The Kamasan Coffee Shop, Destinasi Kuliner Dan Ruang Komunitas Menarik Di Kota Bandung

oleh -
The Kamasan Coffee, Destinasi Kuliner Dan Ruang Komunitas Menarik Di Kota Bandung

BANDUNG – Pandemi Covid-19 yang melanda tanah air selama dua tahun terakhir, membuat aktifitas masyarakat turut terdampak, terutama di sektor pariwisata yang merupakan ujung tombak perekonomian khususnya bagi Kota Bandung sebagai kota urban tourism.

Adanya pembatasan kegiatan masyarakat, terlebih kala pemberlakuan PPKM Darurat, membuat sejumlah pelaku usaha terpuruk, sebut saja ruang komunitas dan kedai kopi HOY (Halmahera 04) yang lokasinya berada di Jalan Halmahera No. 4, Kota Bandung, antara Lapangan Saparua dan RS Halmahera.

“Tadinya disini ramai, kita bekerjasama dengan sejumlah tenant, namun kondisi PPKM darurat membuat mereka terpaksa hengkang karena merosotnya omset,” kata Reza, Marcomm The Kamasan Coffee, beberapa waktu lalu.

“Dampak PPKM sangat terasa, kita hampir kehabisan darah. Tamu yang datang sangat terbatas. Beratnya kita di operasional fixed cost, seperti karyawan, listrik, iuran, dan lain-lain. Itu sempat kita kepukul dan bingung, belum lagi stok barang yang ada masa kadaluarsanya. Menu juga terpaksa kita kurangi untuk efisiensi,” keluh Reza.

Bulan Juni dan Juli 2021 merupakan periode yang berat bagi pelaku usaha kuliner dan space komunitas ini, dikarenakan tidak diizinkan menerima tamu dine in. Kondisi ini menjadi lebih berat karena HOY tidak memiliki pesanan layanan antar. Sehingga terpaksa tutup untuk sementara waktu.

Pada situasi tersebut membuat manajemen berkesempatan melakukan sejumlah perubahan, diantaranya merombak konsep wajah bangunan saat kembali buka dengan adanya relaksasi dan turunnya level PPKM di Kota Bandung.

HOY Ganti Konsep, Hadirkan The Kamasan

Kini HOY telah berganti konsep, diantaranya menjadi The Kamasan yang telah dibangun semenjak pertengahan tahun 2021 ini.

“Kita start coba membangun The Kamasan dari nol sejak sekitar enam bulan lalu, kita manage seadanya. Kondisi fisiknya tidak banyak yang kita ubah. Jadi official kita buka sekitar 6 bulan lalu. Dulu HOY, sekarang kita coba ganti konsep,” terang Reza.

“Tadinya kan semua yang ngisi adalah tenant, karena pandemi, kondisi PPKM jalan juga kerap buka tutup (akses Jl. RE Martadinata), beberapa tenant jadi kesulitan dengan sharing kita, akhirnya tenant berhenti. Ya, akhirnya kosong semua, lalu kita kelola sendiri,” tuturnya.

Dijelaskan lebih jauh oleh Reza, “Konsep The Kamasan juga sebetulnya masih sama dengan HOY, wadah bagi kaum muda, freelance, dan lain sebagainya. Coffee shop juga tampilannya paduan Sunda dan Bali, makanya kita gunakan nama The Kamasan. Kalau dari konsep tempatnya bisa menjadi wadah untuk komunitas-komunitas kecil dan teman-teman kreatif bisa beraktifitas disini,” jelasnya.

Tampak dari luar, di The Kamasan ada booth tenant kuliner dessert Sugar Daddy, Mie Bakso dan warung masakan Jepang. Halamannya disediakan sekitar empat set meja dan kursi yang jaraknya sudah diatur tidak berdekatan, selain itu juga disiapkan tempat duduk tribun. Ini berbeda saat konsep sebelumnya yang terdapat sekitar 8 set meja dan kursi di halaman yang terbuka.

“Tenant yang mengisi sekarang ada Sugar Daddy, Mie Bakso dan tenant Makanan Jepang. Sekarang ini memang kita hanya buka beberapa booth yang berbeda menu dibandingkan saat HOY,” terang Reza.

Masuk ke dalam melewati pintu, tamu juga akan dipertemukan dengan alat pengecekan suhu tubuh dan handsanitizer. Suasananya juga asik, karena furniture meja dan kursi di lantai bawah cukup artistik dengan bahan kayu dipadu dengan kursi dan meja minimalis modern. Selain itu, ada plaza terbuka yang dilengkapi tribun untuk aktifitas kaum kreatif dan komunitas. Menariknya lagi, suasananya jadi terasa lebih sejuk karena ada taman. Nah, dilantai dua, ada jajaran kursi sofa dan juga barisan meja dan kursi kayu.

“Kapasitas keseluruhan ada sekitar 150 tempat duduk,” kata Reza.

Fasilitas lainnya, ada ruang coworking space yang bisa digunakan untuk meeting dengan kapasitas terbatas.

“Harapannya, setelah kondisi level 2 saat ini, kita bangun lagi relationship¬† dengan aktifitas komunitas seperti biasa. Jadi, kita tidak hanya coffee shop saja, tapi kita ada tempat dan fasilitas yang bisa dimanfaatkan. Dan semoga tidak ada kebijakan pengetatan lagi,” harap Reza.

Kegiatan konser kecil musisi Alunan Semesta yang digelar live streaming di The kamasan.

Kini, dengan adanya relaksasi pemerintah, jumlah kunjungan tamu ke The Kamasan coffee shop berangsur meningkat kembali.

“Jumlah kunjungan saat ini di weekday masih rata-rata, kecuali di weekend ada peningkatan,” ungkap Reza.

Namun demikian, tamu juga diimbau untuk menaati prokes (protokol kesehatan) yang berlaku.

“Sarana untuk prokes, kita inisiatif menyediakan tempat mencuci tangan di sebelum pintu masuk. Juga alat pengecekan suhu dan handsanitizer. Ini juga disesuaikan dengan arahan dari pemerintah. Karyawan juga menggunakan masker. Untuk keamanan bersama,” ungkap Reza lagi.

Untuk ngopi dan bersantai, The Kamasan bisa menjadi pilihan. Kopi yang disajikan pun merupakan biji kopi berkualitas. Selain itu, juga ada beragam pilihan makanan berat dan penganan yang menarik untuk dicoba.

“Biasanya anak muda yang datang memanfaatkan The Kamasan untuk kongkow. Untuk itu, kita mensupport aktifitas para kreatif muda ini tentunya juga dengan kekuatan wifi. Karena disini diantaranya ada yang ingin podcast, e-sport, dan youtube live,” pungkas Reza.

Keberadaan The Kamasan ini mendapat sambutan baik dari masyarakat, diantaranya Annisa Nadiya, mahasiswi UPI Bandung yang sempat ditemui sorotindonesia.com.

“Saya sudah merasa cocok dengan suasana tempatnya, strategis, dan makanannya pun menurut saya enak dan harganya relatif terjangkau,” kata Annisa yang datang bersama dua orang temannnya.

“Apalagi sekarang ada bakso, jadi punya pilihan,” tambahnya.

Terkait prokes di The Kamasan, Annisa turut mendukung. “Ya, memang mungkin harus seperti itu, membiasakan dengan adaptasi kebiasaan baru. Untuk menjaga kesehatan bersama. Rajin memakai masker dan mencuci tangan kan untuk kebersihan kita juga,” ujar mahasiswi semester akhir ini yang enggan fotonya dipublikasikan.

[st]

Comments

comments