Mahasiswa Unud Ejek Alm. Timothy, Dikeluarkan dari Program Koas RSUP Prof. Ngoerah

oleh -
Mahasiswa Unud Ejek Alm. Timothy, Dikeluarkan dari Program Koas RSUP Prof. Ngoerah
Timothy Anugerah, korban bunuh diri akibat perundungan. (Foto: Tangkapan layar)

SOROTINDONESIA.COM Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah Denpasar resmi mengeluarkan tiga mahasiswa Universitas Udayana (Unud) dari program koas (co-assistant) usai aksi mereka yang diduga mengejek korban bunuh diri viral di media sosial.

Langkah tegas ini diambil setelah pihak rumah sakit menilai tindakan para mahasiswa tersebut tidak beretika dan mencoreng citra lembaga pendidikan kedokteran maupun rumah sakit tempat mereka belajar.

Pelaksana Tugas Direktur Utama RSUP Prof. Ngoerah, I Wayan Sudana, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga lingkungan belajar yang aman, beretika, dan saling menghormati.

Baca Juga:  Soal Perundungan Anak Viral Di Tasikmalaya, Polda Jabar Telah Periksa Lima Belas Orang

“Mahasiswa yang terbukti bersalah dan melanggar etika akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Kami ingin memastikan rumah sakit ini menjadi ruang belajar yang menghargai nilai kemanusiaan,” ujar Sudana, dikutip dari Detik.com.

Sudana juga menegaskan bahwa para peserta program koas bukanlah pegawai rumah sakit, melainkan peserta didik dari Universitas Udayana yang tengah menjalani pendidikan klinis. “Kami tegaskan kembali, mereka bukan karyawan RSUP Ngoerah. Sikap mereka tidak mewakili rumah sakit ini,” imbuhnya.

Baca Juga:  Inafis Polres Tasikmalaya Kota Evakuasi Seorang Mahasiswa Diduga Tewas Bunuh Diri

Sementara itu, Manajer Hukum dan Humas RSUP Prof. Ngoerah, Dewa Ketut Kresna, mengungkapkan bahwa tiga mahasiswa koas diduga terlibat dalam perundungan terhadap korban bunuh diri. Namun, nama-nama mereka belum dapat dipublikasikan karena masih dalam proses investigasi oleh pihak Universitas Udayana.“Kalau nama kami belum bisa sebut, karena masih pendalaman dari pihak Unud,” jelas Dewa.

Kasus ini menuai perhatian luas publik karena dianggap mencederai nilai empati dan etika profesi kedokteran.

Comments

comments