Final, Pancasila itu Istiharoh Para Ulama

oleh -
Pancasila

Kab. Bandung – Gerakan Hejo yang selama ini berkiprah pada bidang lingkungan hidup dan budaya di Jawa Barat, di bawah pimpinan Eka Santosa, setelah melakukan peringatan kelahiran Pancasila pada 1 Juni 2017 di Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung, kembali pada Selasa, 6 Juni 2017 di tempat yang sama, memperingati hari kelahiran Bung Karno (6 Juni 1901).

“Ya, di bulan Juni ini ke dua kalinya kami peringati hari-hari khusus dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Tujuannya, jelas kita harus pahami dan hayati Pancasila, termasuk segi historisnya,” papar Eka yang dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum.

Peringatan kali ini yang bertemakan “Penerapan Nilai Pancasila sebagai Solusi dalam Menghadapi Degradasi Sosial dan Lingkungan Hidup”, diramaikan dengan acara talk show.

Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan Eka Santosa sebagai narasumber, keduanya memang digadang-gadang maju ke Pilgub Jabar 2018. “Tak bisa dipungkiri keberadaan Pancasila sebagai ideologi negara bagi saya sudah final,” kata Uu yang langsung memperoleh applaus dari para hadirin – “Pancasila itu hasil istiharah para ulama. Mengapa pula harus dipertanyakan lagi?” sembari sebelumnya menguraikan secara rinci keberhasilan program Gerbang Desa (Gerakan Pembangunan Desa) di wilayahnya.

Hebatnya, Uu di forum ini seakan mendeklarasikan kembali posisi Gerbang Desa yang signifikan memperbaiki infrastuktur jalan dan jembatan, dan otomatis meningkatkan taraf hidup warganya, “Kini Gerbang Desa sudah diadopsi sebagai program unggulan di tingkat Provinsi Jabar,” ucap Uu.

Eka Santosa dalam talk show ini yang ramai dengan dialog yang cair di antara para hadirin, kembali mengupas kegamangannya atas kondisi lingkungan hidup di Jabar, tata kehidupan yang menjurus ke fenomena dehumanisasi, serta krisis kepemimpinan dalam 10 tahun terakhir, “Sudahlah, warga Jabar ke depan harus pintar memilih siapa pemimpinnya. Sudah pusing bila keterpurukan multi dimensi ini dialamatkan karena rakyat. Justru, yang salah itu ya pemimpinnya!”

Menurut Roni Priatna, salah satu hadirin di talk show ini yang sengaja hadir selaku aktivis lingkungan hidup di Kabupaten Pangandaran, ”Ujaran Kang Eka (sapaan Eka Santosa – red.) ini ibarat katarsis – pembersihan jiwa sekaligus penyadaran diri. Dipadu dengan Kang Uu tadi, makin memperkuat, perlunya pemerintah bertanggung-jawab atas kerusakan lingkungan. Pemberi ijin dan regulator itu ada pada mereka. Harus kita rubah dan sadarkan mereka.”

Walhasil, kupasan Uu dan Eka pada peringatan haul Bung Karno ke-106 di Alam Santosa ini mengumandangkan sejumlah pesan mendalam – founding father kita sebagai salah satu Proklamator RI telah berpikir jauh ke depan. “Tak terbayang, bila kita tak punya Pancasila, entah apa yang akan terjadi dengan nasib bangsa kita. Hikmahnya, jangan sekali-kali kita lupakan jejak emas ini,” pungkas salah satu penanggap di talk show yakni pria gaek yang penuh vitalitas Pak Husen Lauk alias Ir. H. Muhammad Husen (68), Pakar Budidaya Ikan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat – “Generasi muda harus terus diingatkan sejarah, apa, dan mengapa harus ber-Pancasila. Jangan kalah oleh gerusan globalisme yang membabi-buta, dan membutakan itu.”  

(St/HS)

Comments

comments