Yudi Fadillah : Covid-19 Itu Bukan Fatamorgana, Tapi Benar Ada dan Nyata

oleh -
Yudi Fadillah : Covid-19 Itu Bukan Fatamorgana, Tapi Benar Ada dan Nyata
Dr(C)Yudi A Fadillah

BANDUNG,- Mendengar cerita penyintas Covid-19 dari tokoh yang satu ini, Dr (C) Yudi A Fadillah, M.Si., mungkin bisa menjadi pembelajaran berharga buat masyarakat yang hingga kini abai terhadap protokol kesehatan, terlebih bagi yang masih meragukan terkait keberadaan virus berbahaya dan sangat menular ini, meski korban akibat terpapar Covid-19 di tanah air jumlahnya tidak sedikit.

“Saya tidak tau awal tertular Covid-19 darimana. Padahal di kantor dan di lingkungan saya merasa sudah mengikuti protokol kesehatan,” kata Yudi Fadillah, Camat Cangkuang, Kabupaten Bandung, mengawali ceritanya disela kegiatan Citarum Harum, Sabtu (5/6/2021).

Ia sendiri awalnya merasa tidak enak badan, setelah diperiksakan, ternyata reaktif dan terkonfirmasi Covid-19 dan hingga selama dua minggu lamanya terbaring di rumah sakit berjuang melawan sakit yang dideritanya.

“Saya melihat Covid-19 ini bukan fatamorgana, tapi benar-benar nyata. Kenapa saya katakan seperti itu, karena masih banyak orang yang masih menganggap remeh dan tidak percaya, jujur saja saya kasihan kepada orang yang seperti itu. Saya selaku yang pernah mengalami terpapar virus itu secara langsung, meminta agar masyarakat mempercayai keberadaan Covid-19 tersebut,” ujar Yudi Fadillah.

Dikisahkan oleh Yudi lebih lanjut pengalamannya, bahwa kurang lebih dua minggu ia harus dirawat di rumah sakit dengan keadaan yang tidak mudah serta dampak yang dirasakan setelahnya.

“Saya terkena Covid-19 sekitar 23 Januari 2021 lalu dan harus terbaring selama 12 hari di Rumah Sakit Santosa Bandung, ditambah 2 minggu menjalani isolasi mandiri. Lebih dari itu, saya terkena long covid, yang saya rasakan seperti daya ingat jadi menurun, bicara jadi agak susah, sering pusing-pusing dan banyak keringat. Menurut dokter, long covid itu 3 sampai 6 bulan,” ucapnya.

“Tiga minggu pertama berat bagi saya, seminggu merasakan sesak nafas dan selalu berkeringat sehingga harus sering ganti baju. Pokoknya rasanya itu sangat tidak enak. Tapi sekarang alhamdulillah sudah berangsur ada perubahan,” terangnya.

“Bersyukur kepada Allah SWT, saya masih diberi kesempatan berinteraksi lagi dengan masyarakat luas, dan memohon kepadaNya umur saya untuk kemanfaatan. Cobaan saya menghadapi Covid-19 tentu perlu dimaknai, dengan begini, ya harus lebih berhati-hati lagi,” beber Yudi Fadillah.

Kembali ke awal tertular, Yudi bercerita bahwa dalam menjalankan tugasnya di kantor, ia kerap menyampaikan sosialisasi protokol kesehatan 5 M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas).

“Di kantor itu kan kita menyosialisasikan agar kita ketat menerapkan 5 M, ternyata mungkin saya tidak menyadari terpapar saat beraktifitas interaksi dengan warga atau dengan masyarakat lainnya. Ya, deteksinya sulit, tapi indikasinya dari sana,” jelas Yudi.

Ia pun menegaskan lagi kepada masyarakat agar tidak menganggap sepele terkait dengan protokol kesehatan.

“Apa yang sudah diarahkan oleh pemerintah, yakni 3M dan 3T harus diterapkan, jadi jangan dianggap sepele. Harus waspada agar bisa melindungi diri dan orang lain supaya tidak tertular Covid-19,” pesannya.

Untuk di Kecamatan Cangkuang sendiri, diakui oleh Yudi Fadillah, ada peningkatan kasus terkonfirmasi Covid-19 pasca libur Hari Raya Idul Fitri.

“Ada peningkatan, daerah kami tadinya zona hijau sekarang berubah statusnya jadi zona kuning, dan ada satu desa yang zona merah,” ungkapnya sambil mengingatkan peran desa sebagai garda terdepan dalam PPKM mikro untuk penanganannya dari sumber yang ada.

[st]

Comments

comments