Jalan-jalan Di Sektor 8 Satgas Citarum, Mulai Dari Melihat Kondisi Bantaran Sungai Hingga Sayembara Bagi Penemu Sumber Limbah Industri Pencemar Lingkungan

oleh -
Jalan-jalan Di Sektor 8 Satgas Citarum, Mulai Dari Melihat Kondisi Bantaran Sungai Hingga Sayembara Bagi Penemu Sumber Limbah Industri
Taman Citarum Harum Sektor 8 di Desa Cilampeni.

KAB. BANDUNG, sorotindonesia.com,- Menjelang tiga tahun pencanangan Citarum Harum oleh Kodam III/Siliwangi yang diawali dengan pembersihan dan penataan di Km 0 Sungai Citarum di Situ Cisanti, Kecamatan Kertasari, pada bulan November 2017 silam, pewarta berkesempatan jalan-jalan ke bantaran Sungai Citarum yang masuk wilayah Sektor 8 Satgas Citarum, Senin (09/11/2020).

Jangan kaget, karena kondisinya tentu sudah sangat berubah dibandingkan sebelum Program Citarum Harum mendapat perhatian penuh dari Presiden RI Joko Widodo pada bulan Februari tahun 2018 silam saat berkunjung ke Situ Cisanti yang kemudian diikuti oleh terbitnya Perpres No. 15 tahun 2018 pada bulan Maret 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Sungai Citarum kini sudah terlihat lebarnya, bantaran sungai sudah tertata cukup rapi dan ditumbuhi banyak pohon, juga dihiasi dengan taman-taman yang nyaman untuk dinikmati. Namun keindahan itu belum semuanya yang bisa diungkapkan.

Berkunjung ke Poskotis Sektor 8 Satgas Citarum di sekitar kawasan Taman Kopo Indah Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih sebelum jalan-jalan, pewarta berkesempatan berjumpa dengan Komandan Sektor 8 Satgas Citarum, Kolonel Inf Belyuni Herliansyah beserta anggota.

Komandan Sektor 8 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Belyuni Herliansyah.
Komandan Sektor 8 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Belyuni Herliansyah.

Menariknya, setelah pewarta berbincang-bincang dan menyampaikan maksud dan tujuan, Kolonel Inf Belyuni berkenan mendampingi pewarta untuk melihat kondisi bantaran sungai yang sudah banyak disulap menjadi lahan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, selain berfungsi untuk melestarikan daerah aliran sungai.

Meluncur menggunakan sepeda motor, lokasi yang pertama kali dikunjungi adalah Taman Citarum Harum Sektor 8 di Desa Nanjung. Disini kita disuguhkan sebuah taman yang menurut pewarta istimewa, isi tamannya ada kolam pemancingan, ya kolam pemancingan permanen yang terbuat dari tembok dan diberi atap seng, dilengkapi dengan bangunan tempat beristirahat atau berkumpul. Disekelilingnya selain sudah ditumbuhi jenis pohon keras yang sudah tinggi, juga baru ditanami dengan tanaman hias dan bibit pohon buah-buahan, diantaranya jeruk, alpukat dan sirsak.

Kolam Pemancingan Taman Citarum Harum Sektor 8 di Desa Nanjung.
Kolam Pemancingan Taman Citarum Harum Sektor 8 di Desa Nanjung.

“Awalnya saat sedang penataan bantaran sungai disini, keluar mata air. Ada 3 mata air, oleh anggota dibuatlah kolam-kolaman, 3 x 4 meter. Tapi karena kurang rapi, sehingga dibongkar lagi dan berkolaborasi dengan cara urunan, kita buat kolam lebih luas menggunakan escavator, ukuran kolamnya 9,5 x 18 meter. Ini kita buat perlahan-lahan,” terang Kolonel Inf Belyuni.

“Kolam ini silahkan dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan catatan ikannya bawa sendiri dan tidak membuang sampah sembarangan. Di sekitar kolam juga sudah saya tanam beragam tanaman buah, paling banyak tanaman sirsak. Nah, dengan kondisi bantaran yang sudah rapi seperti sekarang ini, sudah banyak orang yang mampir. Kita prinsipnya memfasilitasi kepada masyarakat,” bebernya.

Kemudian Dansektor 8 mengajak pewarta meninjau kebun demplot BIOS 44 DC yang lokasinya berada di sebelah Taman Citarum Harum Sektor 8 Nanjung. Selain demplot, juga terdapat penyemaian bibit tanaman.

Demplot BIOS 44 DC tersebut, ditanami dengan tanaman kacang tanah dan jagung manis. Kondisinya subur dan juga jagung yang sudah berbuah itu, ukurannya cukup besar dan sehat.

“Bantaran ini sudah saya sulap sedikit-sedikit, tanah di bantaran ini tadinya didominasi juga oleh sampah, sampah kain dan plastik. Kalau musim hujan tidak bisa kita bakar, kalau kering baru kita bakar. Selanjutnya lahan itu kita tambah tanah sekitar setengah meter kemudian kita tanam jagung, kacang tanah, memanfaatkan BIOS 44 DC, alhamdulillah hasilnya sudah kelihatan,” ucap Kolonel Inf Belyuni, sambil memberikan kesempatan kepada pewarta memetik jagung yang sudah siap dipanen.

Usai meninjau Taman Citarum Harum Sektor 8 ini, Dansektor kemudian mengajak ke fasilitas pengolahan sampah, tidak jauh dari kolam, yang dikelola oleh seorang pegiat sampah, Ujang.

Fasilitas pengolahan sampah ini areanya cukup luas, yang menampung sampah dari warga masyarakat, baik organik maupun anorganik. Bahkan ada papan banner yang bertuliskan, Buanglah Sampah Disini, dengan gambar anggota TNI dari Satgas Citarum Sektor 8 yang menunjuk ke area bak sampah.

“Kita lihat, disini ada bak sampah, awalnya orang tidak mau buang kesini karena jaraknya dari jalan raya itu sekitar 100 meter dan sempit. Akhirnya sekarang kita buka jalannya, dan setelah dibuka, ada dari pegiat sampah yang datang dan minta izin untuk mengelolanya dan mengaku akan mengajak warga untuk membuang sampahnya disini. Namanya Pak Ujang, lalu saya persilahkan, malahan saya bersyukur, karena kondisi kita saat ini memiliki keterbatasan untuk menggarapnya. Memang harus ada orang khusus yang menangani sampah itu,” urai Kolonel Inf Belyuni.

Lalu agar tidak menjadi persoalan di kemudian hari, lanjutnya, dibuatkan surat untuk pekerjaan pengelolaan sampah ini, diketahui oleh pihak desa dan sektor. Sekarang sampah diolah oleh dia, yang ekonomis dipisahkan dan residunya dimusnahkan, organiknya dipisahkan untuk pupuk. Rencananya tahun depan akan dibangun sarana TPS3R.

Masih di sekitar lokasi yang sama, ada tempat panampungan kotoran sapi. “Disitu ada peternak sapi, awalnya saya marah kepada pemiliknya, apalagi kalau hujan kotorannya itu dibuang ke sungai, begitu saya datangi, saya minta kepada pemiliknya agar kotoran tersebut dikelolanya dengan baik dan tidak dibuang ke sungai. Pemilik saat ini mengeluh karena kesulitan untuk mengelolanya. Akhirnya kita coba carikan solusi. Kotoran sapi ini kemudian dibuang ke bantaran yang disiapkan, tapi menggunakan kendaraan dari pemilik sapi. Nanti kotorannya itu kita yang olah untuk pupuk, karena disitu juga dekat dengan lahan kebun masyarakat, jadi dibuang disana,” urai Dansektor 8 tersebut.

“Saya gali lubang besar, tumpahkan disitu, tertampunglah kotoran sapinya. Kemudian saya buat surat perjanjian dengan peternak sapi itu untuk tidak membuang kotoran sapi ke sungai, kalau ketahuan, dendanya potong sapi yang paling kecil di kandang untuk kita bagi-bagikan dengan masyarakat, dia tanda tangan. Prinsipnya menunjukkan dia tidak mau berbuat lagi membuang kotoran sapi ke sungai. Kotoran sapi itu juga saat ini kita manfaatkan, diolah kurang lebih satu bulan, sudah bisa digunakan untuk pupuk. Bahkan sekarang petani sayur-sayuran dari Cirebon ikut mengambil kotoran sapi itu, dikarungi dan dibawa menggunakan truk,” urainya lagi.

Pada giat jalan-jalan ke bantaran sungai ini juga Dansektor 8 Satgas Citarum mengarahkan untuk ke kebun demplot BIOS 44 DC, disini ada tanaman musiman serta taman buah. Menariknya, taman buah ini ada beragam jenis pohon buah yang ditanam. diantaranya mangga, jeruk, pepaya dan sirsak.

“Ini ada tanah terbengkalai, banyak ilalang, tak terurus, lalu saya buka dan rapikan, setelah rapi sekarang saya tanami sayuran dan pepaya california. Lucunya. Setelah lahan sudah rapi, ada yang datang mengaku penggarap dari pemilik tanah.  Ya, saya tidak izinkan kecuali masyarakat yang disana. Saya hanya bilang akan kembalikan tanah ini kepada yang punya kalau mau dibangun. Enak saja, sudah bagus dan rapih dan disebar pupuk, lalu ada yang mengaku penggarap. Kita juga berkoordinasi dengan kepala desa dan pengurus masyarakat disini. Intinya pak RW, mereka mendukung kita. Nah, kebetulan saat ini jeruk limau harga pasarannya stabil, sehingga kita akan kembangkan itu dengan lahan yang ada di bantaran ini. Ada juga tanah bantaran yang tadinya kurang subur karena banyak pasir dan batu, lalu kita timbun dengan tanah dan pupuk, kemudian kita tanami mangga dan beragam buah-buahan, sekarang sudah keliatan tumbuh subur, orang sudah mulai senang mengambil, bukan merawat, tapi tidak apa-apa, saya bilang ke pengurusnya berarti orang sudah mulai senang kesini. Tapi kalau sudah banyak, kita akan panggil orang itu, agar mau ikut merawatnya,” jelas Kolonel Inf Belyuni panjang lebar.

Terkait dengan pemanfaatan lahan bantaran sungai yang sudah dibersihkan dan siap ditanami, Dansektor 8 menjelaskan, “Kita sudah rapatkan dengan tokoh masyarakat, silahkan data warga yang mau bertani di bantaran, jangan sampai berebut. Nanti masalah bibit, nanti mau tanam apa, yang penting setelah panen jangan buang sampahnya ke sungai, kalau buang ke sungai, kita akan tindak tegas. Dengan adanya ketegasan itu supaya masyarakat ikut mencintai wilayahnya dia, tertib, bersih dan enak dipandang. Itu terkait dengan bantaran,” jelasnya.

Lebih jauh, Kolonel Inf Belyuni mengantarkan pewarta menuju oxbow Daraulin dan Gajahmekar, namun dilihat dari jembatan besar. Kondisi kedua oxbow ini sebelum masuknya Satgas Citarum, sangat kotor dan dipenuhi sampah. Tetapi saat ini sudah cukup bersih.

“Dalam penataannya sekarang, kita bekerjasama dengan BBWS, sebelumnya oxbow di Daraulin dan Gajahmekar ini sudah dibuat semacam inlet dan outlet dan sudah dibersihkan. Tadinya juga ada keramba-keramba. Kita berkolaborasi dengan pecinta bambu, Pak Yoyo. Tempat tersebut diresmikan bertepatan dengan HSN 22 Oktober 2020, berkolaborasi juga dengan BBWS dan perguruan tinggi, serta santri. Kita sepakat ini kita jaga, terus hari ini kita mulai lagi mengeruk oxbow Citarum itu untuk kita tinggikan bantarannya, karena jalan yang sudah dibuat oleh masyarakat ada longsor-longsor, kita isi sekarang,” jelasnya lagi.

“Tanggal 3 Desember 2020 mendatang, kita akan tanam ikan, ikan nila, yang asalnya dari partisipasi masyarakat dan pemerintah setempat. Dengan catatan setelah ikan ini disebar, di batas titik tertentu tidak boleh dipasang jaring, atau diambil dengan cara di jala, hanya boleh dipancing. Tujuannya adalah untuk menambah gizi kepada masyarakat, tidak diperjualbelikan alias gratis guna ketahanan pangan masyarakat. Silahkan, masyarakat yang ingin makan ikan, tinggal memancingnya,” terang Kolonel Inf Belyuni.

Sisi menarik lainnya di bantaran Sungai Citarum Sektor 8, adalah adanya taman bambu di kampung Melayu, Desa Margaasih.

“Disini kita membuat tempat, konsep stan taman bambu, dan semacam saung untuk tempat kumpul. Lalu menjadi tempat pembibitan jenis bambu yang langka. Selain itu, tempat ini untuk edukasi kepada masyarakat memanfaatkan bambu menjadi produk yang bernilai ekonomi, dan disini sudah ada produk-produk dari bambu, namun belum populer. Adapun pihak yang membantu untuk program ini, bersumber dari CSR PT PLN, ya tentunya kita menyambut baik dan berterimakasih atas usulan tersebut,” kata Kolonel Inf Belyuni.

Taman Bambu Citarum harum Sektor 8 di Kampung Melayu, Margaasih.
Taman Bambu Citarum harum Sektor 8 di Kampung Melayu, Margaasih.

Taman bambu yang dikunjungi ini, tampak banyak dikunjungi oleh anak-anak dan ibu-ibu, meski hujan baru reda. Sangat menarik, karena ada sejenis lampion yang dibuat dari bambu, serta tiang-tiang lampu dari bambu, selain ornamen lainnya yang juga terbuat dari bambu. Jika malam hari, dapat dibayangkan suasana dari taman bambu ini.

Jalan-jalan di bantaran Sungai Citarum Sektor 8 ini, dilanjutkan dengan menyusuri jalan inspeksi di Desa Sukalilah sampai ke Desa Cilampeni. Pewarta cukup takjub, karena bantaran sungai selain sudah tertata, juga dihiasi oleh pepohonan rindang dan juga taman sebagai ikon, baik yang dibuat oleh Satgas Citarum maupun hasil inisiasi dari warga setempat. Hanya saja, kondisi jalan banyak yang berlubang.

Penanganan Limbah Industri di Sektor 8 Satgas Citarum

Salasatu permasalahan dari DAS Citarum ini adalah limbah industri. Seringkali air Sungai Citarum yang kondisinya berwarna hitam, diidentikkan dengan perilaku industri yang nakal.

Menyikapi hal tersebut, dijel;askan oleh Dansektor 8 Satgas Citarum, Kolonel Inf Belyuni Herliansyah, “Kalau masalah limbah industri ini, adalah salasatu yang tidak baik bagi Sungai Citarum,” ujarnya.

“Memang saya bilang pabrik-pabrik besar mulai bangkit, tapi pabrik-pabrik kecil juga masih ada yang nakal. Kalau saya katakan disini sudah clear, tidak, tapi mayoritas ke arah perbaikan, ya. Kita ajak semua pihak untuk peduli, kemarin saya sudah sebarkan surat edaran. Isi suratnya mari kita kerjasama untuk menegakkan Citarum supaya kembali bersih sesuai dengan Perpres No.15 tahun 2018, dengan cara tidak ada lagi yang membuang limbah, bagi yang masih membuang limbah kita akan tindak tegas dengan cara cor dan melaporkannya ke dinas dan instansi berwenang untuk proses hukum,” tegasnya.

“Selain itu, kita melarang anggota satgas minta-minta uang, kalau ada yang begitu, ini saya cantumkan nomor telepon saya,” tegas Kolonel Inf Belyuni lagi.

Pada surat tersebut, Dansektor juga mengarahkan agar industri penghasil limbah cair dan B3 yang ada di wilayah tugasnya, wajib dibuatkan bak kontrol di outlet sebagai alat ukur layak tidaknya air yang dibuang ke sungai dengan ditanam ikan mas dalam bak tersebut.

Selain surat edaran bagi industri, Dansektor 8 juga menyebarkan surat edaran yang ditujukan kepada masyarakat.

“Surat edaran juga kita kirimkan kepada masyarakat untuk mengajak menjaga lingkungan tetap bersih,” jelasnya,

Menariknya, dalam surat edaran kepada masyarakat tersebut, Dansektor menyebutkan jika ada warga masyarakat yang menemukan dan melaporkan pabrik pencemar atau membuang limbahnya ke sungai, dengan cara divideokan, akan mendapatkan hadiah.

“Laporkan dan kirimkan kepada saya videonya melalui WA, nama pabrik, tanggal, jam, kondisi limbah yang dibuang apakah berwarna atau berbau, tidak perlu disebutkan nama pelapor, saya akan berikan hadiah sebesar Rp500 ribu,” pungkasnya.

[st]

Comments

comments