Edukasi PHBS, Ketua Harian Satgas Citarum Imbau Warga Tidak Euforia Berlebihan Memasuki Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

oleh -
Edukasi PHBS, Ketua Harian Satgas Citarum Imbau Warga Tidak Euforia Berlebihan Memasuki Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

KAB. BANDUNG, sorotindonesia.com,- Ketua Harian Tim Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum (Satgas Citarum Harum), Mayjen TNI (Purn) Dedi Kusnadi Thamim, sampaikan paparan pada giat Focus Group Discussion edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan di aula Kantor Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Selasa (23/6/2020).

Turut hadir pada acara tersebut, Camat Cileunyi, Solihin, Koramil Cileunyi, Kapolsek Cileunyi, staf ahli Citarum Harum, Taufan, Diskominfo Prov. Jawa Barat, Indah Dwiyanti, Satgas Citarum Sektor 21 Sub-02/Cileunyi, Kepala Desa Cibiru Wetan, Kepala Desa Cibiru Hilir, Kepala Desa Cileunyi Wetan, Sekdes Cileunyi Kulon, TP PKK, tokoh masyarakat, dan tamu undangan lainnya.

“Saya harap warga masyarakat tidak euforia berlebihan dalam situasi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang direncanakan berakhir pada tanggal 26 Juni 2020 ini dan kemudian adaptasi kebiasaan baru,” kata Dedi Kusnadi Thamim yang juga tergabung dalam tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Barat.

Hal ini digambarkannya terkait dengan temuan hasil rangkaian rapid test yang dilakukan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Puncak beberapa waktu lalu.

“Di Puncak dari sekitar 1.200 orang yang dilakukan rapid test, hasilnya 88 orang reaktif. Semua dari Jakarta. Jika ada yang hasilnya positif (SWAB), akan berlaku penyekatan sementara tempat wisata di Jawa Barat yang hanya boleh dikunjungi warga Jawa Barat. Tapi mudah-mudahan hasilnya negatif,” ungkap Pangdam Siliwangi pada tahun 2014-2015 ini.

Persoalan yang dikuatirkan, lanjut Dedi, adalah munculnya gelombang kedua wabah Covid-19.

“Kekuatiran adalah munculnya Covid-19 gelombang kedua. Karena akan timbul krisis ekonomi, gejolak sosial yang berpotensi pada persoalan keamanan dan ketertiban. Oleh karena itu, Polri dan TNI di kewilayahan turut mengawasi. Bagi wilayah yang memiliki tempat wisata agar ketat dalam memberlakukan protokol kesehatan bagi pengunjung, seperti menggunakan masker, cuci tangan, dan menjaga jarak,” terang Dedi Kusnadi Thamim.

Meski demikian, dijelaskannya lebih lanjut, bahwa saat ini di Jawa Barat sudah beberapa sektor yang sudah terbuka semasa PSBB, termasuk tempat ibadah dengan melihat zona.

“Rumah ibadah yang dibuka itu di wilayah zona hijau atau biru. Jadi, misalnya di kabupaten A dikatakan kuning, tapi di kecamatan atau desanya hijau, itu sudah bisa dibuka dengan memperhatikan protokol kesehatan. Saya sendiri berkeliling ke masjid-masjid dan melihat prosedur itu sudah diikuti,” jelasnya.

“Kemudian untuk industri yang berada di zona hijau, sudah beraktifitas seperti biasa, namun juga tetap memprioritaskan protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan atau hand sanitizer, physical distancing dan penggunaan masker, karena pencegahan penularan dengan cara itu sangat kuat agar Covid-19 tidak berkepanjangan,” urai Dedi Kusnadi Thamim.

Selain menerangkan terkait penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19, Dedi Kusnadi Thamim pada kesempatan paparan di FGD Edukasi PHBS menyinggung tentang kebiasaan buang air besar (BAB) sebagian warga masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai.

“Masyarakat di bantaran sungai masih banyak yang melakukan aktifitas BAB yang langsung dialirkan ke sungai karena tidak memiliki septictank. Oleh karena itu, saya mengajak warga untuk melakukan aktifitas PHBS,” ungkapnya.

“Tadi saya sudah sampaikan ke Pak Kades dan Pak Camat untuk bisa melaksanakan penanganan dan pembinaan warga. Misal ada lahan kosong dan pemiliknya tidak keberatan untuk dimanfaatkan, dibuat IPAL domestik komunal untuk sekitar 10 atau 20 rumah,” harap Dedi Kusnadi Thamim.

Tidak hanya terkait kotoran manusia, Dedi Kusnadi Thamim juga menyentuh para peternak.

“Banyak peternak yang hanya menikmati hasilnya saja, sedangkan limbahnya masih dibuang sembarangan. Alhasil DAS Citarum masih tercemar limbah kotoran tersebut,” ujarnya.

Limbah kotoran manusia dan hewan ternak ini ditengarai sebagai salasatu penyumbang bakteri e-coli berbahaya bagi kehidupan masyarakat khususnya yang menggunakan air sungai yang tercemar.

[St]

Comments

comments