodi Perikanan Pangandaran, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Comments

comments