SOROTINDONESIA.COM, SEMARANG – Ada banyak cara untuk belajar sejarah. Salah satunya seperti yang dilakukan Alumni SMPN1/SMAN Boyolali (SMANBi) 74/77 dalam rangkaian Temu Alumni dan Halal Bihalal di Semarang. Menggunakan armada bus ‘Si Kenang’, para bapak dan ibu belajar sejarah dari heritage cagar budaya) yang dipandu petugas dari Dishub Kota Semarang berkeliling ke kawasan-kawasan sejarah di Semarang dengan rute dari Hotel Grand Candi.

“Alhamdulillah, kami mendapat fasilitas bus dari Pemkot Semarang untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Semarang,” kata Ketua Alumni SMANBi 77, DR. Drs. Budiyanto, SH, M.Hum., usai kegiatan penutupan di Extreme Kuliner Pamularsih, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/5) siang.
Fasilitas tersebut, lanjutnya memang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat yang ingin tahu lebih jauh tentang sejarah Kota Semarang. Sedikitnya, ada 3 (tiga) bus yang khusus melayani wisata sejarah yakni Si Denok, Si Kenang, dan Si Kuncung, “Bus ini gratis bagi masyarakat umum. Kalau ingin secara berkelompok satu grub satu bus ya mengajukan ke Pemkot untuk dijadwalkan, tapi kalau hanya sendiri atau satu keluarga bisa langsung museum Mandala Bhakti atau Ronggo Warsito,” jelasnya.
Ada banyak bangunan cagar budaya di Semarang, bukan hanya kawasan Kota Lama, “Selain kawasan Kota Lama Semarang ada beberapa bangunan yang masuk cagar budaya dan kawasan-kawasan yang dulu jadi pemukiman warga Belanda tapi tidak masuk kategori cagar budaya. Nah, ini bagian dari sejarah yang perlu diketahui masyarakat,” tuturnya.
Selain cagar budaya, juga terdapat wisata religi yang menunjukkan asal mula penyebaran agama di Semarang, “Dari makam para wali Allah, gereja sampai Klenteng. Ini juga bagian dari sejarah warga Semarang. Juga ada tempat yang dulunya jadi kantor Bupati Semarang,” jelasnya.

Terobosan lain, lanjut Budiyanto, adalah Museum Kota Lama Semarang yang dikemas secara digital sesuai dengan perkembangan teknologi digital saat ini, “Nah, museum ini sangat ringkas, pengunjung bisa belajar sejarah dengan lebih mudah karena divisualkan secara modern,” ujarnya.
Untuk itu, senior aktivis kepemudaan Jawa Tengah yang saat ini menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya pelaku pendidikan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Ini sangat cocok untuk menambah semangat kebangsaan dan nasionalisme masyarakat, terutama bagi generasi muda dan pelajar. Anak dan cucu kita harus bisa melanjutkan perjuangan di era yang semakin modern. Jangan sampai generasi kita jadi menjadi perusak negara yang dikit-dikit bid’ah, nasionalisme gak ada dalilnya, demokrasi kafir, sesat dan sebagainya,” tegasnya.
Budiyanto juga mewanti-wanti agar masyarakat mewaspadai upaya-upaya yang memicu ketegangan di masyarakat, “Tantangan zaman kolonial dengan zaman merdeka ini beda. Dulu lawannya kelihatan, kalau sekarang tidak. Maka dari itu kita harus membina anak cucu kita, generasi penerus bangsa ini untuk merawat 4 (empat) pilar kebangsaan atau konsensus bersama tentang falsafah hidup dalam bingkai NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini lain dari negara lain, harus dijaga karena negara ini akan menjadi contoh negara lain dalam membina pluralisme,” tutupnya.
Untuk diketahui, wisata sejarah alumni SMPN1 74 dan SMANBi 77 di Semarang menjadi lebih spesial karena rombongan alumni ini ada yang mantan pejabat sipil Pemerintah Pusat , Provinsi, kabupaten/kota, TNI, Polri, Pengusaha, dan Swasta.(qq)






