Jadi Tersangka, Teuku Indra Beberkan Fakta

oleh -
Jadi Tersangka, Teuku Indra Beberkan Fakta
illustrated.

Banda Aceh – Kasus dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui UU ITE dan pemerasan yang dituduhkan kepada Teuku Indra Yoesdiansyah, SKM., S.H., selaku insan pers yang menjadi Kepala Perwakilan (Kaperwil) Media Mitrapol Aceh yang juga selaku Pembina di Yayasan LASKAR, statusnya naik menjadi tersangka seperti yang telah diumumkan oleh Kapolres Sabang pada konferensi pers yang dilaksanakan pada 27 November 2023 lalu.

Menanggapi masalah itu, Teuku Indra yang akrab dipanggil Popoen mengatakan kalau dirinya tidak bersalah. Teuku Indra menjelaskan bahwa pengusaha konstruksi yang melaporkannya, DY, pernah memberikan bantuan sekira sebelas bulan lalu yang memang pernah diterimanya, yang dianggap sebagai imbalan karena dirinya juga sering diminta bantuan oleh DY.

“Setelah saya menerima bantuan dari DY yang berprofesi sebagai kontraktor, ia (DY) sudah mulai terus-terusan memanfaatkan saya untuk kepentingan DY. Saya ada bukti serta saksi terkait hal tersebut,” ungkapnya, Jumat (12/1/24).

Kemudian Teuku Indra membeberkan bahwa status tersangka oleh Polres Sabang kepadanya dirasa tendensius, karena menurutnya laporan dari korban sudah kadaluarsa.

“Informasi yang saya dapatkan, status saya telah ditingkatkan menjadi tersangka, seperti sim salabim saja dengarnya. terkesan Kapolres, Kasat Reskrim serta para Penyidik Polres Sabang, dalam hal ini dengan mudahnya telah mengabaikan Pasal 74 KUHP (masa kadarluarsa Pelaporan) dan terkesan tidak mentaati rekomendasi dari Propam Mabes Polri agar kedua LP saya di Polres Sabang tersebut ditangani oleh Polda Aceh guna menjaga netralitas hukum. Pertimbangannya, Kapolres Sabang sedang dilaporkan juga oleh Yayasan Laskar ke Propam Mabes Polri terkait dugaan pemerasan (meminta fee proyek) kepada direktur perusahaan yang sedang mengerjakan proyek Rekontruksi Bangunan Pengaman Pantai Gampong Anoi Itam di Kota Sabang dan terindikasi telah bermain Proyek melalui DY (diduga selaku kontraktor Kapolres Sabang) dibeberapa kegiatan Pemerintah Kota Sabang.” bebernya.

Selama ini, Teuku Indra mengaku sebetulnya masih menunggu proses hukumnya ditangani oleh Polda Aceh sesuai rekomendasi dari Propam Mabes Polri, namun ia mendengar kabar Penyidik Polres Sabang telah meningkatkan statusnya sebagai tersangka.

“Ini kan aneh bin ajaib, karena uang bantuan DY kepada dirinya tersebut telah berada di rekening Kasat Reskrim Polres Sabang, beberapa bulan sebelum DY melaporkan dirinya di Polres Sabang,” ungkapnya.

“Saya sudah transfer semua uang bantuan DY tersebut dari rekening saya ke rekening Kasat Reskrim Polres Sabang pada tanggal 05 Juli 2023, ada bukti transfernya, kalo tidak salah, seingat saya, kasat Reskrim mengatakan saat itu untuk keperluan tamu-tamu Polres Sabang. Maka dari itu, beliau (Kasat Reskrim Polres Sabang) minta sama saya uang dari DY tersebut, karena saat saya dibantu oleh DY beberapa waktu lalu, saya ada sampaikan kepada Kasat Reskrim terkait bantuan tersebut, memang saya pernah menerima uang bantuan dari si pelapor yaitu DY. Akan tetapi itukan bersifat bantuan sesuai pada keterangan bukti transfer DY ke rekening saya, bunyinya ‘bantuan kegiatan di Sabang’. Akan tetapi setelah 11 bulan berlalu dan setelah saya menulis berita masalah Proyek Pagar Polres dan Pembangunan kantor AIRUD Sabang, tiba-tiba berubah menjadi pengancaman dan pemerasan atas uang tersebut, ini seperti sulap saja, bim salabim abra kadabra, dari bantuan berubah menjadi pemerasan!?,” beber Teuku Indra lagi.

Padahal, lanjutnya, tiga bulan sebelum DY laporkan saya atas dugaan pengancaman dan pemerasan di Polres Sabang, uang tersebut, sekitar tiga bulanan berada di rekening Kasat Reskrim Polres Sabang, ada bukti transfernya dari rekening saya ke rekening Kasat Reskrim Polres Sabang.

“Sekarang siapa yang peras siapa…? Jadi kalo kedua LP saya tersebut masih ditangani oleh Polres Sabang, apakah ada yang menjamin itu akan netral secara hukum, masyarakat dapat menilainya sendirilah,” ujar Teuku Indra.

Oleh karena itu, Teuku Indra merasa sudah dikriminalisasi.

“Ini sudah nggak benar lagi alur ceritanya, saya merasakan rekayasa dan fitnah keji yang luar biasa, hal ini terjadi setelah saya menulis berita proyek Polres Sabang dan Pembangunan Kantor Airud Sabang yang memakai sebagian material batu dan pasir ilegal, padahal saya punya bukti semua terkait berita tersebut. Jangankan ditetapkan sebagai tersangka, andai nanti dibuat DPO oleh Polres Sabang, sampai mati pun saya tidak mau datang. Jelas-jelas ini fitnah keji dan kriminalisasi yang saya rasakan di Polres Sabang. Kecuali jika kasus ini ditangani oleh Polda Aceh secara transparan dan adil sesuai rekomendasi dari Propam Mabes Polri guna menjaga netralitas hukum, kapan saja saya siap datang apabila dipanggil menjalani pemeriksaan di Polda Aceh, Insha Allah saya akan selalu kooperatif. Karena saya meyakini tidak bersalah,” ujarnya panjang lebar.***

Comments

comments