Dansektor 21 Satgas Citarum : Parameternya Air Jernih Dan Ikan Hidup

oleh -
Dansektor 21 Satgas Citarum Sidak PT Cemara Agung - Cicalengka

SOROTINDONESIA.COM, Bandung,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat beserta jajaran melaksanakan sidak (inspeksi mendadak) ke perusahaan tekstil PT Cemara Agung, Jl. Raya Cicalengka KM. 31, Kabupaten Bandung, Senin (24/9/2018).

Sidak ini dilakukan karena disinyalir perusahaan tersebut telah membuang limbah cairnya dalam kondisi yang kurang optimal berdasarkan temuan dari anggota satgas subsektor 21/16.

Setibanya ke lokasi PT Cemara Agung, Dansektor bersama jajaran langsung menuju ke IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), didampingi oleh HRD perusahaan, Agus, dan kepala bagian IPAL, Yoyo. Dansektor mencermati sejenak TPS B3 dan berkeliling melihat situasi IPAL sambil mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh Yoyo. Tampak, ikan dan tanaman air sudah hidup di bak indikator, namun air hasil olahan limbah yang dikeluarkan berwarna kekuningan.

Sebelum memaparkan hasil dari sidak tersebut, Dansektor mengambil sendiri sampel hasil olahan air limbah PT Cemara Agung di outlet IPAL menggunakan botol plastik, disaksikan oleh awak media dan perwakilan perusahaan.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kol. Inf Yusep Sudrajat menunjukan sampel air olahan limbah di outlet IPAL PT Cemara Agung - Cicalengka
Dansektor 21 Satgas Citarum Kol. Inf Yusep Sudrajat menunjukan sampel air olahan limbah di outlet IPAL PT Cemara Agung – Cicalengka, Senin (24/9/2018).

Pada pertemuan yang dihadiri oleh Direktur Utama PT Cemara Agung, Bonny Oey dan staf manajemen, Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat memaparkan terkait kondisi Sungai Citarum hingga diterbitkannya Perpres No.15 tahun 2018.

“Standar baku mutu yang diterapkan disini sudah gagal, entah baku mutunya atau orangnya yang gagal. Buktinya, ekosistem di Sungai Citarum mengalami kerusakan. Bahkan Sungai Citarum sempat viral dengan predikat sungai terkotor di dunia pada akhir tahun 2017 lalu,” paparnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Yusep, “Oleh karena itu, TNI masuk berdasarkan Perpres tersebut untuk tugas menata kembali ekosistem di Sungai Citarum. Selain sampah dan kotoran, medan tempur kita adalah limbah industri, yang jika dibiarkan, akan merusak generasi unggulan Jawa Barat, karena mengkonsumsi air yang tidak sehat,” jelasnya.

Jadi, lanjut Dansektor, parameter saya adalah pabrik mengeluarkan limbahnya ke aliran sungai masyarakat dalam kondisi jernih dan ikan hidup didalamnya. “Jangan tinggalkan lagi endapan lumpur limbah ke aliran sungai,” tegas Yusep.

Menanggapi paparan Dansektor, Bonny Oey menerangkan bahwa pihaknya concern terhadap lingkungan. “Semenjak pabrik di operasikan 24 tahun lalu, kami sudah perhatikan IPAL. Dan kami selama ini selalu berusaha memenuhi baku mutu,” terangnya.

Namun demikian, kata Bonny Oey, kita akan berusaha agar mendapatkan hasil yang optimal sesuai saran dari Pak Yusep.

Diakhir pertemuan, Bonny Oey selaku direktur utama perusahaan menandatangani surat pernyataan yang diketahui oleh Dansektor yang bunyinya akan membenahi kualitas hasil olahan limbah selama 7 hari kedepan. [St]

Comments

comments