JAKARTA, sorotindonesia.com – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjelaskan alasan biaya pengeboran sumur bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dapat mencapai Rp150 juta per titik. Menurutnya, proyek yang dilaksanakan merupakan pengeboran sumur dalam yang diperuntukkan bagi kebutuhan air bersih satu desa, bukan untuk penggunaan rumah tangga secara individu.
Maruli menerangkan bahwa sumur yang dibangun TNI Angkatan Darat di wilayah bencana memiliki spesifikasi berbeda dibandingkan sumur rumah tangga pada umumnya. Infrastruktur tersebut dirancang dengan kedalaman khusus agar mampu menjangkau sumber air yang stabil dan mencukupi kebutuhan banyak warga sekaligus, sehingga memerlukan proses teknis yang lebih kompleks dan biaya yang lebih besar.
Ia menambahkan, pengeboran sumur desa membutuhkan kedalaman yang jauh lebih dalam dibandingkan sumur biasa yang umumnya hanya digunakan untuk satu keluarga. Dengan cakupan pemanfaatan yang lebih luas, sumur tersebut harus mampu menjamin ketersediaan air bersih secara berkelanjutan bagi masyarakat di lokasi terdampak bencana.
KSAD juga menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan sumur, mulai dari pengiriman bantuan hingga pelaksanaan teknis di lapangan, dilakukan langsung oleh TNI Angkatan Darat sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pascabencana.





