Citarum Harum Dan Pariwisata, Ini Kata Kadisparbud Bandung Barat

oleh -
Citarum Harum Dan Pariwisata, Ini Kata Kadisparbud Bandung Barat
Bupati Kabupaten Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna, saat berkunjung bersama Kadisparbud, Sri Dustirawati, ke Sanghyang Kenit, Cipatat, beberapa waktu lalu.

KBB, sorotindonesia.com,- Hadirnya Program Citarum Harum melalui Perpres No.15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Kerusakan DAS Citarum, telah membawa harapan baru bagi bangkitnya kejayaan Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat.

Pada tahun 2017 silam, sungai legendaris yang sarat dengan cerita bersejarahnya mulai dari KM “0” di Situ Cisanti Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung hingga ke Muara Gembong Kabupaten Bekasi, sempat viral mejadi salasatu sungai terkotor di dunia. Miris..

Padahal Sungai Citarum menghidupi kurang lebih 30 juta jiwa di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Kini segenap komponen masyarakat dan stakeholder terkait bahu membahu serta sangat berharap DAS Citarum menjadi kekuatan baru bagi Jawa Barat. Salasatunya adalah Kabupaten Bandung Barat yang terkenal memiliki banyak destinasi wisata alam yang luar biasa.

“Program Citarum Harum mudah-mudahan bisa berlanjut dan simultan dengan penambahan program berikutnya,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Bandung Barat (Kadisparbud KBB), Sri Dustirawati saat berbincang dengan sorotindonesia.com, beberapa waktu lalu.

“Ketika Program Citarum Harum dari sisi kebersihan lingkungannya sudah jalan, kemudian juga masyarakat di sekitarnya sudah tumbuh kepedulian dan kesadarannya untuk tidak sembarangan buang sampah, membuang sesuatu yang bisa mencemari dan merusak sungai, tentu harapannya ada nilai tambah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelas Sri.

“Masyarakat akan merasakan, ketika programnya sustainable dan Sungai Citarum bersih, akan ada nilai manfaat yang salasatunya dari sisi ekonomi. Karena saya dari dinas pariwisata, misalkan jika kita survei dari kawasan hulu Sungai Citarum hingga ke hilir, ada titik-titik lokasi strategis yang bisa kita kembangkan menjadi potensi destinasi wisata. Tentunya pengembangan yang melibatkan desa, kecamatan, kabupaten atau lintas kabupaten,” ujarnya.

Menurut Sri, pengembangan sektor pariwisata di sepanjang DAS Citarum akan mampu menjaga marwah keberhasilan program Citarum Harum.

“Pengembangan sektor pariwisata ini menjadi salasatu yang bisa menjaga keberhasilan Program Citarum Harum secara berkelanjutan. DAS Citarum semakin dilestarikan, semakin dijaga oleh masyarakat. Masyarakat juga akan memiliki potensi pendapatan untuk menyejahterakan,” harap Sri Dustirawati.

Dituturkan oleh Sri, salasatu faktor ketertarikan pengunjung ke wisata alam, adalah lingkungannya yang bersih serta masyarakatnya yang welcome.

“Wisatawan akan datang dan betah kalau misalnya lingkungan destinasi kondisinya bersih, aman, nyaman juga ada atraksi, misalnya yang bisa dikelola oleh pokdarwis (kelompok masyarakat sadar wisata),” ujar Sri lagi.

“Jadi, untuk pengembangan destinasi wisata ini yang terlibat tidak hanya pemerintah, tetapi pentahelix, ada akademisi, pengusaha, komunitas, dan juga tentunya teman-teman media,” terang Sri.

Kekuatan DAS Citarum juga menurut Sri Dustirawati tidak hanya sungainya, ada poin-poin lain yang bisa diunggulkan.

“Selain sungainya, tentu adalah bantaran sungai yang kini kondisinya sudah bagus dibandingkan sebelumnya. Sudah banyak pohon dan tanaman produktif yang tumbuh di bantaran Sungai Citarum, ada taman, kebun buah-buahan, dan mungkin juga kopi. Ini yang bisa menjadi daya tarik berbeda bagi wisatawan. Kalau misal hasilnya (buah-buahan dan kopi) dijual di tempat yang sudah direncanakan di tempat wisata dan dikemas bagus, itu nilai tambahnya luar biasa,” tutur Sri Dustirawati.

Potensi DAS Citarum Bagi Dukungan Pariwisata Di Kabupaten Bandung Barat

Terkait dengan DAS Citarum dan potensi pariwisata di Kabupaten Bandung Barat, lebih jauh dijelaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud), Sri Dustirawati.

“Ada beberapa geosite yang sebenarnya itu masuk DAS Citarum, salasatu contohnya adalah Sanghyang Kenit, yang merupakan salasatu dari 9 geosite dari Geopark Rajamandala. Itu bisa jadi salasatu daya tarik wisatawan karena merupakan Sungai Citarum purba sekitar jutaan tahun lalu, ada stalagmit di gua-nya, ada fosil terumbu karang, yang mengartikan bahwa itu dulunya terendam juga, karena Bandung Barat ini adalah bagian cekungan Bandung, area laut dangkal, ini bisa jadi wisata edukasi,” jelas Sri.

“Geosite ini dari mulai Sanghyang Heuleut, Sanghyang Kenit, Sanghyang Poek, itu adalah beberapa geosite yang sebetulnya bisa kita bikin geopark,” ujarnya.

Kawasan eksotik tersebut untuk saat ini pengelolaannya bekerjasama dengan pokdarwis, dan akan dikembangkan oleh pemerintah tahun 2021 mendatang.

“Ya, pengembangannya kita harus sinergi semua dengan dukungan pemberdayaan masyarakat. Misalnya, dari geosite ke geosite lainnya nanti wisatawan makannya dimana, mau menginapnya dimana, bisa di homestay, itu bisa menjadi salasatu pola pemberdayaan masyarakat juga. Masyarakat bisa diberdayakan, dan yang paling penting dengan adanya pandemi ini ekonomi masyarakat bisa bertambah,” kata Sri Dustirawati.

Keindahan Aliran Sungai Citarum Purba di Sanghyang Kenit

Dibalik kondisi Sungai Citarum yang sudah tercemar, ternyata ada aliran sungai tersembunyi yang tersingkap dan banyak menyimpan cerita didalamnya, Sanghyang Kenit. Jangan tanya pemandangan dan keindahan alamnya. Di lokasi yang berada di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ini, pengunjung bisa menikmati suasana ber-arung jeram dan menikmati keindahan pemandangan di dalam goa, tebing dan bebatuan.

Menariknya, masuk ke mulut goa menggunakan perahu (LCR), membawa sensasi luar biasa, pengunjung disini akan disambut dinding bebatuan stalaktit yang megah di dalam goa.

Goa Sanghyang Kenit

Destinasi ini sempat dikunjungi oleh Bupati Kabupaten Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna beserta rombongan, antara lain Kadisparbud Sri Dustirawati, dan Bob Doank pemilik Rumah Seniman, Selasa (27/10/2020) lalu.

Bupati tampak memperhatikan secara mendalam suasana di Sanghyang Kenit ini dan sempat berkeliling.

“Kita sekarang ada di Sanghyang Kenit, dengan pemandangan batuan yang sangat bagus. Lokasinya ini ada di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Desa Rajamandala Kulon, Cipatat. Tahun depan mudah-mudahan kita akan coba kembangkan, untuk menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri,” jelas Aa Umbara.

“Suasana disini indah sekali,” pungkasnya.

[st]

Comments

comments