Pangkas Rambut Siliwangi 99, Maman : Insya Allah, Tetap Optimis Di Masa Pandemi

oleh -
Pangkas Rambut Siliwangi 99, Maman : Insya Allah, Tetap Optimis Di Masa Pandemi
Maman saat melayani pelanggannya.

BANDUNG – Pandemi COVID-19 membawa sejumlah risiko untuk setiap pekerjaan dan profesi, termasuk tukang pangkas rambut atau penata rambut di salon dan barber shop.

Profesi tersebut jelas sulit untuk menerapkan jaga jarak dengan pelanggan dalam melakukan pekerjaannya.

Satu hal lain lagi, pangkas rambut ini bagi kebanyakan orang adalah suatu kebiasaan rutin yang kerap dianggap enteng, tetapi tidak bisa dilakukan oleh sendiri.

Maka dari itu, sering muncul dalam pemikiran masyarakat, apakah aman jika gunting rambut di tukang cukur atau salon selama pandemi?

Mungkin tidak akan menjadi masalah bila ada orang yang terbiasa dengan rambut panjang atau gondrong. Tetapi akan jadi soal bagi sebagian orang, seperti pelajar, karyawan kantoran, juga pegawai.

Persoalan lain timbul karena dampak dari pandemi ini, beberapa waktu lalu banyak tukang pangkas rambut dan salon yang terpaksa harus tutup sementara dikarenakan sepinya pelanggan serta mengikuti arahan pemerintah selama PPKM.

Namun kini dengan melandainya kasus Covid-19, lambat laun banyak yang kembali buka dan sedikit demi sedikit pelanggan kembali berdatangan.

“Selama pandemi ini, pelanggan yang datang jumlahnya turun,” kata Maman (40), pemangkas rambut di Siliwangi 99, Jl. Babakan Sari, Kiaracondong, Kota Bandung, (17/12/2021).

Bahkan, lanjut Maman, selama PPKM darurat, tempat usahanya tutup.

“PPKM darurat, kita juga tutup hampir satu bulan,” keluh lelaki asal Tasikmalaya ini.

Tetapi ia memahami tujuan dari pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Ya, kami memaklumi kebijakan pemerintah tersebut untuk mengendalikan Covid-19,” ucap Maman.

Diungkapkan oleh Maman, bahwa pelanggan yang biasa datang kepadanya adalah karyawan pabrik, mall dan warga masyarakat sekitar.

“Biasanya yang kesini adalah karyawan pabrik, mall dengan warga di sekitar sini. Sejak kami buka lagi, sekitar September, yang datang tidak sebanyak ketika sebelum pandemi. Saya dengar sih pekerja banyak yang dirumahkan,” kata Maman.

Pangkas Rambut Siliwangi 99 sendiri sudah beroperasi sejak empat tahun lalu dengan status kontrak tempat usaha. Sebelum pandemi, yang bekerja ada dua orang. Namun saat ini dikerjakan sendiri oleh Maman.

“Kita dulu bisa melayani rata-rata lebih dari 30 kepala per hari, tetapi sekarang belum bisa menyentuh lagi angka itu, dapat 10 sudah bagus. Insya Allah, kita tetap optimis,” ujar Maman.

Terkait ancaman virus corona, Maman juga menyadari kondisi tersebut.

“Ya, disadari kondisi pandemi ini bisa mengancam kesehatan dan keselamatan saya. Oleh karena itu, alhamdulillah, saya sudah divaksin lengkap. Agar pelanggan juga aman, saya sediakan hand sanitizer dan selalu bekerja pakai masker juga sarung tangan. Habis itu, kursi dan alat cukur saya bersihkan. Selain itu, kita sediakan kursi di luar supaya pelanggan lain bisa menunggu giliran di luar ruangan agar di dalam tidak berkerumun,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi pelanggan yang masih ragu untuk berkunjung langsung ke tempat usahanya karena alasan privasi, kini Maman juga memasang nomor telepon yang sewaktu-waktu bisa dihubungi atau dipanggil untuk janji temu.

“Silahkan, saya sudah pasang nomor telepon untuk sewaktu-waktu dipanggil atau janji temu,” pungkasnya.

Barber Shop Preen

Kondisi hampir serupa juga dialami oleh Barber Shop Preen, yang lokasinya berada di jalan utama Gatot Subroto No 177, Kota Bandung.

Spesialis pangkas rambut yang efektif beroperasi pada bulan Oktober 2020 ini, masih menunggu momentum untuk bisa meraih hasil yang optimal.

“Saat ini, ya untuk bisa sampai menutup operasional dan memenuhi kebutuhan hidup barber man, kita bersyukur,” kata Raga (36), pemilik Barber Shop Preen.

“Saya paham kondisi pandemi ini orang ada yang parno untuk berdekatan dengan orang lain, makanya dari awal buka sampai sekarang tidak ada target muluk-muluk,” tambahnya.

Diungkapkan oleh Raga bahwa semenjak dibuka pada Oktober 2020 lalu, pengunjung yang datang masih rata-rata diangka enam orang per hari.

“Awal buka, yang datang umumnya adalah kenalan kita. Per hari rata-rata empat pelanggan. Sampai saat ini kalau di rata-ratakan enam orang,” ungkapnya.

Kondisi ini diperlambat saat diberlakukannya PPKM darurat untuk Jawa-Bali.

“PPKM darurat kita tutup, mengikuti anjuran pemerintah,” ujarnya.

Menyiasati hal tersebut, lanjut Raga, pihaknya membuka layanan home service atau panggilan.

“Waktu itu kita buka home service melalui IG Preen. Umumnya langganan kita yang menghubungi. Alhamdulillah, untuk operasional bisa dicukup-cukupkan,” terangnya.

Namun setelah adanya kelonggaran PPKM, peningkatan jumlah pelanggan Baber Shop Preen ini belum terasa signifikan.

“Setelah kita buka selepas PPKM darurat, ya peningkatannya belum signifikan,” ungkap Raga lagi.

Terkait dengan protokol kesehatan yang diterapkan agar ada rasa aman bagi pihaknya dan tamu pelanggan, dijelaskan oleh Raga bahwa ada sejumlah langkah yang telah dilakukan.

“Untuk menjaga agar pelanggan kami merasa secure, alat-alat dan kursi sehabis digunakan kita bersihkan. Sebelum buka dan tutup, tempatnya juga kita semprot disinfektan. Selain itu, barber man selama bekerja selalu menggunakan masker dan sarung tangan,” jelasnya.

“Untuk menghindari adanya kerumunan di dalam ruangan, kita siapkan kursi di luar bagi pelanggan yang menunggu giliran untuk dilayani juga handsanitizer,” tambahnya.

“Dulu barber man ada dua orang, awal-awal kita siapkan antigen. Barber man waktu melakukan home service bawa surat antigen itu,” beber Raga lagi.

Raga berharap, pandemi bisa segera teratasi sehingga aktifitas masyarakat bisa lebih leluasa.

“Harapan saya, kondisi aktifitas masyarakat bisa normal kembali. Orang-orang juga tidak abai terhadap prokes, terutama masker. Ketika sudah normal, saya rasa otomatis lah semuanya mengikuti, seperti ekonomi, kesehatan dan yang lainnya,” harapnya.

Bagaimana harga dan paket layanan pangkas rambut di Barber Shop Preen?

“Harga di Barber Preen ini saya rasa masih underrated. Di tempat kita 35K mendapat service cuci setelah dipotong, lalu kita pakai handuk panas, selanjutnya kita kasih vitamin dan serum, styling pakai pomade dan lain-lain. Terus dipijat juga,” jawab Raga.

“Kita belum bisa menaikan harga karena melihat orang-orang mungkin saat ini masih butuh untuk keperluan lain dibandingkan untuk cukur rambut.
Jujur, sampai saat ini kita belum nyari apa-apa, dalam artian asal operasional masih bisa ketutup, barber man tercukupi untuk keluarganya, ya kita syukuri. Harapan kalau kondisi sudah normal, cost yang sudah kita keluarkan dapat balikan,” pungkas Raga.

Raga, pemilik Barber Shop Preen.

[St]

Comments

comments