Dansektor 21 Satgas Citarum Tinjau Pengerukan Sungai Cidurian, Kades Buah Batu: Alhamdulillah Kini Sudah Aman Dari Banjir

oleh -
Dansektor 21 Satgas Citarum Tinjau Pengerukan Sungai Cidurian

KAB. BANDUNG, sorotindonesia.com,- Komandan Sektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat melaksanakan peninjauan kegiatan pengerukan sedimentasi aliran Sungai Cidurian di Desa Buah Batu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (16/7/2020).

Turut hadir pada kegiatan tersebut, antara lain Kapolsek Bojongsoang Kompol Maman, Kepala Desa Buah Batu, Asep Supriatna, Ketua LPMD Buah Batu, Hermana, pengembang GSP Property, Ariansyah Eka Saputra, Dansubsektor 21-04 Peltu Amran, serta tokoh masyarakat.

Datang ke lokasi pengerukan sekitar pukul 09.30 WIB, Kolonel Inf Yusep Sudrajat langsung meninjau kegiatan alat berat dan meniti dinding tanggul penahan sungai untuk melihat kondisi hasil pengerukan.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat meninjau langsung kegiatan pengerukan sedimentasi di Sungai Cidurian, Desa Buah Batu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (16/7/2020).

Menariknya, dinding tanggul sepanjang ratusan meter tersebut merupakan hasil swadaya antara pengembang berkolaborasi dengan masyarakat, menimbang kawasan tersebut sebelum Sungai Cidurian dikeruk Satgas Citarum Sektor 21, kerap terdampak luapan air Sungai Cidurian.

Pengerukan oleh Satgas Citarum ini sendiri dimulai pada tanggal 27 Februari 2020 lalu, beberapa hari setelah kunjungan Dansektor 21 ke lokasi tersebut dan melihat kondisi sedimentasi yang tingginya sudah hampir sejajar dengan permukaan jalan.

Alhamdulillah, pekerjaan pengerukan ini telah dirasakan dampaknya oleh warga masyarakat. Beberapa kali hujan deras di wilayah Bandung, air disini tidak lagi meluap,” sebut Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat dihadapan awak media.

“Jadi, 5 bulan yang lalu diturunkan 1 (satu) escavator dan 3 dumptruck untuk bekerja disini mengangkat sedimentasi. Hasilnya kini sudah terangkat sedimentasi di sepanjang sungai kurang lebih 3 Km lebar 20 meter dengan kedalaman sekitar 3 sampai 4 meter,” terangnya.

Diakui oleh Kolonel Yusep bahwa permasalahan sedimentasi ini hampir terjadi di wilayah anak Sungai Citarum.

“Ada keterbatasan jumlah alat berat, sehingga selepas dari sini (Sungai Cidurian), alat berat akan digeser ke sungai yang lain, kita akan lihat prioritasnya,” ungkap Kolonel Yusep.

Terkait dengan dinding tanggul penahan sungai yang dibangun oleh masyarakat, Kolonel Yusep menyatakan apresiasinya.

“Tanggul ini dibuat oleh masyarakat sini, terutama oleh pengembang yang berkepentingan karena kalau banjir, pengembang juga sangat dirugikan. Tapi setelah pekerjaan ini dilakukan simultan, sudah tidak menjadi kendala lagi bagi pengembang dan masyarakat,” pungkas Kolonel Yusep.

Masyarakat Berterimakasih Atas Pengerukan Sedimentasi Sungai Cidurian Oleh Satgas Citarum Sektor 21

Hasil pengerukan sedimentasi yang kini sudah terasa dampaknya oleh masyarakat di Desa Buah Batu, Kecamatan Bojongsoang, disampaikan oleh diantaranya CEO PT GSP, Ariansyah Eka Saputra kepada awak media.

“Kami mewakili masyarakat mengucapkan terimakasih kepada Satgas Citarum, Kodam Siliwangi, karena pengerukan ini adalah yang terbesar dan berdampak besar bagi masyarakat,” ucap Ari, sapaan akrab dari Ariansyah Eka Saputra.

“Sudah kurang lebih 2 tahun Sungai Cidurian ini tidak pernah diperhatikan. Kalaupun sebelumnya pernah dilakukan pengerukan, itu kurang lebih hanya 2 minggu dan panjangnya hanya 500 meter, Jadi, saya pikir dari hampir 10 tahun kebelakang pengerukan kali ini yang paling berdampak, karena dikeruk sepanjang 3 Km dan pekerjaan hampir selama 5 bulan,” ujarnya.

“Dampak yang kami rasakan, musim hujan kemarin limpasan air sudah tidak ada, mudah-mudahan kedepannya pun kayak gitu,” ucap Ari.

GSP yang juga telah berinisiatif  membangun dinding tanggul penahan sungai, dijelaskan oleh Ari, “Panjang tanggul ini kita buat dari mulai jembatan sampai gerbang, sekitar 750 meter, ketinggian dari dasar sungai sampai ke atas 3 meter. Pembuatan tanggul ini sudah dua tahap, pertama dibangun 2017 lalu, hanya 70 cm di atas top jalan, tapi ternyata air masih limpas sehingga kita naikkan lagi sampai seperti kondisi sekarang. Saya jelas berkepentingan sekali untuk mengamankan kawasan ini dari limpasan air,” tutupnya.

Kesempatan yang sama, Kepala Desa Buah Batu, Asep Supriatna mengungkapkan, “Alhamdulillah, dengan adanya pengerukan Sungai Cidurian oleh Satgas Citarum Harum Sektor 21, sangat membantu, dan juga kami sangat berterima kasih kepada pengembang yang sebetulnya pembangunan tanggul ini murni dari biaya pengembang, tetapi dampaknya ke masyarakat jadi merasa aman dari banjir,” ucapnya.

Asep Supriatna menjelaskan lagi, “Masalah awal Cidurian adalah karena terjadinya percepatan sedimentasi, salasatu faktornya disebabkan oleh tanggulan permanen yang dibuat oleh petani untuk pengairan. Tetapi menurut aturan BBWS tidak boleh ada hambatan di aliran sungai. Akhirnya oleh adanya program ini, Dansektor 21 menginginkan kelancaran di badan air, karena adanya tanggulan ilegal ini akan mempercepat sedimentasi, apalagi sudah dua tahun ini tidak ada pengerukan dari BBWS Citarum,” ungkapnya.

Masih menurut Asep Supriatna, “Pengerukan ini pernah diusulkan pada tahun 2017 dan 2018 melalui musrenbang, tetapi belum ada realisasi. Pernah ada sebetulnya realisasi di dekat jalan tol kurang lebih sekitar 100 meteran, tapi belum ada kelanjutannya lagi,” ujarnya.

Disebutkan oleh Kepala Desa Buah Batu ini, bahwa gotong royong pengerukan Sungai Cidurian juga melibatkan warga masyarakat.

“Dari masyarakat sangat mendukung dan ada partisipasi, kalau dinilai materi mungkin tidak seberapa, tapi dukungan moral terhadap pengembang dan Satgas Citarum untuk membangun ini sangat tinggi,” ungkapnya.

“Saya sampaikan juga kepada warga, program Citarum ini kan mungkin hanya sementara saja, saya sampaikan kepada warga sungai ini adalah milik kita dan manfaatnya untuk kita. Untuk itu, saya sarankan dan saya himbau agar warga untuk ikut serta menjaga kebersihan sungai,” terang Asep.

Sehubungan dengan sampah kawasan, Asep Supriatna juga berharap ada solusi teknologi yang dibangun di Desa Buah Batu.

“Kita sementara ini, sampah yang di perumahan diangkut oleh dinas kebersihan, sedangkan yang disini sementara dikelola mandiri, tetapi dengan cara yang konvensional. Harapannya, kedepan kita mempunyai tempat pengelolaan sampah sendiri dengan teknologi yang ramah lingkungan,” harapnya.

[St|Azs]

Comments

comments