KADIN, Satu Atau Dua Tak Masalah

oleh -
KADIN, Satu Atau Dua Tak Masalah
Kadin Pimpinan Eddy Ganefo Usai Menghadap Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu. [Foto: dok]

Oleh : M. Mufti Mubarok
Direktur Institute Development And Economic (IDE)

Pernyataan Kemendagri Bapak Muhammad Tito Karnavian pada penutupan Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid (AR) di ICE BSD, Tangerang, Banten, 23 Juni 2022 kemarin, yang menyatakan dukungan terhadap keberadaan satu-satunya Kadin sebagai induk organisasi usaha di Indonesia.

Setahun yang lalu surat dukungan dilakukan Ketua DPD RI yang juga mengeluarkan surat pengakuan Kadin AR. Mengapa Kadin AR perlu melakukan dukungan-dukungan pejabat publik, tentu ada tanda tanya besar? karena, dua pernyataan ini dapat kita pahami sebagai ketidakpercayaan diri dan ketidakpahaman Kadin AR dalam menyikapi dualisme Kadin.

Kemelut dualisme kepemimpinan Kadin terus berbuntut panjang, dan sampai hari ini belum menemukan titik terang. Dimulai dari periode ketua umumnya MS Hidayat sampai pada periode ketua umum Suryo Bambang Sulisto (SBS).

Awal mula kemelut pecahnya Kapal Kadin saat periode SBS Ketum Kadin ini genderang perpecahan di mulai, namun sebenarnya pada Ketum MS Hidayat riak-riak gelombang perpecahan juga sudah mulai.

Sekarang sudah terlanjur pecah, diakui atau tidak, sah atau tidak, palsu atau tidak memang kenyataannya ada dua Kadin, yang satu Ketumnya Arsjad Rasjid, bernama Kadin Indonesia dengan logo perahu dengan layar 5 berkantor di Jalan Kuningan, Jakarta. Sementara itu, satunya lagi Kadin Paradigma Baru terpilih dua periode Ketumnya Eddy Ganefo (Egan) dengan logo perahu dengan layar 3 yang berkantor di Cokroamino, Jakarta.

Sebenarnya sudah ada segmen yang berbeda antara Kadin AR dan Egan. Kadin AR segmen pro pemerintah (Proyek), borjuis, lebih konglomerat atau kolonial. Sementara Kadin Egan adalah pro rakyat, proletan (UMKM), milenial. Namun dalam prakteknya, kedua ini kadang saling bertabrakan di lapangan dan bahkan cenderung adu power di daerah.

Memang dulu menjadi anggota atau pengurus Kadin biasanya terkait dengan proyek pemerintah, namun sekarang proyek-proyek pemerintah dilakukan melalui lelang online yang jumlah proyeknya makin berkurang, sudah sedikit proyek masih menjadi rebutan, jadi akhir-akhir ini menjadi anggota dan pengurus Kadin hanya menjadi ajang nostalgia dan silaturahmi pengusaha.

Kemelut dualisme ini semakin parah setelah masuknya perang elit yang saling adu legitimasi. Sebut saja Kadin AR memakai tangan-tangan pejabat publik untuk memberikan “Surat cinta” pada kepala-kepala daerah. Sementara Kadin Egan pada periode pertama juga waktu itu banjir dukungan dari Presiden RI, dan banyak kementerian terkait.

Sebenarnya Kadin tidak ada hubungan dukung-mendukung pejabat publik. Sebenarnya kalau merujuk UU No 1 Tahun 1987 pasal 5 Kadin bersifat mandiri, bukan organisasi pemerintah dan bukan organisasi politik. Jadi sudah jelas sebenarnya pejabat publik bukan lembaga untuk saling klaim untuk legitimasi Kadin.

Kemelut karena banyak kepentingan politik, diakui atau tidak, menjadi ketua umum Kadin secara turun temurun menjadi Menteri Kabinet, ada Aburizal Bakrie, MS Hidayat, Rizal Ramli, para ketua umum menjadi menteri. Namun sejak periode kedua Pak Jokowi jadi presiden, Ketua umum versi Kadin AR maupun ketua Umum Kadin Egan Cokroaminoto, keduanya tidak mendapat jatah di Kabinet. Mungkin karena AR lebih dekat dengan Menteri BUMN maka AR masih dipakai untuk tim ekonomi dalam Covid dan UU Omnibus law. Sementara Egan Lebih memilih di luar pemerintahan dengan lebih mengurusi UMKM.

Kadin lembaga produk UU No 1 tahun 1987, UU Kadin sudah sangat tua dan perlu revisi UU Kadin sangat diperlukan. Kadin sudah berusia 34 tahun sebuah umur organisasi yang sangat tua.
Maka Kadin perlu segera merevisi UU Kadin dan sekaligus perpresnya No 17 tahun 2010 dengan mengakomodir kepentingan pengusaha kolonial dan milenial di Indonesia, banyak organisasi pengusaha yang afiliasi ke Kadin atau yang diluar Kadin lebih besar dari Kadin sekarang ini.

Perlunya Rekonsiliasi

Beberapa kali para petinggi sebenarnya mencoba ingin berekonsiliasi tapi hasil masih nihil. Karena masing-masing elit masih egosentris, tidak ada yang saling mengalah. Maka jalan satu satu kedua ketua umum harus menghadap presiden dan merubah AD dan ART. Dan mengesahkan apakah Kadin wadah tunggal atau mengakui ada dua Kadin.
Pada tahun 2022 sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk dualisme karena situasi ekonomi nasional yang sedang carut marut ini akibat pasca pandemi yang berkepanjangan ditambah dengan konflik yang tajam di daerah, membuat iklim usaha tidak produktif.

Dua Kadin Tidak Masalah

Di banyak negara, Keberadaan organisasi seperti Kadin memang tidak hanya satu. Di Jepang misalnya, ada dua kadin, di Jerman juga lebih dari satu Kadin, bahkan di Malaysia ada 4 Kadin, di Brunei ada 6 Kadin dan di banyak negara juga banyak Kadin.

Kadin Pusat tenang-tenang, Kadin Daerah tak nyaman
Hampir semua provinsi dan daerah kabupaten dan kota risau akan kemelut dualisme kepemimpinan daerah, bahkan ada yang hingga mau adu fisik, ada yang tidak diakui, ada yang minoritas dan ada yang mayoritas tergantung kekuasaan yang berkuasa.

Keabsahan Munas Kadin AR

Kadin Cokroaminoto akan menggelar Munas IX di Jakarta pada Desember ini, sedangkan Kadin Kuningan juga akan menggelar Munas hingga molor lebih dari 6 bulan. Maka sebenarnya Kadin AR ada kelemahan yang fundamental terkait dengan keabsahan Munasnya. Harus ada pertemuan bersama antara dua Kadin sebelum Munassus masing-masing. Atau dalam munassus masing-masing merubah AD dan ART untuk diterbitkan Perpres Baru pengganti Perpres 17/2010. Sehingga kedua Kadin sama sama saling ada legitimasi .

Kadin Sudah Mulai Tertinggal

Sebenarnya banyak yang bisa dikerjakan dua Kadin, masalah penangangan dan pemulihan ekonomi pasca pandemi ini mestinya menjadi perhatian kedua Kadin. Jangan hanya memikirkan ego elite kekuasaan, saling berebut jatah ekonomi pemerintah. tapi Kadin perlu mandiri berkontribusi buat perekonomian nasional.

Comments

comments