Bagaimana Menduga Keberadaan Ikan Di Laut Agar Mudah Dicari Nelayan? Ini Jawabannya

oleh -

Ikan menjadi sumber pangan yang cukup penting dalam menunjang pemenuhan kebutuhan manusia. Secara umum produksi ikan terdiri dari dua proses, yakni melalui perikanan budidaya dan perikanan tangkap.

Perikanan budidaya dilakukan dalam wadah terkontrol yang dilakukan oleh pembudidaya ikan. Sedangkan perikanan tangkap dilakukan melalui penangkapan ikan liar yang ada di alam baik di perairan laut, sungai, waduk, danau ataupun situ yang dilakukan oleh nelayan.

Perikanan tangkap memiliki tantangan tersendiri dalam proses produksinya. Keberadaan ikan yang ada di alam liar membuat bisnis ini memiliki ketidakpastian yang tinggi. Hal ini terjadi karena kegiatan penangkapan ikan bergantung kepada kondisi alam. Kondisi ini dipengaruhi oleh kondisi oseanografi seperti suhu, arus, pasang surut dan gelombang.

Selain itu, kondisi sumberdaya ikan yang memiliki stok, pergerakan dan kelimpahan tertentu juga membuat nelayan memiliki ketidakpastian dalam memperoleh hasil tangkapannya. Ketidakpasatian ini bisa menyebabkan bisnis perikanan tangkap menjadi tidak efisien. Menurut Simbolon (2019) kegiatan penangkapan ikan menjadi tidak efisien ketika perlu waktu yang cukup banyak dalam menemukan tanda-tanda alam sehingga menyebabkan trip penangkapan menjadi lebih lama, konsumsi bahan bakar dan tenaga kerja yang diperlukan menjadi lebih banyak serta hasil tangkapan yang tidak pasti.

Gambar 1. Kegiatan bongkar muat hasil tangkapan cumi-cumi di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta

Gambar 2. Kegiatan bongkar muat hasil tangkapan ikan layang di Pelabuhan Perikanan Pekalongan

Berbagai upaya perlu dilakuan untuk meningkatkan efisiensi dalam perikanan. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan sumberdaya ikan menjadi sangat penting. Dengan hal tersebut prediksi keberadaannya dapat diketahui baik secara spasial (area) dan temporal (waktu).

Apabila diidentifikasi, ada banyak faktor yang mempengaruhi keberadaan stok ikan di suatu perairan. Yang pertama ada faktor biologi yang meliputi natural mortality (kematian alami), keberadaan predator, migrasi (schooling migration) dan kelimpahan fitoplankton ditandai dengan kandungan konsentrasi klorofil-a. Kedua, yaitu parameter fisika oseanografi meliputi suhu, kedalaman, pasang surut, gelombang, angin dan arus. Keberadaan Perairan Indonesia yang berada diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik menjadikannya dipengaruhi oleh dinamika kedua perairan tersebut. Angin Muson Barat dan Muson Timur juga menjadi musim angin yang mempengaruhi dinamika Perairan Indonesia yang pada akhirnya mempengaruhi pergerakan dan kelimpahan sumberdaya ikan. Ketiga, parameter kimia oseanografi diantaranya salinitas dan oksigen terlarut.

Gambar 3. Faktor yang mempengaruhi stok sumberdaya ikan di perairan (Simbolon 2012)

Faktor-faktor tersebut bisa dijadikan parameter-parameter yang digunakan dalam menduga keberadaan sumberdaya ikan baik secara spasial maupun temporal. Teknologi penginderaan jauh (remote sensing) saat ini menjadi teknologi yang diandalkan dalam mengambil data dari permukaan bumi yang luas termasuk bagian perairan. Dengan teknologi penginderaan jauh proses pengambilan data menjadi lebih efisien dan menyeluruh. Beberapa data faktor penentu sumberdaya ikan dapat diperoleh dengan metode penginderaan jauh. Data inilah yang dijadikan bahan analisis sehingga dapat diperoleh peta sebaran ikan secara spasial dan temporal.

Gambar 4. Mekanisme penggunaan data penginderaan jauh (sumber: gisgeography.com)

Di Indonesia, lembaga resmi yang melakukan penelitian pendugaan daerah penangkapan dengan data penginderaan jauh, salah satunya adalah Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (http://bpol.litbang.kkp.go.id/0). Sebagai contoh pendugaan sebaran ikan tuna yang dilakukan oleh BROL  pada daerah penangkapan ikan tuna mata besar (bigeye tuna) di wilayah perairan Samudra Hindia. Penyusunan peta didasarkan pada analisis suhu laut pada kedalaman 150 meter.

Secara berkala BROL meluncurkan informasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (Peta PDPI) sebagai inovasi teknologi penangkapan ikan berupa peta tematik yang berisikan informasi sebaran lokasi prediksi daerah penangkapan ikan pelagis di perairan Indonesia. Peta PDPI juga memberikan informasi prediksi arah angin dan tinggi gelombang sehingga nelayan dapat memperkirakan kondisi cuaca di sekitar lokasi penangkapan ikan untuk keselamatan pelayaran. Berbekal informasi Peta PDPI, nelayan dapat mengetahui dan menuju daerah fishing ground dengan lebih cepat dan tepat sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan penangkapan ikan, khususnya penghematan bahan bakar minyak (BBM). Penyusunan Peta PDPI didasarkan pada analisis front suhu dan kesuburan perairan menggunakan data citra satelit Aqua/Terra MODIS (MODerate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan Suomi NPP VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) (bpol.litbang.kkp.go.id).

Proses transfer informasi dan teknologi ini dilakukan melalui berbagai metode baik melalui aplikasi, sistem informasi di pelabuhan maupun melalui alat bantu penangkapan yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta yang bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Aplikasi Laut Nusantara menjadi platform yang dapat digunakan untuk mengakses infomasi peta daerah penangkapan ini, ini merupakan bentuk kerjasama BROL dengan PT XL Axiata. Selain itu perusahaan yang memproduksi alat bantu penangkapan Yukom VMA (Vessel Multi Aid) juga mengakses informasi Peta PDPI ini di alat tersebut.

Gambar 5. Aplikasi Laut Nusantara sebagai platform yang dapat mengakses Peta PDPI. Sumber: brol.litbang.kkp.go.id

Gambar 6. Yukom Vessel Multi Aid yang merupakan alat bantu penangkapan untuk mempermudah nelayan menemukan daerah penangkapan ikan

*****

Penulis : Lantun Paradhita Dewanti, S.Pi., M.EP

(Dosen Perikanan Tangkap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran)

Comments

comments