Satgas Citarum Dan DLH Kabupaten Bandung Pantau Progress Pengolahan Limbah Dan Saluran Buang IPAL KPBS Pangalengan

oleh -
Satgas Citarum Dan DLH Kabupaten Bandung Pantau Progress Pengolahan Limbah Dan Saluran Buang IPAL KPBS Pangalengan
Kondisi saluran pembuangan air KPBS Pangalengan yang ditutup oleh DLH Kabupaten Bandung beberapa hari lalu karena terindikasi dijadikan buangan hasil flushing dan pencucian alat.

KAB. BANDUNG, sorotindonesia.com,- Pasca seluruh saluran air yang menuju ke area luar KPBS Pangalengan ditutup oleh DLH Kabupaten Bandung didampingi Satgas Citarum Sektor 21 Sub-18 beberapa hari lalu akibat indikasi pembuangan ceceran produksi dan flushing ke badan air, kini produsen susu segar terbesar Bandung Selatan tersebut sedang membenahi saluran-saluran pipanya.

“Air yang melintas kesini menjadi satu, selain dari olahan limbah dan drainase disini, diantaranya lagi dari pasar dan warga,” kata Parjan, penanggungjawab aset KPBS kepada awak media, Sabtu (18/7/2020).

“Kini kita mulai perbaiki, yang dari olahan limbah disini dibuatkan saluran buang tersendiri,” tambahnya.

Pada pengecekan IPAL KPBS bersama Satgas Citarum Sektor 21-18, didampingi dan dijelaskan oleh Rahmat selaku Manajer Produksi serta Dede Sutisna selaku penanggungjawab IPAL, tampak ada beberapa lubang saluran yang sudah ditutup dengan cara disemen, termasuk di pipa besar saluran buang akhir.

Penjelasan sebelumnya yang disampaikan oleh Rahmat yang kerap disapa dengan panggilan Dudu, “Dari DLH dan Polres pada hari Selasa lalu sempat datang kesini, dan memberikan masukan-masukan. Pada kurun satu minggu kebelakang ada pihak kita yang ke DLH dan Polres. Nah, tiba-tiba ada pemberitaan kemarin, sehingga LH datang untuk menindaklanjutinya,” terang Rahmat.

“Kita ada (mobil) tangki yang selalu dibilas, air tersebut saran dari Pak Robby (Kasie Penaatan Hukum DLH Kabupaten Bandung) jangan dibuang ke sungai, harus ada resapan dulu,” ujarnya.

“Saran tersebut sudah kami mulai pengerjaannya,” ucap Rahmat.

Diungkapkan oleh Rahmat, “Dalam pemberitaan di media YouTube kita juga dituding membuang oli, oli darimana? kita disini tidak ada bengkel, lalu dikatakan juga bahwa kita selama ini tidak ada kompensasi kepada warga, padahal kita ada buat lingkungan. Ya, yang kita sayangkan tayangan pemberitaan terkait itu tidak ada konfirmasi terlebih dahulu kepada kita,” keluh Rahmat.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Rahmat, “Sebetulnya dulu aliran pasar dan pabrik berbeda, tapi pas musim hujan, air dari jalan raya masuk semua kesini, akhirnya ada tanah warga, seorang ibu, yang terkikis. Dia minta bantuan ke KPBS untuk dibentengi, akhirnya kita benteng dan satukan kesini. Memang yang jadi salah kita, menurut Pak Robby, harusnya saluran itu ada perbedaan. Katakanlah kemarin sarannya harus dikasih paralon, saluran khusus hasil olahan limbah KPBS, saluran cuci kendaraan dan saluran dari pasar, jadi clear,” urainya.

“Jika ada yang katakan kita buang susu, masa sih kita buang susu? Produk kita adalah susu. Meski kita tidak menutup kemungkinan ada ceceran kemasan yang bocor, tapi itu pun langsung masuk ke IPAL,” jelas Rahmat lagi.

“Prinsipnya, tidak ada limbah yang kita langsung buang,” tegasnya.

Produksi KPBS apa saja? pertanyaan yang disampaikan salaseorang wartawan yang langsung dijawab oleh Rahmat, “Kita disini 100 persen susu segar, dengan adanya kemajuan, sehingga 20 persen dibuat produk turunan, seperti pasteurisasi, mozarella, dan yoghurt. 80 persen lainnya kita jual ke industri,” jawab Rahmat.

KPBS sendiri memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) berkapasitas 25 meter kubik yang menggunakan metode pengolahan biologi, fisika dan kimia.

Hasil Pengecekan IPAL KPBS Oleh Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 18/Pangalengan

Anggota Satgas Citarum Sektor 21 Sub-18/Pangalengan melaksanakan giat pengecekan progress KPBS pasca saluran buangnya ditutup beberapa hari lalu.

Pengecekan yang turut disaksikan oleh awak media ini diawali ke saluran yang dicor, kemudian ke saluran yang sedang dibuat serta berlanjut ke IPAL.

Tampak ada dua buah bak aerasi yang beroperasi untuk proses biologi serta bak-bak lainnya untuk pengendapan dan proses kimia PAC.

Pada bagian outlet, ada bak pengambilan sampel serta bak indikator berisi ikan.

“Ya, hari ini kita melaksanakan giat pengecekan. Kita ingin membuktikan hasil kemarin. Ada pipa-pipa yang dicor. Kita lihat juga hari ini, hasil olahan limbahnya dalam kondisi jernih dan tidak berbau. Kedepannya tentu kita harapkan harus lebih sempurna lagi saluran-salurannya,” jelas Serma Ajang.

Satgas Citarum Harum Sektor 21 Subsektor 18/Pangalengan, Serma Ajang, menunjukan kondisi hasil olahan limbah IPAL KPBS yang diambil dari bak outlet, Sabtu (18/7/2020).
DLH Kabupaten Bandung Tutup 5 Titik Saluran KPBS, Ini Penjelasannya…

Penutupan beberapa titik saluran di KPBS oleh DLH Kabupaten Bandung, bukan tidak ada alasannya.

“KPBS ini memiliki IPAL, namun ada sebanyak 5 saluran yang diindikasikan menjadi sumber permasalahan,” kata Robby Dewantara melalui sambungan telepon, Sabtu (18/7/2020) malam.

“Saluran-saluran yang kita indikasikan itu, antara lain di inlet IPAL, dari ceceran pencucian tangki serta alat, yang keluar melalui drainase,” ungkapnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Robby Dewantara, “Tadinya yang akan kita eksekusi ada di satu titik, karena permasalahan di titik itu. Ternyata saluran itu digunakan oleh warga juga, ada air dari pasar, sehingga kalau kita tutup dikuatirkan ada masalah baru bagi warga yang disana. Lalu kita identifikasi titik-titik tertentu, dari arahan pimpinan, kita menghentikan di titik-titik parsial yang ada di perusahaan,” jelasnya.

“Jadi, kami menutup dulu titik-titik saluran pembuangan, termasuk drainase, sehingga menjadi tidak ada pembuangan dari KPBS,” ujarnya.

Pada kegiatan tersebut, diberi juga masukan-masukan kepada KPBS.

“Kita dari LH akan menetapkan titik-titik saluran sesuai dengan fungsinya. Jadi, nanti ada 3 saluran, yakni saluran full dari warga, saluran yang hanya dari outlet IPAL, dan saluran run off perusahaan, run off ini hanya boleh satu titik, tidak boleh beberapa titik, itu pun tidak full drainase, tapi wajib melalui sumur resapan, saat ini disana tidak ada sumur resapan, nah limpasannya baru ke sungai,” urai Robby Dewantara sambil mengingatkan agar saluran-saluran itu dinamai dan dihindarkan dari bocoran-bocoran.

Robby juga menegaskan tidak akan sungkan untuk menindak kembali bila ada pelanggaran yang terulang.

“Konsekuensi kalau ada problem atau pelanggaran, akan ditutup (saluran) semuanya. Itu akan ditetapkan, sanksinya sedang dalam proses, dalam hal ini kita sedang sikapi dengan pelanggaran lainnya, tidak hanya ini saja. Termasuk dokumen dan penanganan lumpur IPAL,” tegasnya.

Untuk sumber bau, lanjut Robby, pihaknya sudah mengetahui titiknya.

“Titik sumber bau kita sudah ketahui, yakni dari sumber limpasan ceceran air untuk pencucian dan air produksi, karena housekeeping-nya jelek banget,” ujar Robby Dewantara.

Masalahnya dari limbah perusahaan susu ini, menurut Robby salasatunya adalah bau.

“Karena masalahnya ini adalah bau, bau ini diketahui dari endapan genangan air limbah dari susu hasil pencucian,” ucapnya.

“Kalau disebutkan kenapa pencucian ini jadi masalah, karena air limbah yang dihasilkan KPBS ini murni dari pencucian. Susunya kan produksi untuk diminum. Masalahnya dari pencucian alat, pencucian tangki, pencucian kemasan dan ceceran. Itu air limbahnya,” pungkas Robby Dewantara.

[St]

Comments

comments