Bukan Soal Mitos Atau Fakta, Budiyanto Minta Pahami Makna Filosofis Ramayana

oleh -
Bukan Soal Mitos Atau Fakta, Budiyanto Minta Pahami Makna Filosofis Ramayana
DR. Drs. Budiyanto saat memberikan sambutan penutupan Halal Bihalal dan Temu Kangen di Extreme Kuliner Semarang (qq)

SEMARANG – Resi Walmiki memiliki 3 (tiga) mahakarya yang sangat fenomenal dan mengena di hati masyarakat, yakni, Karmapala, Bharatayudha, dan Ramayana. Karya terakhir ini dinikmati oleh para alumni SMPN1-SMANBi Boyolali 74/77 dalam pentas sendratari modern di panggung teater terbuka kompleks Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

“Ada makna filosofis yang perlu kita pahami dari pewayangan Ramayana,” kata Ketua Alumni SMPN1-SMANBi Boyolali 74/77, DR. Drs. Budiyanto, SH, MHum., usai kegiatan penutupan Halal Bihalal dan Temu Kangen di Extreme Kuliner, Pamularsih Raya, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/5) siang.

Menurutnya, Ramayana tidak perlu dimaknai secara heroik atau dibahas antara fakta atau mitologi, “Bagi kita masyarakat umum, yang penting itu nilai filosofisnya, bukan membahas ini fakta atau mitos, tapi pesan yang disampaikan dari penampilan drama tari tersebut,” ujarnya.

Budiyanto menilai, Ramayana bisa dimaknai dengan kesetiaan antar suami dengan istri, dan perjuangan suami mendapatkan kembali seorang istri yang diculik, “Ada makna filosofis tentang kepercayaan seorang suami yang terpaksa dilanggar oleh istri sehingga harus berjuang mati-matian untuk membangun kembali sebuah keluarga,” terangnya.

“Hubungan yang harmonis itu tidak lepas dari keterbukaan dan saling percaya antara suami dengan istri. Saling terbuka dan saling percaya ini merupakan pesan penting bagi kita semua dalam membina rumah tangga maupun menjaga relasi,” imbuhnya.

Budiyanto memperhatikan pesan tersebut agar jangan sampai seorang suami atau istri terlena oleh keindahan dan kenikmatan dunia yang sering menipu manusia, “Jangan sampai kita ini terlena seperti Dewi Sinta yang tertipu dengan jelmaan Kijang Emas. Ada banyak godaan di dunia ini. Kita harus eling lan waspada (ingat dan waspada). Ingat diri kita keluarga kita, Tuhan yang menciptakan kita dan waspada dari menariknya gemerlap dunia yang sering menyilaukan mata kita sehingga terjadi kekhilafan,” urainya.

Selain setia dengan pasangan, juga kesetian seorang abdi dengan junjungan. Dia sebut kesetiaan Laksamana, dan Hanuman serta pengorbanan Jatayu dalam mendampingi Pangeran Ayodya untuk mencapai tujuannya, yakni mengambil kembali Dewi Sinta yang dibawa lari oleh Rahwana ke Kerajaan Alengka. Di lain sisi, Budiyanto juga menilai adanya konflik batin Sri Rama yang terpaksa harus mengorbankan pihak lain untuk mendapatkan istrinya.

Penggambaran mengorbankan pihak lain tersebut nampak jelas terlibatnya Rama dalam pembunuhan Subali dan imbal baliknya Kerajaan yang dipimpin Sugriwa ikut berperang untuk mendapatkan kembali Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana, “Nah, ini yang tidak kalah pentingnya. Jangan sampai kepentingan pribadi itu mengorbankan pihak lain atau orang lain,” tandasnya.

Dari itu, mantan Ketua KNPI Jawa Tengah yang pernah menjabat di lembaga legislatif maupun eksekutif provinsi Jawa Tengah ini meminta pelestarian budaya sejalan dengan penekanan makna filosofisnya, “Ini juga penting bagi generasi muda bahwa melestarikan budaya bukan sebatas kreatifitas menari, menyanyikan tembang-tembang Jawa saja. Tapi lebih dari itu juga pesan penting dari simbolisasi budaya tersebut,” pesannya. (qq)

Comments

comments