Hendi mengatakan, transaksi melalui E-Katalog lebih cepat dan simpel. Yakni hanya dengan mencari produk yang diinginkan kemudian bisa memilih sesuai kebutuhan.
“Harganya sudah dicantumkan. Kan kadang orang itu ragu mau transaksi. Katanya ribetlah, kemudian berbelit-belit, susah dan lain-lain. Padahal simpel. Makanya perlu kita sosialisasikan terus,” katanya.
Hingga tahun 2023, lanjut Hendi, sudah ada sekitar 7,5 juta produk yang masuk ke E-Katalog. Yakni dengan transaksi mencapai Rp 197 triliun.
Selain itu, di LKPP juga ada sistem terkait konsolidasi pengadaan (barang/jasa). Hal itu untuk memudahkan kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah dalam melakukan aktivitas pengadaan yang dinilai berat atau susah.
“Dia bisa meminta kami untuk lakukan supervisi. Mulai dari negosiasi harga sampai transaksi itu berjalan. Dan pada 2023 ada efisiensi mencapai Rp 2,03 triliun,” paparnya.
Hendi menambahkan, transaksi melalui E-Katalog dapat dilakukan cukup dengan dua tahapan. Yakni punya akun LPSE kemudian produknya difoto dan diberi harga, selanjutnya akan langsung tayang di E-Katalog.
“Semuanya (produk) bisa tayang. Karena pemerintah ini tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat,” tambahnya.
Sementara pelaku usaha home industri batik, Windji Astutik mengaku, bergabung dengan W-Katalog sejak Maret 2024. Bahkan, dia sempat kaget karena produknya langsung laku di kalangan pemerintahan. Dia menilai proses transaksi di E-Katalog lebih mudah dan simpel.
“Dapat bimbingan juga dari dinas terkait. Dan alhamdulillah lewat E-Katalog ini langsung ada orderan masuk. Saya sempat kaget ini bener atau tidak karena jumlah ordernya sangat banyak,” akunya.***






