Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Pengungsi di Seluruh Dunia Lewat STEM dan Isu Keberlanjutan

oleh -
Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Pengungsi di Seluruh Dunia Lewat STEM Dan Isu Keberlanjutan
AFS Intercultural Programs

NEW YORK, — Perempuan dewasa dan remaja yang ingin menempuh pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) telah lama menghadapi tantangan besar. Apalagi, sektor ini biasanya didominasi oleh pria. Di saat bersamaan, insiden yang belakangan terjadi menimbulkan lonjakan jumlah pengungsi, pengungsi internal, dan penduduk tanpa kewarganegaraan di seluruh dunia hingga mencapai 89,3 juta jiwa–hampir 27 persen di antaranya berasal dari kalangan perempuan dewasa dan remaja di bawah usia 18 tahun.

Pendidikan internasional, khususnya kegiatan pertukaran virtual, jarang dimanfaatkan guna mengulas isu ini. Padahal, sarana tersebut dapat menjadi cara yang berpengaruh untuk memperluas kesempatan belajar bagi kelompok yang terpinggirkan.

Membantu Perempuan Remaja Merambah Dunia STEM & Isu Keberlanjutan

AFS Intercultural Programs, sebuah lembaga nirlaba global yang dikenal atas kegiatan pertukaran lintas kebudayaan, telah melaksanakan program yang didanai bp sejak 2011 dan melibatkan generasi muda dalam STEM.

Pada 2021, kedua pihak juga melansir inisiatif berjangka lima tahun yang ambisius tentang aspek keberagaman dan inklusi, serta mengutamakan dukungan bagi perempuan remaja. Program AFS Global STEM Accelerator, diluncurkan pada Juni 2022, adalah program pertukaran virtual yang menyediakan beasiswa penuh bagi 180 perempuan remaja di seluruh dunia. Lewat program ini, perempuan remaja dapat mengakses pendidikan dalam bidang keberlanjutan, STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), serta membuat dampak sosial yang positif.

Memberikan Akses Pendidikan yang Setara bagi Pengungsi

Krisis pengungsi berdampak pada lebih dari 89,3 juta orang di seluruh dunia, termasuk jutaan pengungsi internal asal Syria, Venezuela, Sudan, dan Myanmar. Sejak Februari 2022, dunia pun menyaksikan jutaan penduduk Ukraina terpaksa mengungsi dari rumahnya.

Respons publik terhadap krisis pengungsi kerap berfokus pada penyaluran bantuan kemanusiaan yang bersifat mendesak. Namun, pendidikan adalah hak asasi manusia yang mendasar, dan kerap luput diakses oleh pengungsi yang berusia muda. Hal ini bahkan terlihat jelas di kalangan pengungsi dari perempuan remaja. Menurut UNHCR, akses pendidikan termasuk unsur penting dalam setiap respons atas krisis pengungsi internasional.

Maka, AFS, didukung oleh bp, menambah jumlah beasiswa agar pengungsi dari kalangan perempuan remaja terlibat dalam Program AFS Global STEM Accelerator. Menyadari kebutuhan untuk menjangkau golongan ini, AFS bermitra dengan SPARK, lembaga nonpemerintah internasional di bidang pembangunan yang aktif bekerja di 14 wilayah di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Subsahara.

Selama lebih dari 28 tahun, SPARK membuat landasan bagi generasi muda untuk membangun masa depannya, serta memberikan kesempatan bagi generasi muda, khususnya perempuan remaja dan pengungsi, untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan usahanya sendiri di komunitas yang rentan.

“Pendidikan kewargaan global harus dapat diakses setiap orang. Kami sangat gembira bekerja sama dengan bp dan SPAR sehingga program tersebut dapat dijangkau oleh generasi muda yang kerap luput dari kesempatan belajar ini meski mereka sangat membutuhkannya,” ujar Daniel Obst, President & CEO, AFS. pada siaran pers-nya, (5/8/2022)

Lebih dari 1.000 pelamar dari 71 Negara

Program AFS Global STEM Accelerators melibatkan 1.083 pelamar dari 71 negara, termasuk pengungsi Afghanistan, Ukraina, Nigeria, dan Syria di Turki. Pendaftaran program ini terbuka bagi perempuan remaja (berusia 15-17,5 tahun) di seluruh dunia, terutama mereka yang berminat menjadi pembuat terobosan di tengah komunitasnya. AFS secara khusus mengalokasikan 20 persen beasiswa yang tersedia bagi pengungsi dan perempuan remaja dari kalangan pengungsi internal, baik akibat peperangan, aksi kekerasan, atau bencana alam.

Sebanyak 180 beasiswa yang diterima perempuan remaja dari 61 negara ini mencerminkan aspek keberagaman dan inklusi yang ingin dicapai program tersebut:

  • 20 persen penerima beasiswa mengidentifikasi diri sebagai pengungsi atau berasal dari komunitas pengungsi internal
  • 82 persen penerima beasiswa mengidentifikasi diri sebagai orang kulit berwarna (People of Color)
  • 51 persen penerima beasiswa berasal dari keluarga berpendapatan rendah
  • 10 persen penerima beasiswa akan menjadi orang pertama dari keluarganya yang segera lulus dari sekolah menengah atas

AFS dan bp menilai, akses teknologi dan koneksi internet mengalami kesenjangan secara global. Maka, kedua pihak pun siap memenuhi kebutuhan ini.

“Kami gembira menyaksikan betapa antusiasnya perempuan remaja yang brilian ini,” kata Kerry Dryburgh, EVP people & culture, bp.

“Setelah mempelajari semangat untuk membuat perbedaan dan mengembangkan keahlian, mereka adalah pembuat terobosan, pemimpin, dan inovator masa depan—kami berharap mereka berhasil dalam perjalanannya,” tandasnya.

Pengalaman dari penerima beasiswa turut mendukung klaim bahwa kegiatan pertukaran virtual menjadi sarana yang berpengaruh guna memperluas akses kesempatan belajar.

“Saya berasal dari suku Pashtun yang tradisional, dan di provinsi asal saya, kaum perempuan bahkan tidak berhak belajar di sekolah. Di setiap sudut di negara saya, ketidaksetaraan gender terlihat jelas. Seluruh tantangan ini memberikan saya kekuatan untuk menciptakan identitas sendiri, dan berani tampil beda dari orang-orang di sekitar saya. Keikutsertaan dalam program ini akan menjadi langkah pertama untuk mencapai target saya, yakni menjelajahi dunia dan menjadi sosok yang berpengaruh dalam meningkatkan masyarakat yang berkelanjutan,” —Harira, asal Afghanistan

Langkah Berikutnya bagi Perempuan Remaja Ini

Puncak dari program AFS Global STEM Accelerators adalah melibatkan penerima beasiswa untuk membuat tugas akhir (capstone project) dan presentasi tentang dampak sosial, khususnya mengulas aspek keberlanjutan. Peserta akan menerima “Advanced Certificate on Global Competence for Social Impact” dari AFS dan University of Pennsylvania, serta validasi resmi atas tugas akhir mereka dari University of Pennsylvania Center for Social Impact Strategy. Kegiatan belajar peserta dan tugas akhir dibimbing oleh tim fasilitator dengan latar belakang yang beraneka ragam, terdiri atas 12 fasilitator berkualifikasi (seluruhnya beranggotakan perempuan) dari sembilan negara.

Setelah program selesai, penerima beasiswa diundang untuk bergabung dalam komunitas alumni. Mereka akan mendapat kesempatan mengikuti program bimbingan, sesi pengembangan keahlian, diskusi panel, serta peluang pengembangan lain. Penerima beasiswa juga akan diundang untuk berpartisipasi dalam AFS Youth Assembly, pertemuan berskala global yang menghadirkan generasi muda yang aktif mewujudkan Target-Target Pembangunan Berkelanjutan PBB.***

Comments

comments