Silatnas III Bu Nyai Nusantara, Bahas Aneka Masalah Santri Putri

oleh -
oleh
Poster Silatnas III Bu Nyai Nusantara (ist)

Semarang | sorotindonesia.com , Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan belakangan ini menuai sorotan lantaran banyak terjadi peristiwa buruk yang mencuat, utamanya santri putri. Masih lekat dalam ingat masyarakat adanya kasus kekerasan seksual pada santri putri sebagai salah satu contohnya.

Namun alih-alih terhadap korban, perhatian publik justru cenderung kepada pelaku. Pelaku dihujat, pemerintah turun tangan, norma hukum ditegakkan. Ketika pelaku dijatuhi hukuman berat, masyarakat merasa sudah puas. Penyembuhan psikologi korban pun terlupakan.

Padahal, mestinya yang harus lebih diperhatikan adalah korbannya. Si korban sudah pasti menjadi terganggu kegiatan belajarnya, kacau jadwal ngajinya. Juga menderita tekanan batin alias trauma kejiwaan yang sangat berat. Hal ini tentu mengganggu masa depannya.

Pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), sangat terbatas aksesnya memberi advokasi, terlebih untuk melakukan pencegahan kasus di pondok pesantren. Satu-satunya pihak yang paling dekat pada masalah tersebut hanya Ibu Nyai. Pengasuh pesantren putri inilah yang kemudian hadir untuk berusaha mengatasi masalah tersebut sebagai seorang ibu yang berjuang selama dua puluh empat jam sehari untuk anak-anaknya dalam hal ini para santri putrinya.

Para pengasuh pesantren putri (Bu Nyai) dalam naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), yaitu lembaga Nahdlatul Ulama (NU) yang mengurusi Asosisasi Pondok Pesantren, akan membahas segala persoalan pesantren putri dan peran Bu Nyai sebagai ulama perempuan dalam acara Silaturahim Nasional Ketiga (Silatnas III) Bu Nyai Nusantara, di Hotel Patra Semarang, besok Senin hingga Selasa (7-8/11/2022).

Wakil Ketua Panitia Silatnas III Bu Nyai Nusantara, Nyai Hj. Royannach Ahal menuturkan tanggungjawab mengasuh santri putri jauh lebih berat dari santri putra. Santri putri, ujar Pengasuh Ponpes Putri Permata, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah ini punya masalah lebih banyak, dan penanganannya lebih sulit daripada santri putra.

Bu Nyai asal pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Jabar yang yang akrab dipanggil Ning Yannah ini memberi contoh ketika terjadi kasus perundungan (bulliying), butuh waktu lama menyembuhkan trauma korbannya.

“Kalo santri putra, ada yang diejek sampai berkelahi, mudah selesai rukun kembali. Sedangkan santri putri, diejek temannya, bisa ngambek tak mau mengaji berhari-hari bahkan memutuskan keluar dari pondok pesantren,” tutur istri Kiai Mujibur Rachman Ma’mun Kajen, Pati ini.

Lebih jauh Ning Yannah membeberkan, terkadang ditemukan santri putri melanggar aturan atau nakal misalnya, mengatasinya tidaklah mudah. Bisa tidak mempan ditakzir (diberi sanksi oleh pengurus). Harus memakai pendekatan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh wanita kepada wanita, ibu kepada putrinya.

“Santri putri bermasalah di pondok, kerapkali setelah ditelusuri sumber masalah awalnya dari rumah, karena bapak dan ibunya tidak rukun atau _broken home_ begitu, disitulah kemudian bu nyai ikut serta berperan mengisi kekosongan tsb untuk santri putri yang merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya” tutur Yannah usai rapat panitia panitia Silatnas III Bu Nyai Nusantara di hotel Pandan Aran Semarang, Jum’at, (4/11/2022).

Dia juga membeberkan, Silatnas III ini juga akan dimeriahkan pameran produk usaha kecil baik berupa makanan, minuman, desain pakaian muslimah dan jilbab hasil karya para pengasuh perempuan pesantren.

Dari bazar dan ekshebishon perempuan pesantren tersebut diharapkan akan menjadi awal yang baik sehingga terjalin program berkelanjutan bagi ekonomi kreatif mandiri perempuan pesantren dibawah naungan RMINU, sehingga itu dianggap bagian penting untuk penguatan ekonomi kreatif yang perlu dibahas dalam salah satu Halaqoh yang ada dalam rangkaian acara silatnas 3 Bu nyai nusantara. (rq)

Comments

comments