Pembudidaya Lobster Harus Tahu : Apa Peran Berbagai Shelter Pada Pendederan Benih Lobster Panulirus homarus

oleh -

Budidaya lobster (Panulirus sp) dengan metode bak terkontrol banyak dilakukan di Australia dan Vietnam dengan keberhasilan yang cukup tinggi. Namun budidaya pendederan lobster pasir dengan metode bak terkontrol belum banyak dilakukan di Indonesia, berkaitan dengan hal tersebut, faktor lingkungan perlu untuk diperhatikan mengingat bahwa meskipun pemeliharaan lobster di KJA memberikan hasil yang cukup baik, namun masih juga menyisakan kekurangan terutama dalam metode pendederan yang digunakan akibat dari adanya beberapa faktor luar yang tidak bisa dikontrol.

Di Vietnam, benih lobster yang tertangkap dipelihara selama 30 – 60 hari terlebih dahulu, sebelum dibudidaya dalam keramba di laut.  Pada masa pemeliharaan benih inilah, terjadi kematian yang cukup tinggi, yaitu lebih dari 50 %, bahkan seluruh benih mengalami kematian.  Kematian larva pada lobster Panulirus cygnus di alam diperkirakan sangat tinggi (80- 98%), yang terjadi pada saat puerulus menetap di dasar perairan, dan akibat transportasi benih untuk kegiatan budidaya di darat.

Beberapa hal kekurangan budidaya di KJA antara lain adalah terbawanya pakan oleh arus yang kuat, ancaman gelombang tinggi yang disertai angin kencang, dan predator yang berpengaruh terhadap proses pertumbuhan lobster itu sendiri. Potensi akuakultur lobster pasir tentunya membutuhkan teknik budidaya yang sesuai agar mendapatkan hasil yang optimal, salah satunya adalah melakukan pendederan di wadah indoor.   Namun kendala yang sering dihadapi selama ini adalah jenis shelter yang sesuai untuk kegiatan pendederan lobster belum diketahui secara pasti.

Penggunaan shelter pada lobster meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan lobster. Dari hasil penelitian ini, penggunaan shelter jaring meminimalkan kontak antar benih lobster, mengurangi stress selama molting serta memaksimalkan pertumbuhan.

Hidup di batuan dasar,  lobster biasanya ditemukan bersama organisme pasir lainnya yang juga hidup pada batuan dasar laut. Umumnya Panulirus ditemukan pada perairan tropic dan lingkungan perairan berkarang dari permukaan hingga kedalaman 100 meter, terutama di perairan hangat dengan kisaran suhu 20 – 30 ºC.  Distribusi spesies Panulirus diindikasi pada peewrairan di Pasifik dan Hindia.

Respon stress merupakan salah satu variabel fisiologi yang sangat penting mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup benih lobster. Total Hemocycte Count (THC) adalah salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai indikator terjadinya stress pada crustacean, sebagai respon stress yang diakibatkan oleh handling, emersion, salinitas, penyakit dan polutan.

Panulirus hormatus disebut  lobster pasir karena hidup pada perairan pantai yang jernih dan bebatuan.  Benih lobter pasir  terdapat pada  Gambar 1.

Gambar 1. Benih Lobster Pasir

Sebagai shelter, waring plastic yang merupakan jaring anti nyamuk terbuat dari fiberglas standard, memiliki karakteristik kekerasan dan kekasaran level medium, juga halus serta  kepadatan dengan level medium, bila dibandingkan dengan kertas  bekas kantung semen, karakter kekerasan, kekasaran,  kehalusan dan kepadatannya maksimal.

Shelter

Shelter yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 (dua) jenis shelter, yaitu shelter dari campuran pasir koral, modifikasi waring plastic dan tanpa shelter.

  1. Campuran pasir dan koral

Pasir pantai dengan rata-rata ukuran partikel sekitar 0,1 mm dari sekitar lokasi budidaya puerulus sedangkan koral yang digunakan dari genus Acrophora berasal dari perairan pantai Palabuhan Ratu, yang telah dicuci dan dijemur selama 2 hari (Gambar 3)

Gambar 3. Pasir dan potongan koral Acrophora sebagai shelter

Lapisan pasir dan potongan koral  Acrophora setebal 3 cm menutupi lantai akuarium untuk memberikan kesan serupa lingkungan ke lokasi tempat pueruli menetap. Pasir dan potongan koral dibersihkan secara menyeluruh dengan mencuci dengan air tawar dan kemudian dengan air laut dan kemudian ditempatkan ke dalam baskom plastik. Pasir dan potongan koral dikocok dengan kuat untuk memastikan sedimen yang lebih halus untuk dibuang. Semua bahan organik, seperti rumput laut dan organisme kecil, telah dibuang dan pasir serta potongan koral dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2-3 hari sebelum ditempatkan ke dalam akuarium.

  1. Waring plastik

Waring plastik yang diatur bentuknya seperti Gambar 4, agar ada tempat bagi benih lobster untuk bersembunyi/berlindung.  Waring plastic seperti ini disimpan pada wadah budidaya benih lobster dan berperan sebagai shelter pada pendederan lobster.

Gambar 4.  Waring Plastik Yang Dibentuk Agar Ada Tempat Untuk Benih Lobster Berlindung

*****

 

Penulis : Rita Rostika

Departemen Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-Universitas Padjadjaran

 

Comments

comments