Deputi IV Menko Maritim Kunjungi PT IEM, Dorong Pengusaha Tingkatkan Recycle Limbah Cair

oleh -
Deputi IV Menko Maritim Kunjungi PT IEM, Dorong Pengusaha Tingkatkan Recycle Limbah Cair

SOROTINDONESIA.COM, Kabupaten Bandung,- Deputi IV Menko Maritim, Dr Safri Burhanudin, laksanakan kunjungan ke perusahaan tekstil PT Idaman Era Mandiri (IEM), Jl. Cisirung, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Sabtu (14/7/2018).

Kunjungan Deputi Menko ini untuk melihat secara langsung proses IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) perusahaan tersebut, didampingi oleh manajemen perusahaan, dan ikut dihadiri oleh Mayjen TNI Zaedun, Komandan Sektor Satgas Citarum Kolonel Kav Purwadi dan Kolonel Inf Yusep Sudrajat serta awak media.

PT IEM yang merupakan produsen benang jahit itu adalah salasatu pelanggan dari IPAL komunal yang dikelola oleh PT Mitra Citarum Air Biru (MCAB). Hendra Indrawirawan, selaku pimpinan perusahaan, selama kunjungan Safri Burhanudin menerangkan proses pengolahan air limbah dari mulai bagian produksi hingga proses air limbah yang sudah jernih kembali ke inlet dan sebagian lagi dialirkan ke IPAL komunal.

IPAL PT IEM yang sudah beroperasi sejak dua tahun lalu itu, tampak tertata apik dan ringkas serta tidak mengeluarkan bau. Safri bahkan berkesempatan mengambil air hasil pengolahan limbah di bak outlet menggunakan gelas plastik dan menciumnya dari jarak yang sangat dekat.

“Kami sudah me-recycle sekitar 24 persen limbah dari total kapasitas 146 meter kubik,” terang Hendra.

Menanggapi hal itu, Safri Burhanudin dihadapan awak media berharap agar perusahaan dapat meningkatkan kapasitas limbahnya yang di recycle. “76 persen limbah disini dialirkan ke IPAL komunal, jika sistem recycle dapat ditingkatkan, tentunya banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh perusahaan,” kata Safri. Ia juga mengapresiasi IPAL yang dibangun oleh PT IEM dan hasilnya yang dinilai baik.

Untuk itu, Safri mengimbau para pengusaha dapat meningkatkan sistem recycle di pengolahannya IPAL-nya.

Seusai kunjungan di PT IEM, Safri Burhanudin bersama rombongan melanjutkan kegiataannya meninjau IPAL Komunal PT MCBA.

Disini, Safri menilai kapasitas IPAL komunal sangat rendah. “Akibatnya, limbah yang masuk ke IPAL komunal paling diolah 10 sampai 20 persen lalu dibuang lagi,” kata Safri. “Alat pengolahan yang dimiliki harusnya sesuai dengan kapasitas produksi. Saya masuk kesini bau dimana-mana,” ujar Safri mengingatkan.

Sesuai informasi dari sumber yang didapat sorotindonesia.com, kendala pelanggan IPAL komunal adalah saat terjadi banjir, yang mengakibatkan hambatan pada kapasitas produksi, karena pengolahan di IPAL komunal menjadi tidak optimal.

“Perusahaan sudah membuat kontrak dengan IPAL komunal, jadi, limbahnya yang keluar sudah menjadi tanggung jawab IPAL komunal, bukan lagi tanggung jawab perusahaan (pabrik). Karena pabrik sudah membayar IPAL komunal untuk mengolah limbahnya. Pabrik yang tidak memiliki IPAL, diserahkan kepada IPAL komunal,” terang Safri. Ia menekankan pada kesempatan tersebut agar IPAL komunal PT MCAB dapat membenahi saluran pipa dan kapasitas pengolahannya serta tidak sembarangan membuang hasil pengolahan limbah yang belum layak dibuang ke aliran sungai agar tidak mencemari Citarum. [St]

Comments

comments