Konsisten Dan Pengalaman Rehabilitasi Pengguna Napza, Bapas Kelas II Pati Gandeng IPWL At Tauhid Semarang

oleh -
Konsisten Dan Pengalaman Rehabilitasi Pengguna NAPZA, Bapas Kelas II Pati Gandeng IPWL AT-TAUHID Semarang

SorotIndonesia.com , Semarang – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Pati menilai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Yayasan Rehabilitasi AT-TAUHID Semarang merupakan salah satu lembaga yang konsisten dan berpengalaman dalam merehabilitasi korban penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Karena itu, Bapas menggandeng IPWL AT-TAUHID dalam sebuah perjanjian kerjasama (MoU).

Perjanjian kerjasama antara dua lembaga tersebut dilakukan oleh Kepala Bapas Kelas II Pati, Muhammad Nurseha dengan Direktur IPWL Yayasan Rehabilitasi AT-TAUHID Semarang, Singgih Yonkki Nugroho disaksikan pejabat di lingkungan Bapas, pembina dan para konselor serta puluhan klien atau santri di aula IPWL AT TAUHID, Jl. Gayamsari Selatan II RT 03 Rw 03 No. 41 Kelurahan Sendangguwo Kecamatan Tembalang Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2020).

Kepala Bapas Kelas II Pati, Muhammad Nurseha menuturkan, dipilihnya IPWL Yayasan Rehabilitasi AT-TAUHID Semarang bukan tanpa alasan, berdasarkan informasi yang ia terima, lembaga IPWL AT-TAUHID yang berbasis pesantren itu telah berhasil merehabilitasi ratusan bahkan ribuan korban penyalahgunaan NAPZA dari berbagai daerah di Jawa bahkan berbagai daerah di Indonesia.

Meski memiliki segudang pengalaman sejak eksis pertama pada tahun 1998, namun resmi secara kelembagaan baru tahun 2013 lalu, “Jadi tidak salah dan sangat tepat kita mengajak dan melakukan perjanjian¬† kerjasama dengan IPWL AT-TAUHID dalam program pembinaan dan merehabilitasi korban NAPZA,” tutur Muhammad Nurseha usai penandatanganan perjanjian kerjasama

Muhammad Nurseha yang belum lama memimpin Bapas Kelas II Pati itu melanjutkan, selain melakukan kerjasama dengan IPWL AT-TAUHID, pihaknya juga melakukan perjanjian kerjasama dengan IPWL-IPWL di eks karesidenan Pati, yang meliputi Kabupaten Pati, Jepara, Kudus, Rembang, Grobogan dan Blora.

“Hari ini, selain kita melakukan kerjasama perjanjian dengan IPWL AT TAUHID Semarang juga melakukan kerjasama dengan LPSA Raden Syahid Kebonagung Demak. Kunci sukes dalam pemasyarakatan adalah, petugas Lapas, narapidana itu sendiri dan peran dari masyarakat, lembaga-lembaga yang kita gandeng ini bagian dari partisipasi dari masyarakat,” ungkapnya.

Membenarkan hal itu, Pembina IPWL AT TAUHID Semarang, Nyai Hj. Masliyah mengakui lembaga yang dikelolanya memang telah merehab ribuan korban penyalahguna NAPZA dari berbagai daerah Indonesia, tidak hanya dari Semarang dan Jawa Tengah saja, dari luar Jawa juga banyak.

“Sudah banyak yang kita rehab dan alhamdulillah berhasil, mereka tidak mengulangi perbuatannya lagi. Banyak juga yang telah sukses, ada yang jadi pengusaha, buka usaha bengkel, buka toko buah, jual sembako dan bahkan juga ada yang jadi kiai,” bebernya

Di sini, lanjutnya, terapi ditekankan pada penguatan mental spiritual dengan metode religius seperti doa, zikir, salawat dan mengaji. Selain itu, mereka juga dibekali skill (Ketrampilan), seperti otomotif, tukang, mental wirausaha seperti jual buah, jual sembako, jual aneka bumbu dapur serta usaha lain.

“Dalam membimbing para santri (Klien) korban NAPZA kita kedepankan kasih sayang dan kita buat happy fun. Kita ciptakan suasana anak ceria dan bahagia, kita ajak guyon (Canda), ajak wisata (Refreshing), bernyanyi (Karaoke) dan olahraga. Kita buat anak senang, kita ajak berpikir positif dan produktif,” pungkasnya. (ARH)

Comments

comments