Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 Kini Miliki Pos Baru, Dilengkapi Demplot Budidaya Ikan Lele

oleh -
Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 Kini Miliki Pos Baru, Dilengkapi Demplot Budidaya Ikan Lele

KAB. BANDUNG, sorotindonesia.com,- Jajaran Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07/Cisangkuy kini telah memiliki pos yang baru untuk menunjang kegiatan dan berfungsi untuk monitoring daerah aliran sungai.

Pos tersebut berada di Jl. Waas RT 05 RW 03, Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk. Seturut pantauan awak media, kondisi bangunannya sendiri tampak cukup baik setelah sedikit demi sedikit mendapat sentuhan dari anggota Satgas. Posisinya pun cukup strategis karena berdampingan langsung dengan aliran Sungai Cisangkuy dan pos pengamatan kualitas air sungai berbasis IT hasil kerjasama DLH dan pihak ketiga.

“Ini adalah bangunan water intake Patal Banjaran yang sudah lama tidak difungsikan,” kata Serka Ridwan, didampingi Serka Suyatman, Jumat (6/11/2020).

“Ya, awalnya tempat ini menjadi titik kumpul anak-anak muda dengan tujuan yang ngga jelas. Lalu kita minta izin ke perusahaan untuk dapat kita manfaatkan sebagai pos monitoring untuk kegiatan Citarum Harum. Setelah itu kita rapihkan,” tambahnya.

Alhamdulillah, dengan adanya pos ini, masyarakat sudah banyak yang berkunjung, meski kondisinya masih perlu pembenahan,” ujar Serka Ridwan.

Menariknya, dalam area lingkungan bangunan itu ada bak permanen berukuran sekitar 6 meter x 3 meter dengan kedalaman lebih dari satu meter sebanyak dua bak, serta dua bak berukuran 2 meter x 2 meter.

“Bak ini akan kita manfaatkan sebagai demplot budidaya ikan lele menggunakan BIOS 44 DC. Prosesnya bekerjasama dengan warga, yang tentu hasilnya nanti bisa turut dinikmati oleh masyarakat sekitar,” jelas Serka Ridwan.

Patroli Aliran Sungai

Setelah melihat-lihat pos, anggota Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 mengajak awak media untuk ikut patroli sungai ke Desa Rancaengang, tepatnya di sekitar jembatan Waas yang kemarin ada laporan dari masyarakat di media sosial bahwa kondisi airnya berwarna hitam.

Pada pengecekan tersebut, air tampak berwarna normal, namun dipenuhi oleh ikan sapu sapu yang timbul tenggelam.

“Terimakasih kepada warga masyarakat yang sudah aktif dan partisipatif terhadap kondisi air sungai. Bila ada perubahan warna atau berbau, masyarakat melaporkannya kepada kami,” ucap Serka Ridwan.

Diakui oleh Serka Ridwan bahwa perubahan warna air pernah terjadi sekitar sebulan yang lalu, pada puncak musim kemarau.

“Kita melihat dan juga mendapat laporan dari warga warna air sungai berubah, segera kita melakukan penelusuran ke outfall pembuangan hasil olahan limbah pabrik, antara lain Papyrus, pabrik kecap Weharima Langgeng Lestari, Sudong, dan IPAL Adetex. Termasuk ke lokasi sungai yang tempo hari pernah dilakukan pengerukan untuk mencari saluran limbah siluman,” kata Serka Ridwan.

“Namun hasilnya di outfall kondisi air yang keluar berwarna bersih. Tapi tetap kita ingatkan kepada pihak pabrik agar tidak main-main. Komitmen kami tidak berubah, menindak tegas industri yang membuang limbah kotornya ke aliran sungai,” tekannya.

Monitoring Online Kualitas Air Sungai Cisangkuy

Pada kesempatan itu, awak media melihat kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Unilab Perdana dan PT Has Environmental di pos monitoring online kualitas air sungai. Ada sekitar 5 personel yang sedang bekerja.

Alat yang terpasang diantaranya adalah seperangkat kabel yang dilindungi pipa paralon yang masuk ke aliran sungai. Jaringan kabel tersebut terhubung langsung ke dalam pos yang terdapat meja panel bertuliskan Water Quality Monitoring System.

“Kegiatan hari ini, kami sedang mengerjakan kalibrasi dari online monitoring beberapa sungai di seluruh Indonesia, salasatunya di Kabupaten Bandung ini,” kata Sevi Mulyanto, surveyor PT Unilab Perdana saat diwawancarai oleh wartawan.

“Jadi, petugas dari PT HAS Environmental bertugas untuk mengkalibrasi alat online monitoring yang sudah terpasang. Selanjutnya, kami dari PT Unilab Perdana melakukan sampling dan analisa, dimana data tersebut sebagai pendukung untuk proses kalibrasi. Alat online monitoring ini hasilnya akan bisa terintegrasi dengan pusat dengan menggunakan internet,” jelas Sevi sambil menunjuk alat yang berada di pos.

Alat tersebut diklaim dapat mendeteksi kualitas air sungai, seperti diantaranya parameter pH, BOD, COD, nitrat, kekeruhan dan suhu.

“Ya, perangkat yang dikalibrasi ini diantaranya ada parameter pH, BOD, COD, nitrat, kekeruhan dan suhu. Alat ini juga bisa mendeteksi jika volume air naik, atau jika ada banjir bandang. Terus misalnya pH air awalnya 7, kemudian ada pabrik yang jahil sehingga turun menjadi 5, nanti ketahuan jam berapa itu mulai ada perubahannya, kita ada track record, sehingga bisa ditelusuri asalnya,” jelas Sevi Mulyanto.

Sevi Mulyanto, surveyor PT Unilab Perdana (kiri), saat memberikan keterangannya kepada wartawan.

Pada pengecekan kualitas air sungai tersebut, awak media sempat berbincang dan melihat proses hasil pengecekan yang terbaca lewat layar semodel smartphone.

“Perubahan kualitas air monitoringnya ada, tiap saat,” kata Vikron, technical support dari Has Environmental.

Saat ditanya hasil update pengecekannya, sambil memperlihatkan kepada awak media, dijelaskannya, “Hasilnya saat ini alhamdulillah bagus, cuma DO-nya turun ke angka 3, tapi itu masih bagus, kisaran range-nya plus minus 2. pH-nya juga bagus, diangka 7,4. Kemudian salinitasnya juga bagus, amonium dan logamnya juga lumayan bagus. Ini pembacaan dari dua sensor yang sedang dikalibrasi,” pungkas Vikron.

Dengan terpasangnya alat monitoring online kualitas air sungai tersebut, tentu diharapkan bisa membantu pihak Lingkungan Hidup dan stakeholder lainnya dalam pengambilan keputusan dan langkah secara cepat dan tepat. Karena pemanfaatan air sungai sangat vital bagi masyarakat, antara lain untuk pertanian dan perikanan.

[st]

Comments

comments