Strategi Penguatan Kesehatan Mental Berbasis Keluarga
Awal kemudian menjelaskan beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk memperkuat kesehatan mental berbasis keluarga guna menurunkan agresivitas dan kenakalan anak dan remaja. Antara lain:
– Edukasi orang tua. Yaitu program-program edukasi yang mengajarkan keterampilan pengasuhan positif, manajemen emosi, dan strategi komunikasi efektif kepada orang tua.
– Terapi keluarga. Yaitu terapi ini melibatkan seluruh anggota keluarga untuk mengatasi dinamika yang tidak sehat, meningkatkan komunikasi, dan menyelesaikan konflik yang berkontribusi pada masalah perilaku anak.
– Program dukungan sosial. Yakni membangun jaringan dukungan bagi keluarga, baik melalui kelompok sebaya atau lembaga komunitas, dapat memberikan sumber daya dan bantuan praktis saat dibutuhkan.
– Pengembangan keterampilan anak dan remaja. Yakni mendorong anak dan remaja untuk mengembangkan keterampilan sosial-emosional seperti empati, regulasi emosi, dan pemecahan masalah melalui kegiatan di rumah dan sekolah.
– Pendekatan holistik. Yaitu orang tua mengintegrasikan upaya penguatan kesehatan mental keluarga dengan layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial untuk menciptakan sistem dukungan yang komprehensif.”Dengan memprioritaskan penguatan kesehatan mental berbasis keluarga, kita dapat menciptakan generasi anak dan remaja yang lebih tangguh secara emosional, mengurangi insiden agresivitas dan kenakalan, serta membangun masyarakat yang lebih harmonis,” jelasnya.
Sebagai informasi, PMI Kota Semarang mengadakan kegiatan forest therapy bagi anak-anak sekolah yang mengalami permasalahan kesehatan mental. Kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap bekerja sama dengan Childfun Internasional ini masih berlangsung hingga akhir Juni.
Kegiatan forest therapy PMI Kota Semarang dimulai dengan screening peserta. Para tenaga ahli terapi melakukan asesmen terhadap peserta didik di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta sekolah menengah atas (SMA) atau yang sederajat. Para siswa harus melalui rangkaian seleksi tertulis maupun wawancara untuk diketahui permasalahan yang dihadapi.
Kemudian, PMI membagi dalam kategori jenjang pendidikan dan permasalahan untuk mengikuti program forest therapy yang dilaksanakan di hutan Wonosari Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Setiap sesi forest therapy diikuti oleh anak tanpa membawa gadget atau seluler. Mereka dibawa ke dalam suasana hutan yang menentramkan dan mendapat bimbingan dari tenaga ahli (terapis). Ada ada 3 kategori gangguan psikologis, yaitu kecanduan gadget/adiksi media sosial, trauma, dan kesehatan mental lainnya.
Dijelaskan, ada siswa yang cenderung pendiam, sulit berkonsentrasi, dan memiliki hambatan dalam komunikasi. Ada juga dua siswa yang sahabat dekat, namun keduanya memiliki kecenderungan tidak ingin dipisahkan. Sebagian besar peserta memiliki kebiasaan bermain gadget cukup lama, terutama untuk menonton TikTok dan bermain game Free Fire, dengan durasi penggunaan lebih dari 6 jam per hari.
Dalam pelaksanaannya, forest therapy tidak hanya melibatkan tenaga terapis di internal pmi. Namun juga melibatkan Dr. Hendro Prabowo, S.Psi, Terapis Forest Therapy sekaligus Dosen Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta, dan Nur Aziz Afandi, S.Psi., M.Si, Terapis Forest Therapy yang juga Dosen Psikologi IAIN Kediri.
“Program ini sangat sejalan dengan visi misi ChildFund International di Indonesia sebagai organisasi yang berdedikasi untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak melalui berbagai program dan layanan. Baik itu program kesehatan, pendidikan maupun perlindungan anak,” jelas Senior Program Specialist ChildFund International Indonesia, Meinrad Indra Cahya.
Pihaknya mengapresiasi inovasi PMI Kota Semarang dalam kerangka memanusiakan manusia melalui program forest therapy. “Kami bangga bisa bekerja sama dengan PMI Kota Semarang, semoga bisa menekan angka kenakalan anak dan remaja, membawa anak pada masa depan yang cerah dan lebih baik, bebas dari perilaku negatif,” tuturnya. (rf)






