Ini, IPAL Percontohan Kodam Siliwangi

oleh
Proses Aerasi IPAL PT PMTI Majalaya

KAB. BANDUNG,- Perusahaan tekstil PT PMTI (Putera Mulya Terang Indah) yang pada awal tahun 2018 lalu sempat masuk dalam daftar 31 perusahaan pembuang limbah ke Sungai Citarum versi hasil temuan tim survey dari Kodam Siliwangi, meski telah diklarifikasi, kini pengelolaan IPAL-nya sudah bisa dibuktikan menjadi salasatu yang dinilai terbaik di wilayah Majalaya.

Hal ini setelah Kodam Siliwangi melalui Satgas Citarum Sektor 4 yang dipimpin oleh Kolonel Inf Kustomo Tiyoso sejak Februari lalu menjadikan PT PMTI sebagai percontohan pengolahan limbah yang dinilai ramah lingkungan. “Semenjak ditunjuk jadi percontohan pada Februari 2018 oleh Pangdam Siliwangi kala itu Pak Doni Monardo, pengolahan limbah kami saat ini menggunakan proses fisika dan biologi. Kami sudah hilangkan proses kimia,” kata Asep Suhardi, Manager Engineering PT PMTI, mewakili pimpinan perusahaan saat wawancaranya dengan wartawan, Jumat (13/7/2018).

Ditambahkan oleh Asep, saat menggunakan metode fisika, kimia dan biologi, cost yang dikeluarkan lebih tinggi dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan. “Setelah diberikan advice oleh Kodam Siliwangi melalui Sektor 4 Satgas Citarum, itu kami bisa memangkas biaya antara 30 hingga 40 persen. Yang saya potong adalah biaya untuk proses kimia,” ungkapnya.

“Saat trial dua bulan pertama, kami lakukan pengecekan hasil limbah ke lab Sucofindo, hasilnya sudah memenuhi standar baku mutu, dan saya sudah laporkan itu ke Pangdam dan Dansektor 4 Pak Kustomo,” ujarnya menambahkan.

Pada transisi perubahan system ini, dikatakan oleh Asep, pihaknya mengurangi produksi terlebih dahulu. “Awalnya kita mengurangi produksi, dari 90 persen ke 70 persen dulu, karena untuk penyesuaian. Ada perubahan instalasi, infrastruktur termasuk juga kita taat kepada LH, LH mensyaratkan satu perusahaan satu outpal, tidak boleh bergabung dengan warga, tidak boleh bergabung dengan dengan pabrik lain, jadi kita ada titik koordinat pembuangan limbah dibelakang. Setelah kapasitas IPAL sebesar 2.800 M3 stabil baru kita start lagi,” terangnya.

Diuraikan lebih lanjut oleh Asep,” Investasi untuk perubahan system ini memakan biaya sekitar Rp 400 juta. Jadi, setelah kita ditunjuk, kita ada beban tersendiri. Akhirnya manajemen menyetujui untuk investasi tersebut dan dananya langsung disediakan,” ucapnya.

Perubahan system ini dirasakan manfaatnya oleh PT PMTI. “Kini kami bisa melakukan recycle, meski masih sebesar 50 persen. Sisanya walau sudah bening terpaksa kami buang, karena bak penampungannya juga sudah penuh. Penghematan biaya darisini bisa kita tekan hingga 40 persen,” imbuhnya. Dijelaskan lagi oleh Asep, pihaknya kini sedang membangun fasilitas tambahan agar bisa melakukan recycle hingga 100 persen, “Direncanakan pada bulan November 2018 kami sudah 100 persen recycle,” jelasnya.

Menariknya, pengelolaan IPAL di PT PMTI ini sudah menggunakan aplikasi secara computerized dan CCTV terpasang dibeberapa sudut, untuk pengecekan diantaranya tingkat pH air, suhu, COD. Selain itu di bak sedimen hidup beragam jenis ikan. Termasuk juga di outpal.  “Jika teridentifikasi pH tinggi di proses IPAL, maka di produksi akan muncul sinyal, begitupan jika di bak penampungan sudah penuh,” kata Asep.

Dikesempatan peninjauan system IPAL, awak media mendapatkan penjelasan lebih rinci dari Asep, dari mulai air limbah yang keluar dari ruang produksi hingga diolah dan kembali ke bak air baku untuk diolah kembali dan sebagian keluar lewat outpal. Termasuk melihat ruang control IPAL. Disini ia menjelaskan, “Contoh, jika pH naik secara otomatis pompa asam akan bekerja dan alarm warning mengirimkan sinyal. Kami juga menyediakan alat portable untuk pengecekan pH, COD dan TSS. Selain itu alat pengukur ditempat aerasi proses biologi. Karena di aerasi itu perlu untuk mengukur kadar oksigen,” terang Asep.

Manager Engeneering PT PMTI, Asep Suhardi, saat menjelaskan operasional ruang kontrol IPAL kepada awak media, Jumat (13/7/2018).
Manager Engineering PT PMTI, Asep Suhardi, saat menjelaskan operasional ruang kontrol IPAL kepada awak media, Jumat (13/7/2018).

“System kami ini bisa dilakukan pengecekannya secara online, jadi kami dapat mengetahuinya meski sedang tidak berada didalam perusahaan. Program dan system ini kita bangun sendiri secara bertahap selama kurang lebih 3 tahun dan masih dalam tahap penyempurnaan.” ucap Asep lagi.

Diakui oleh Asep, sudah ada beberapa perusahaan yang melaksanakan studi banding ke IPAL di perusahaannya tersebut. “Saat ini sudah beberapa perusahaan tekstil yang visit kesini untuk studi banding atas izin Dansektor. Diantaranya perusahaan dari Cimahi, Majalaya, bahkan ada juga yang dari Karawang, termasuk juga dari pabrik Djarum,” ungkapnya kepada media.

Tekait dengan optimalisasi IPAL hingga menghasilkan output yang jernih, diterangkan lagi oleh Asep, “Dari awal kita melakukan tenik pengolahan fisika, biologi dan kimia. Saat itu kita juga muncul foam. Setelah itu kita ditunjuk oleh Kodam III sebagai percontohan, dan kita mengikuti dan mendukung program Citarum Harum ini sehingga kami punya beban moral terhadap masyarakat, dan kita mengikuti pola-pola dilapangan serta melaksanakan anjuran itu sehingga kita melakukan perubahan teknis dilapangan dengan system fisika dan biologi. Hasilnya Alhamdulillah bisa masuk baku mutu. Kemudian juga kita bisa menghemat biaya. Semenjak menjadi percontohan, kami merasakan manfaatnya, artinya kita bisa memanfaatkan air limbah yang diolah kembali dan dipakai untuk hasil produksi sebesar 50 persen,” urainya. “Kita selaku perusahaan, ini sudah menjadi komitmen kami terhadap lingkungan bahwa kita juga punya visi dan misi, kita menghasilkan produk yang terbaik dan tidak mencemari lingkungan. Artinya kami berkomitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekosistem,” tutupnya.

Dansektor 4 Satgas Citarum Kolonel Inf Kustomo Tiyoso di kontrol IPAL PT PMTI
Dansektor 4 Satgas Citarum Kolonel Inf Kustomo Tiyoso

Dikesempatan yang sama, Dansektor 4 Kolonel Inf Kustomo Tiyoso yang ikut hadir mendampingi perwakilan perusahaan dan awak media, menanggapi perkembangan perusahaan satu-satunya saat ini yang dijadikan contoh oleh Kodam Siliwangi, “Trial ini sudah berjalan kurang lebih 5 bulan. Setiap saat dari pihak perusahaan memberikan laporan kepada saya, bagaimana pengolahan limbah yang ada dan bagaimana output-nya dari hasil IPAL. Ini juga yang kami laporkan kepada pimpinan supaya mengetahui bahwa untuk percontohan dari Kodam ini tidak main-main. Artinya, betul-betul layak. Tetapi dari pihak PMTI tidak semua hasil pengolahan IPAL dibuang ke sungai. Mereka sudah melakukan recycle, air limbah itu ditarik kembali untuk diolah lagi. Ini yang kita harapkan, jadi tidak mengambil lagi air permukaan dan memanfaatkan air limbah untuk diolah kembali,” jelasnya.

Dilanjutkan oleh Kustomo, “Ini bagus, jadi tidak membebani air permukaan, dan tentunya dari perusahaan juga ada nilai positif, cost-nya bisa lebih murah,” lanjutnya.

Untuk saat ini, diungkapkan oleh Kustomo, Kodam Siliwangi baru menangani satu perusahaan yang dijadikan percontohan. “Untuk saat ini belum ada lagi, baru PT PMTI,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada hari, Selasa (8/5/2018), Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, SH, M.Tr(Han) pernah berkunjung ke PT PMTI untuk memastikan dan melihat langsung pengolahan IPAL di perusahaan tersebut.[St]

IPAL PT PMTI

 

Comments

comments