Benny Rhamdani : Alhamdulillah, Taiwan Setujui Kenaikan Gaji Pekerja Migran Indonesia Sektor Domestik Dan Penghapusan Biaya Agensi

oleh -
Benny Rhamdani : Alhamdulillah, Taiwan Setujui Kenaikan Gaji Pekerja Migran Indonesia Sektor Domestik Dan Penghapusan Biaya Agensi

JAKARTA – Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengumumkan bahwa gaji PMI (Pekerja Migran Indonesia) sektor domestik untuk penempatan ke negara Taiwan mengalami kenaikan, serta adanya penghapusan agency fee atau biaya agensi.

Benny Rhamdani mengatakan hal tersebut pada kegiatan konferensi pers yang diadakan di Kantor BP2MI, Jakarta, Kamis (7/7/2022).

“Kami hari ini menyampaikan sejumlah poin terkait khususnya penempatan PMI sektor domestik ke negara Taiwan,” kata Benny Rhamdani mengawali.

“Bahwa BP2MI dalam setiap pertemuan baik Joint Task Force IETO-TETO yang juga dihadiri oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) maupun dalam pertemuan antara BP2MI dengan perwakilan TETO di Jakarta, saya sebagai Kepala BP2MI selalu menuntut terkait penempatan pekerja sektor domestik ke Taiwan agar Taiwan menyepakati dua hal, yakni melakukan kenaikan gaji bagi PMI sektor domestik yang sejak tahun 2017 Taiwan tidak pernah menaikkannya, dan saya juga menuntut agar Taiwan mau menghilangkan komponen biaya agency fee yang itu selalu dicantumkan dalam surat pernyataan biaya penempatan sebesar 60 ribu NT atau sekitar Rp32 juta yang menjadi beban PMI sejak tahun 2003,” beber Benny Rhamdani.

Melalui proses tiga kali pertemuan antara Kemnaker RI, BP2MI dan Taiwan dalam forum satuan tugas gabungan serta 14 kali pertemuan BP2MI dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (Taipei Economic and Trade Office/TETO) tersebut di Jakarta, maka hasilnya kini sudah terlihat.

Alhamdulillah, perjuangan yang cukup lama ini, pada tanggal 21 Juni 2022 pihak Taiwan setuju untuk menaikan gaji PMI dari 17 ribu NT per bulan menjadi 20 ribu NT perbulan, yang kalau dikonversi ke rupiah untuk tiga tahun kontrak kerja, PMI bisa mendapatkan gaji sebesar Rp54 juta,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Benny, Taiwan setuju dihapusnya komponen agency fee sebesar 60 ribu NT atau setara dengan Rp32 juta. Jadi, biaya agensi tidak lagi tercantum dalam formulir perjanjian biaya penempatan.

“Keputusan Taiwan ini tentu jadi sejarah bagi negara kita, keberhasilan diplomasi negara kita dengan pihak Taiwan dan apa yang BP2MI lakukan jelas semata-mata untuk harga diri negara kita dan untuk nasib PMI ke depan,” ujar Benny.

Kabar gembira lainnya yang disampaikan oleh Kepala BP2MI adalah menyatakan bahwa penempatan PMI ke negara Taiwan sudah kembali bisa dilakukan.

“BP2MI hari ini, tanggal 7 Juli 2022, menyatakan, penempatan PMI sektor domestik khusus ke negara Taiwan sudah dapat dilakukan kembali,” ucapnya.

Diharapkannya, dengan keputusan itu sekitar 15.419 CPMI (Calon Pekerja Migran Indonesia) untuk penempatan ke negara Taiwan yang sudah memenuhi ketentuan sudah bisa dilakukan.

“Yang sudah siap berangkat, secara statistik tahun 2020 ada 4.706 CPMI, tahun 2021 ada 735 CPMI, dan 2022 ada 9.978 CPMI, total 15419 CPMI sektor domestik ke Taiwan sudah bisa melakukan proses untuk selanjutnya ditempatkan di negara Taiwan,” kata Benny Rhamdani.

Ia juga mengingatkan, setelah ini tidak ada lagi pembebanan biaya kepada PMI di luar yang menjadi tanggung jawab PMI.

“Apabila di kemudian hari ditemukan ada P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia) melakukan pelanggaran dengan melakukan pembebanan biaya atau pungutan yang di luar dari beban PMI, maka BP2MI dengan tegas sesuai kewenangannya akan merekomendasikan agar P3MI tersebut diberikan sanksi sesuai Pertauran Menteri Ketenagakerjaan No 7 tahun 2020 tentang tatacara pengenaan sanksi administratif dalam pelaksanaan penempatan dan perlindungan,” tegas Benny Rhamdani.

Dengan mengumumkan kabar baik terkait dengan penempatan PMI ke negara Taiwan tersebut untuk sektor domestik, menjadi bukti bahwa BP2MI selama ini serius untuk membela kepentingan PMI.

“Jika ada upaya yang ingin mendiskreditkan seolah-olah BP2MI memiliki niat untuk selalu menghambat tenaga kerja berangkat ke luar negeri, saya ingin memberikan garansi 1000 persen di mimbar yang terhormat ini, BP2MI akan melaksanakan tugas negara sebagai lembaga pemerintah yang akan tegak lurus dan konsisten kepada UU No 18 tahun 2017. BP2MI tidak bisa dipaksa-paksa, tidak bisa ditekan-tekan, tidak bisa diancam-ancam oleh siapapun, apalagi mereka yang mengatasnamakan P3MI, atau mereka yang menamakan asosiasi. BP2Mi ini lembaga pemerintah, lembaga negara yang tegak lurus ketundukan kami kepada konstitusi, kepada Undang-undang, yang mengatur tentang penempatan Pekerja Migran Indonesia,” tegasnya.

Pada waktu yang sama, saat doorstop, Kepala BP2MI Benny Rhamdani mengatakan pihaknya bergerak cepat untuk mengonfirmasi terkait laporan belasan WNI meninggal di rumah tahanan Malaysia, dan terus melakukan proses untuk memastikan kondisi PMI di rumah tahanan setempat.

“Kita gerak cepat, berita yang disampaikan kawan-kawan Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB), kita datang ke Kedubes (Malaysia di Indonesia) mengonfirmasi berita tersebut,” kata Benny Rhamdani.

Dia mengatakan pihak Kedubes Malaysia di Jakarta telah memberikan klarifikasi bahwa 149 pekerja migran yang meninggal adalah jumlah keseluruhan tenaga kerja asing yang meninggal dunia di Malaysia. Sementara, PMI yang dinyatakan meninggal dunia berjumlah 18 orang.

Benny mengatakan lebih lanjut, telah melakukan pertemuan dengan KBMB untuk melakukan pendalaman terkait informasi mengenai belasan WNI yang meninggal dalam rumah tahanan di Malaysia.

Setelah pertemuan itu, Benny mengaku telah berkirim surat dengan Kementerian Sekretariat Negara RI, Kedutaan Besar RI di Malaysia serta Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia untuk melakukan kunjungan yang sebelumnya dijadwalkan dilakukan pada 7 Juli 2022.

Namun, menurutnya, pihak Kedubes RI di Malaysia menyarankan untuk menunda kunjungan karena menunggu keluarnya izin dari pihak imigrasi Malaysia untuk melihat rumah tahanan tersebut.

“Masih menunggu jadwal. Tapi terkait gerak cepat respons kita sudah kita lakukan,” tutup Benny .

[st]

Comments

comments