Budidaya Ikan Lele Bioflok, Mudah Dan Efisien

oleh -
Budidaya Ikan Lele Bioflok, Mudah Dan Efisien
Bak budidaya sistem Bioflok di BBPBAT Sukabumi.

sorotindonesia.com –Saat ini budidaya perikanan yang terbukti menguntungkan adalah budidaya ikan air tawar menggunakan bioflok, dan pilihan paling populer untuk cara budidaya dengan sistem ini adalah ikan lele.

Apakah bioflok ini? Bioflok berasal dari kata bio dan flok, bio artinya mahluk hidup, flok artinya gumpalan. Jadi, arti bioflok adalah kumpulan mahluk hidup yang tergabung dalam satu gumpalan.

Mahluk hidup dalam gumpalan ini sangat beragam dari mikro sampai makro organisma, dari bakteri, plankton sampai annelida (cacing). Semuanya berkolaborasi membuat kinerja positif bagi lingkungan, yang memiliki kemampuan untuk mengubah amonia dalam jumlah besar menjadi nitrat, dan mikroba protein.

Pada sistem bioflok, nutrisi di dalam badan perairan dapat terus didaur ulang dan digunakan kembali. Bioflok menumbuhkan bakteri heterotrof dalam kolam budidaya, dengan tujuan untuk memanfaatkan limbah nitrogen menjadi pakan yang berprotein tinggi dengan menambahkan sumber karbon untuk meningkatkan rasio Carbon/Nitrogen.

Protein pakan yang dikonsumsi oleh ikan yang dibudidayakan akan dikatabolisme, dan amonia yang merupakan limbah nitrogen utama dari metabolisme protein pada ikan, dan invertebrata akuatik, akan diekskresikan. Mikroba protein yang dihasilkan dari sistem bioflok mampu menekan kebutuhan pakan pada benih ikan lele sebanyak 25 persen pada masa pemeliharaan.

Mikroorganisme dalam bioflok memiliki tiga peran utama yaitu, pertama, pemeliharaan kualitas air melalui penyerapan senyawa nitrogen menghasilkan NO2 kemudian dirubah oleh mikroba menjadi NO3, dan kemudian dirubah kembali menjadi mikroba protein. Kedua, meningkatkan hasil produksi dengan memperkecil rasio konversi pakan (Food Convertion Ratio/FCR), dan penurunan biaya pakan. Ketiga, sistem bioflok juga dikembangkan untuk mencegah penyakit dari dalam dan luar lingkungan akuakultur.

Amonia dapat dikonversi menjadi biomassa mikroba/bakteri heterotrof. Bakteri heterotrof merupakan mikroba yang mempunyai laju pertumbuhan lebih cepat daripada mikroba fotosintesis autotrof atau nitrifikasi. Peningkatan jumlah bakteri heterotrof dapat menurunkan amonia-nitrogen total, nitrit dan nitrat dalam media, baik pada skala laboratorium maupun skala lapang.

Karbon pada sistem bioflok berfungsi sebagai makanan bakteri heterotrofik dan asimilator bahan organik yang menghasilkan zat perekat sehingga terbentuknya flok.

Sumber karbon adalah bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang tinggi, berasal dari limbah pertanian yang jumlahnya melimpah, dan harga yang relatif murah. Molase, limbah tapioka, dan dedak padi digunakan sebagai sumber karbon.

Sumber karbon pada sistem bioflok berfungsi sebagai makanan bakteri heterotrofik dan asimilator bahan organik yang menghasilkan zat perekat sehingga terbentuknya flok. Sumber karbon yang akan digunakan merupakan limbah hasil pertanian yang kebutuhannya tidak bersaing dengan kebutuhan pokok, harganya relatif murah, serta jumlahnya melimpah.

Limbah hasil pertanian yang akan digunakan dalam sistem bioflok harus memiliki sumber karbohidrat yang tinggi karena karbohidrat mengandung banyak unsur karbon (C). Sumber karbon yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah tapioka, molase dan tepung dedak sehingga dapat diketahui sumber karbon yang dapat memberikan hasil terbaik pada budidaya ikan lele sangkuring.

Sebagaimana kita ketahui, peningkatan produksi ikan lele dapat dilakukan melalui sistem budidaya intensif. Budidaya sistem intensif yaitu menggunakan padat tebar ikan yang tinggi, dan pemberian pakan dalam jumlah besar, dapat disesuaikan dengan kepadatan ikan yang tinggi. Sekadar catatan, sistem budidaya intensif ini akan menghasilkan limbah pakan, dan faeces ikan dalam jumlah besar pula. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kualitas air dan akhirnya akan mengganggu keberlanjutan budidaya ikan itu sendiri. Oleh karena itu, perlu diupayakan sistem budidaya intensif yang ramah lingkungan.

Budidaya Ikan Bioflok Unggulan KKP

Nah, saat ini sistem budidaya ikan lele bioflok telah jauh berkembang, bahkan menjadi teknologi unggulan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP). Umumnya, wadah yang digunakan wadah berbentuk bundar portable terbuat dari besi yang dilapisi terpal atau plastik tebal.

Ukurannya bervariasi, dari mulai diameter 3 meter hingga 8 meter, ditempatkan secara outdoor. Sebelum benih ikan disimpan dalam wadah budidaya yang sudah diisi air bersih, media bioflok ditumbuhkan dengan menginokulasi bibit bioflok, lalu ditambahkan prebiotic sebagai pakan bibit bioflok. Lalu, ditambahkan sumber karbohidrat siap pakai, antara lain molase, limbah tapioka ataupun dedak padi, kemudian pasanglah aerasi (gelembung udara) dengan kuat. Setelah ditunggu beberapa hari, biasanya bioflok sudah “jadi”, dan warna media berubah coklat muda, ataupun hijau. Pada saat ini komunitas biota yang ada pada flok akan maksimal. Inilah saatnya, benih lele dimasukkan.

Melalui penerapan teknologi ini, pakan yang diberikan akan efisien hingga 75 persen, karena disuplai dari bioflok tersebut. Media pun tidak perlu diganti hingga ikan lele siap dipanen. Ikan lele pun tidak keracunan amonia, karena sistem ini mengkonversi amonia menjadi nitrat, kemudian nitrat ini pun tidak beracun.

Harapannya, semoga melalui secuil informasi ini, pembaca yang budiman tertarik untuk berbudidaya ikan lele ala sistem bioflok. Sejatinya, sistem ini cukup sederhana, kan? (RR/HS/ST).

 

Penulis : Rita Rostika

Dosen Prodi Perikanan Pangandaran, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Comments

comments