Operasi Pasar di Kota Semarang Tak Temukan Beras Oplosan, Begini Imbauan Pemerintah

oleh -
oleh
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan saat diwawancarai oleh media. (Foto:Rifqi/sorotindonesia.com)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan saat diwawancarai oleh media. (Foto:Rifqi/sorotindonesia.com)

SEMARANG, sorotindonesia.com – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan mengungkapkan, operasi pasar yang dilakukan di kota Semarang tidak menemukan beras oplosan. Namun pada umumnya pedagang menjual dengan harga diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Menurut dia, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memastikan stok pangan di pasar tradisional dan modern. “Ini yang lagi viral beras oplosan, kita sudah melaksanakan turun ke pasar tradisional untuk melihat stok pangan kita, termasuk harga. Alhamdulillah kebetulan rata-rata diatas Het, yaitu Rp13.000 sampai Rp14.000 untuk beras medium,” kata Endang saat diwawancarai seusai kegiatan gerakan Indonesia Memasak Mustika Rasa bersama Yayasan Lumbung Pangan Indonesia atau Foodbank of Indonesia (FOI), Sabtu (19/7/2025).

Gerakan memasak yang dilakukan oleh Yayasan Lumbung Pangan Indonesia atau Foodbank of Indonesia (FOI) merupakan ikhtiar agar masyarakat kembar menemukan dan memanfaatkan sumber pangan, baik sayuran, lauk maupun bumbu yang belakang ini tergusur oleh tren pola konsumsi yang lebih praktis.

Baca Juga:  Wali Kota Tegaskan, Pemkot Dorong FKUB Jadikan Semarang Peringkat Tertinggi Kota Toleran di Harmony Award

“Kemudian kita sekaligus melihat dari merek-merek itu apakah ada oplosan atau tidak, di pasar Johar kebetulan merek-merek itu tidak ditemukan. Masih dalam kondisi yang aman,” imbuhnya.

Hari selanjutnya, dirinya juga menurunkan tim untuk melakukan pengecekan terhadap kesesuaian kemasan dengan kualitas beras kemasan medium dan premium di pasar modern seperti Superindo, Ada Swalayan, Indomaret dan Alfamart.

“Turun ke sana, dilihat dari ketentuan speknya, kadar airnya (hasilnya) sudah terpenuhi rata-rata dibawah 14 persen. Kemudian patahannya untuk yang medium juga sudah sesuai ketentuan, kemudian sudah mempunyai izin edar. Artinya ketika temen-temen tim ini turun relatif cukup aman,” ucapnya.

Meski demikian, dirinya mengimbau agar masyarakat memperhatikan kemasan sebelum membeli, pastikan kesesuaian beras medium dan premium sesuai dengan yang tertera dalam kemasan. “Kalau memang premium berarti bijinya rata-rata utuh, ada pecahan memang, tapi tidak banyak, tapi kalau medium pecahannya relatif lebih banyak daripada yang premium,” jelasnya.

Baca Juga:  Implementasikan Hasil Penelitian BRIN, Pemkot Semarang Terapkan Alat Pendeteksi Banjir dan Longsor di 20 Titik

Jika beras dalam kemasan premium dikocok, lanjutnya, kalau nampak banyak pecahan beras berkumpul di bawah maka perlu dipertanyakan. “Lah ini perlu dipertanyakan kepada penjualnya,” pesannya.

Ia juga berpesan agar masyarakat memilih beras dengan kualitas yang baik melalui pengecekan terhadap kadar air. “Kalau kadar airnya itu tinggi, ketika dibawa (dipegang) itu terasa agak gembel-gembel gitu (lengket). Nah, pilih yang berkualitas baik,” ucapnya.

Terkait dengan jika terjadi temuan beras oplosan di Semarang, dirinya meminta untuk melaporkan secara langsung melalui aduan Lapor Semarang sebagai solusi. “Malah justru harus (lapor jika menemukan beras oplosan),” katanya.

“Kalau masyarakat atau temen-temen media menemukan mie yang berformalin, kemudian kenakalan dalam beras ini, segera lapor karena keterbatasan tenaga kita meskipun kita juga punya kader pengaman di pasar,” jelasnya. (*)

Comments

comments