Perguruan Silat Riksa Diri Orpesi Gelar Milangkala Ke-62 Tahun, Cetak Atlet Beladiri Berprestasi Internasional

oleh -
Perguruan Silat Riksa Diri Orpesi Gelar Milangkala Ke-62 Tahun

BANDUNG, sorotindonesia.com,- Perguruan Silat Riksa Diri Orpesi gelar Milangkala ke-62 yang dilaksanakan di Cipaku Garden Hotel, Kelurahan Ledeng, Kota Bandung, Sabtu (30/8/2020).

Hadir pada kegiatan tersebut, antara lain Guru Besar Riksa Diri Orpesi, Abah Wiwih bersama istri, Luciana Wibowo, Guru Besar Riksa Budi Kiwari, Ujang Jayadiman, Camat Cidadap, Lurah Ledeng, sesepuh, jajaran murid perguruan Riksa Diri, atlet Riksa Diri.

Pada kesempatan acara yang dilangsungkan secara internal organisasi itu, Abah Wiwih menyampaikan ucapan syukurnya atas usia ke-62 Perguruan Silat Riksa Diri yang kelahirannya dibidani oleh H. Nunung Ahmad Hudaya, seorang praktisi beladiri yang juga pensiunan TNI, pada tanggal 31 Agustus 1958 silam.

Ungkapan syukur tersebut ditandai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama.

Camat Cidadap, Hilda Hendrawan, mengaku bangga atas keberadaan Perguruan Silat Riksa Diri di wilayahnya. “Saya merasa tersanjung bisa hadir dan kebanggaan di acara Milangkala ke-62 Riksa Diri Orpesi yang menjadi aset dan potensi di Cidadap,” ucapnya.

“Jadi PR bagi kami untuk memunculkan dan mengembangkan paguron Riksa Diri ini,” tambahnya.

Ia pun merasa takjub dengan motto yang menjadi pedoman perguruan yang berbasis di Cipaku ini. “Jaya karena prestasi, baik karena diri. Yang patut menjadi pegangan kita semua adalah filosofinya, sayangi diri dan sayangi lawan. Maknanya itu sangat dalam, mungkin saya akan terapkan dalam tugas untuk menjawab tantangan di lingkungan yang merupakan tanggung jawab bersama,” ungkap Hilda.

Akhir sambutannya, Hilda Hendrawan mengucapkan harapannya, “Pada Milangkala ini kami mengucapkan selamat, semoga Riksa Diri senantiasa berprestasi di tingkat lokal, regional dan internasional. Dan bermanfaat di seluruh aspek kehidupan,” pungkasnya.

Menariknya, Perguruan Silat Riksa Diri tidak hanya berhasil mencetak atlet berprestasi di cabang Pencak Silat, namun juga ada yang berjaya di cabang olahraga Tinju, Muay Thai, Kick Boxing, Submission, dan Wushu. Seperti salasatunya adalah Neng Hamidah, menjadi atlet tinju putri generasi pertama Jawa Barat yang juga membawa olahraga Muay Thai ke Indonesia. Termasuk Sandi, yang sukses menorehkan prestasi mewakili Jawa Barat di cabang olahraga Wushu pada PON 2008 Kaltim.

Turut hadir juga atlet berprestasi lainnya yang berkelana dengan membawa ilmu Riksa Diri, diantaranya Budi Rahman, S.H, M.H., Ivo Sariningsih, dan Kamaludin.

Perguruan Silat Riksa Diri Bekali Atlet Dengan Mental Juara

Terpisah, saat diwawancarai oleh wartawan usai kegiatan, Abah Wiwih menyebutkan bahwa kegiatan Milangkala ke-62 ini merupakan momentum untuk tumbuh dan berkembang.

Guru Besar Perguruan Pencak Silat Riksa Diri Orpesi, Abah Wiwih (kiri) dan Guru Besar Riksa Budi Kiwari, Ujang Jayadiman (tengah), saat diwawancarai awak media.

“Ya, kita melaksanakan Milangkala ke-62 tahun Riksa Diri, kita selalu mengenang, dengan ilmu Riksa Diri kita tumbuh dan didewasakan dalam perjalanan berprestasi di gelanggang olahraga, prestasi dalam kehidupan sehari-hari kita, dan tentunya dengan filosofi selamatkan diri, selamatkan lawan,” jelasnya mengawali.

“Untuk kedepannya, dengan Riksa Diri ini kita berkeinginan generasi muda kita itu tidak meninggalkan budaya-budaya tercinta tanah air, lebih khusus pencak silat sebagai ilmu dan pedoman dalam melangkah di kehidupannya,” harap Abah Wiwih yang juga getol di bidang lingkungan.

Dikatakannya lebih lanjut, “Tadi kita perkenalkan atlet-atlet yang telah berkecimpung di ajang nasional dan internasional, kenapa? Riksa Diri membekali mental juara, karena menyerah bukan juara. Jadi, kita selalu melakukan hal-hal yang memang seharusnya dilakukan. Misalkan atlet ingin berprestasi, berarti makanannya adalah latihan dan berjuang, sehingga prestasi di gelanggang adalah miliknya,” urai Abah Wiwih.

Kesempatan yang sama, Ujang Jayadiman menambahkan, “Saat ini kita sedang mempersiapkan atlet yang akan berlaga di PON Papua tahun 2021 mendatang. Rian Nugraha adalah salasatu atlet yang memiliki basic Riksa Diri,” terangnya.

“Saya memiliki dasar ilmu Riksa Diri, hingga sekarang mengembangkan ilmu Riksa Budi Kiwari. Riksa Diri itu secara resmi ilmu dari guru besar saya dan Abah Wiwih, yakni Abah Nunung Hudaya, yang tentunya untuk dipertahankan dan dikembangkan, baik di tingkat nasional maupun internasional di masa datang,” pungkas Ujang Jayadiman yang juga merupakan atlet pencak silat peraih emas di PON 1981.

Ini Kata Sandi Rahmat Dan Kamaludin Terkait Ilmu Riksa Diri

Atlet Perguruan Silat Riksa Diri yang pernah mencicipi prestasi, Sandi Rahmat, saat ditemui wartawan mengungkapkan, “Riksa Diri ini ada di Pencak Silat, ada di Muay Thai, Kick Boxing, dan juga Wushu. Jadi, Riksa Diri itu ilmu yang bermanfaat untuk semua ilmu beladiri. Mudah-mudahan Riksa Diri bisa mengembangkan dan mengantarkan prestasi atlet-atlet junior kita ke pentas internasional,” ungkap peraih medali emas Wushu di PON 2008 Kaltim.

“Saya sudah pensiun dari atlet, dan kini membantu melatih atlet junior. Pesan saya untuk para junior, semuanya harus rajin berlatih, semangat latihan dan jangan mudah menyerah. Kita lebih baik bermandi keringat, daripada mandi darah di pertandingan,” pesan Sandi yang juga pernah menyandang Best of The Best Kick Boxing di Lindu Aji pada tahun 2007.

Kamaludin, peraih juara dunia Pencak Silat di Inggris, menjelaskan, “Untuk saya sendiri, khususnya di Pencak Silat Riksa Diri Orpesi, tidak hanya olahraga fisik pukul, tendang, banting. Di Riksa Diri saya menemukan hal-hal atau teknik di luar olahraga. Ada metode-metode latihan yang tidak ada model latihan tersebut untuk anak-anak sekarang. Jadi, itu yang menjadi bekal kita bahwa silat Riksa Diri itu nuansa beladirinya tidak sekedar olahraga,” jelasnya.

“Pesan buat adik-adik junior di momentum acara Milangkala ini, adik-adik Riksa Diri bisa lebih giat lagi latihan untuk melanjutkan jejak senior-seniornya, menuju ke level yang lebih tinggi lagi,” pesan Kamaludin. [St]

Sandi Rahmat (kiri) dan Kamaludin.

 

 

 

Comments

comments