Respon Cepat, Satgas Citarum Sektor 21 Sub 07 Dan DLH Kabupaten Bandung Datangi Lokasi Dugaan Pembuangan Limbah B3 Di Jalan Inspeksi Sungai Cisangkuy

oleh -
Respon Cepat, Satgas Citarum Sektor 21 Sub 07 Dan DLH Kabupaten Bandung Periksa Dugaan Pembuangan Limbah B3 Di Jalan Inspeksi Sungai Cisangkuy

KAB. BANDUNG – Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 bersama DLH Kabupaten Bandung dan Badega merespon cepat laporan masyarakat terkait temuan adanya dugaan limbah B3 atau limbah batu bara yang sengaja dibuang di jalan inspeksi Sungai Cisangkuy yang berlokasi di Kampung Cirengit, Desa Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/10/2021) malam.

Tampak di lokasi temuan, masuk sekitar 50 meter dari jalan raya, terdapat puluhan karung plastik ukuran 25 Kg yang berisi butiran-butiran mirip tanah yang bentuknya tidak lazim dilihat oleh masyarakat awam.

DLH Kabupaten Bandung setibanya di lokasi langsung memeriksa isi dari karung tersebut dan mengambil sampel secara random untuk kepentingan pemeriksaan, sekaligus memasang pita pembatas agar temuan tersebut tidak terganggu selama proses pemeriksaan.

“Hari ini kita menindaklanjuti laporan dari warga dan Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 berkaitan dengan dugaan buangan limbah B3 yang ada di lokasi ini. Jadi, saat ini kita identifikasi di lapangan, kita juga melihat kondisi yang ada disini lalu melakukan pengambilan sampel, karena kita juga ingin tau apakah itu limbah B3 atau bukan,” jelas Robby Dewantara, Kasi Penaatan Hukum Lingkungan DLH Kabupaten Bandung, usai pemeriksaan.

Menurut Robby, hasil identifikasi yang dilakukan hari ini di lapangan, belum bisa memastikan temuan tersebut limbah B3 atau bukan, karena akan menunggu hasil pengujian lab untuk menindaklanjuti langkah berikutnya.

“Jika terbukti ada karakter-karakter limbah B3, tentu karakter ini akan diidentifikasi industri atau perusahaan mana yang membuangnya kesini. Jadi, untuk sementara kita mencoba melokalisir dulu lokasi temuan ini, mengamankan, agar warga tidak ada yang masuk kesini dan mengambilnya, ataupun malah bertambah,” terangnya.

Dikatakan lebih lanjut oleh Robby, jika temuan tersebut hasil uji nanti adalah limbah B3, maka yang akan dirugikan bukan hanya masyarakat yang berpotensi terkontaminasi, tetapi juga lingkungan sekitarnya.

“Jika temuan ini adalah limbah B3, maka akan diuji, limbah B3 jenis apa yang terkandung didalamnya. Kalau pun itu bukan limbah B3, berarti siapa yang buang limbah padat disini. Prinsipnya, tidak boleh ada industri atau kegiatan usaha perorangan yang membuang limbah atau sampah sembarangan. Meskipun bukan limbah B3, tetap saja berbahaya, karena sudah mengotori lingkungan,” tekan Robby.

Ia pun menegaskan, secara visual temuan tersebut bukanlah limbah batu bara.

“Ini bukan batu bara,” pungkas Robby Dewantara.

Kesempatan yang sama, Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07, Serma Andri Irawan, menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan laporan dari warga di media sosial adanya indikasi buangan limbah berbahaya.

“Dari laporan warga terkait adanya dugaan limbah B3 atau limbah batu bara yang dibuang sembarangan, kami langsung cek ke lokasi, lalu berkoordinasi dengan dinas terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup. Alhamdulillah, malam ini kita bisa periksa sama-sama, tinggal menunggu hasilnya apakah ini limbah B3 atau bukan,” jelasnya.

Sebelumnya, personel Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 07 juga sempat melakukan pengecekan ke industri-industri yang ada di sekitar lokasi temuan sambil membawa sampel, untuk mencari tau kesamaan jenis dan bentuk limbah hasil temuan dengan yang ada di pabrik.

“Kita juga sudah tindaklanjuti ke perusahaan-perusahaan sekitar, apakah sama jenis limbahnya dengan yang ada disini, termasuk karung yang digunakan, dicocokkan. Hari ini ada lima perusahaan yang kami datangi, dan hasilnya tidak ada yang sama, baik jenis dan bentuk limbahnya juga kemasan karungnya. Tapi yang lebih jelasnya kita tunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” tandasnya sambil mengingatkan agar perusahaan tidak main-main dengan lingkungan.

Pertama kali ditemukan, puluhan karung tersebut dikira pupuk oleh warga penggarap yang lahannya persis disamping lokasi temuan.

“Saya tidak curiga, karena saya kira itu pupuk milik orang yang sengaja ditumpuk dulu disitu, saya biarkan. Mungkin keberadaannya sudah sekitar dua minggu,” kata Ajo (40), warga Cirengit, yang lahan kebun garapannya berada di samping lokasi temuan.

[st]

Comments

comments