SEMARANG – Suasana pagi yang cerah, tampak disambut rombongan anak-anak berbaju koko warna putih dengan peci hitam. Mereka berjalan beriring dan berarak menyusuri jalan Krapyak Semarang Barat Kota Semarang. Nampak pula pada barisan paling depan 4 (empat) anak memegang atribut bertuliskan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tempat mereka belajar mengeja huruf hijaiyyah hingga bisa membaca Al-Qur’an.
Pemandangan tersebut adalah Kirab Aswaja yang dilaksanakan Pimpinan Ranting (PR) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kelurahan Krapyak dalam memeriahkan Hari Lahir (Harlah) ke 96 NU yang digelar oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Krapyak.

“Ini adalah Kirab Aswaja yang dimaksudkan untuk syiar islam yang ramah, islam yang mengerti dan memahami untuk hidup damai di negara yang berbhineka tunggal ika,” kata Ketua Pimpinan Ranting (PR) Muslimat NU Krapyak, Hj Iswahani usai penyerahan hadiah di Gedung Kanzus Shalawat 2 Semarang, Minggu (30/1/2022).
Menurut Iswahani, semarak tersebut bukan sebatas euforia usia NU yang hampir mencapai 1 (satu) abad, lebih dari itu juga perwujudan rasa syukur terhadap peran organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dengan segenap badan otonom (Banom) di masyarakat.
Dia menyebut kirab diikuti oleh 9 TPQ yang ada di 9 RW Kelurahan Krapyak. Usai kirab dilanjutkan dengan penyerahan hadiah bagi pemenang lomba video, lomba foto, dan kirab di Gedung Kanzus Shalawat 2 Semarang.
Kirab terlaksana sesuai arahan untuk tetap menaati protokol kesehatan, “Ini juga rasa syukur kami bisa ikut berkiprah di berbagai bidang dan kondisi, termasuk pandemi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Iswahani menerangkan sebagian kegiatan Muslimat NU Krapyak dalam membantu pemerintah, antara lain mengontrol jentik nyamuk untuk mencegah wabah demam berdarah, memberikan bantuan bagi terdampak Covid-19, melakukan sosialisasi protokol kesehatan dan sebagainya. Sedangkan dalam membina keagamaan masyarakat, kata dia, ibu-ibu anggota Muslimat yang berlatar belakang santri berperan menjadi Pengajar TPQ, “Ada juga pelaku usaha kecil yang menjadi binaan,” urainya.
Ketua Ranting NU Krapyak Mansyur As-Shiddiqi mengakui bahwa tantangan menjalankan NU di Kecamatan Semarang Barat, khususnya di Kelurahan Krapyak tidak mudah, utamanya agar lebih diterima bukan hanya sebatas paham dan amaliyahnya, “Ini memang tantangan kita yang cukup sulit di Semarang Barat, khususnya di Krapyak,” ungkapnya.
Meski perjuangan tersebut dirasa berat, namun dirinya terus memompa semangat semua pengurus untuk bersama dalam barisan, menggerakkan organisasi demi menyukseskan gerakan keNUan agar NU bisa diterima oleh semua masyarakat, khususnya daerah kelurahan Krapyak, “Alhamdulillah periode ini sudah terbentuk Fatayat, dan Ansor. Kami sangat mendorong agar terus maju,” tuturnya.
Harlah ke 96 di Krapyak, lanjutnya, mengusung tema Kemandirian NU Untuk Kemaslahatan Umat. Tema tersebut, menurut Mansur sejalan dengan program yang tengah dipersiapkan oleh NU Krapyak, yakni pendirian koperasi sebagai aset Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama (BMNU) Krapyak, “Saya sangat berharap tidak hanya mandiri secara organisasi, tapi secara individu. Jadi dalam waktu dekat akan mendirikan BUMNU berbetuk Koperasi. Ini ikhtiar kami untuk membuat NU lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Senada Rais Syuriah NU Krapyak, KH Ahmad Busyairi Harits pun berharap agar NU Krapyak bisa menjadi tonggak tegaknya NU di Kota Semarang, khususnya Kelurahan Krapyak dan Semarang Barat, “Insya Allah sama secara fisik dengan rumusan hasil muktamar NU Lampung baru-baru ini, yaitu salah satunya tetap berkhikmat kepada ulama sebagai pewaris para Nabi. Namun secara khususi tetap menjalankan 4 pilar yang sudah disepakati,” ucapnya.
Empat pilar yang dia maksud yakni bertauhid mengikuti manhaj Imam Abul Hasan Al-Asyari, Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kedua, di bidang ibadah mengikuti salah satu mazhab empat yaitu Imam Syafi’i. Dalam penanaman akhlak mengikuti Imam Al-Ghazali, dan imam Al-Junaid Al-Baghdadi, dan bidang budaya tetap berpedoman kepada kaidah al-muhafadzatu ‘ala-qadimisshalih wal-akhdzu bil-jadidil ashlah.
“Menjaga, memelihara budaya lama yang baik dan relevan, serta menerima budaya baru yang lebih baik dan bermanfaat,” terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan hal baru yang harus dikuasai oleh warga NU yaitu teknologi, komunikasi dan seni (IPTEKS). Meski demikian, dirinya juga tetap memprioritasnya pengembangan potensi kader NU untuk membina masyarakat, terlebih dirinya mengetahui ada beberapa masjid di Krapyak yang tidak memahami aturan khutbah Jum’at, “Nanti kita adakan pelatihan dai NU,” pungkasnya. (qq)






