Doni Monardo: Mitigasi Bencana Ekologis DAS Citarum Adalah Kolaborasi Pentahelix Berbasis Komunitas Dan Perubahan Perilaku

oleh -
Doni Monardo: Mitigasi Bencana Ekologis DAS Citarum Adalah Kolaborasi Pentahelix Berbasis Komunitas Dan Perubahan Perilaku

BANDUNG, sorotindonesia.com,- Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo, hadir selaku narasumber pada kegiatan webinar melalui zoom meeting yang diselenggarakan IATPI Jawa Barat dan Satgas Citarum bertajuk Sampah Citarum Riwayatmu Doeloe dengan mengangkat tema Pencemaran Sampah Pada Sungai Citarum, Sabtu (28/11/2020).

Kegiatan tersebut turut dihadiri  narasumber lain, diantaranya Gubernur Jawa Barat selaku Dansatgas Citarum Harum, H.M Ridwan Kamil, Gary Bencheghib (inisiator Plastic Bottle Citarum dan Founder Make A Change The World serta Sungai Watch), Prof. Dr. Enri Damanhuri (Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Dewan Kehormatan IATPI Jawa Barat), serta diikuti oleh sekitar 256 peserta dari seluruh Indonesia, belum termasuk masyarakat yang menyaksikan langsung melalui livestreaming di kanal YouTube.

Doni Monardo pada paparannya menjawab panjang lebar pertanyan dari moderator, M.B Junero, terkait iniasi untuk revitalisasi DAS Citarum saat menjabat Pangdam III/Siliwangi, dijelaskannya, “Sebelum langkah membenahi Sungai Citarum ini dilakukan, saya meminta tim Kesehatan Kodam III/Siliwangi untuk melakukan survei dan riset. Nah, apa yang diberikan oleh tim dari Kesehatan Kodam III/Siliwangi ini ternyata mulai dari hulu Sungai Citarum hingga ke bagian hilir, seluruh kadar airnya sudah sangat tercemar, kandungan logam berat sudah melampaui ambang batas, kemudian bakteri e-coli, bakteri salmonella dan bakteri pseudomonas aeruginosa yang ditimbulkan karena limbah medis,” jelasnya.

“Jadi tidak seketika (inisiasi dilakukan),” tambahnya.

Diterangkan lebih lanjut oleh Kepala BNPB tersebut, “Kehadiran militer disini adalah sebuah langkah untuk mengajak. Jadi, TNI disini adalah sebuah komponen yang bisa mengajak seluruh pihak, kolaborasi pentahelix berbasis komunitas. Sehingga semuanya bisa diikutsertakan, antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, budayawan, jaringan LSM, termasuk juga media,” terang Doni Monardo.

“Ada 23 orang perwira berpangkat kolonel (Komandan Sektor), yang secara struktural menempati jabatan yang kegiatannya tidak terlalu banyak sehingga mereka bisa mengkoordinir seluruh komponen yang ada di tiap-tiap sektor ini,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa konsep terkait Citarum Harum dirancang agar bisa sustainable dan berkelanjutan.

“Saya harus merancang sebuah konsep agar ini (Citarum Harum) berkelanjutan dan tidak bisa sepotong-sepotong, kenapa demikian? Karena yang sangat kita butuhkan adalah upaya untuk merubah perilaku, dan orang yang hadir dan tampil untuk perubahan perilaku adalah mereka yang berada di tengah masyarakat,” ujarnya.

“Mengutip salasatu falsafah pujangga dari Tiongkok, Lao Tzu, Temuilah rakyatmu hiduplah bersama mereka, mulailah dari apa yang mereka miliki sampai mereka melakukannya dan mengatakan kami telah mengerjakannya.” ungkapnya, sehingga lahir gagasan menerjunkan prajurit Siliwangi berbaur bersama dengan masyarakat dalam upaya membenahi DAS Citarum.

Tantangan terbesar, lanjut Doni Monardo, adalah ketika militer secara bertahap melepas program Citarum ini. “Apakah pemerintah bersama masyarakat Jawa Barat siap?” tanyanya.

Namun Doni Monardo memberikan pencerahan pada para peserta webinar bahwa pasukan Siliwangi akan selalu ada untuk Citarum. “Pada dasarnya pasukan Siliwangi adalah Jawa Barat dan Jawa Barat ini Siliwangi. Jadi sudah melekat erat. Kita lihat sekarang ini, begitu antusiasnya masyarakat dalam satu kejadian melaporkan kepada unsur yang ada di Sektor,” tegas Doni Monardo.

Alhamdulillah, kita lihat sekarang sudah ada perkembangan yang luar biasa bagi perkembangan Citarum, tetapi terus terang tentunya kita belum puas, karena masih banyak hal yang masih bisa kita lakukan,” ucapnya.

Namun demikian, Doni Monardo juga melihat bahwasanya mindset warga masyarakat belum berubah secara signifikan terhadap kesadaran dan kepeduliannya kepada lingkungan.

“Saya lihat disini perubahan perilakunya belum optimal. Jadi, bagaimana kita bisa menyentuh kepada setiap keluarga, agar tiap keluarga itu benar-benar bisa memahami. Masalah lingkungan, masalah sungai, adalah masalah kita bersama. Tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah saja. Seperti yang disampaikan sebelumnya, masalah sungai ini adalah masalah yang komprehensif, padahal kita semua tau bahwa DAS Citarum ini betul-betul satu kawasan yang sudah sangat parah kerusakannya,” beber Doni Monardo.

Dirincinya lebih lanjut, “Mulai dari hulu yang sudah terjadi alih fungsi lahan yang mengakibatkan status lahan kritis dan sangat kritis, 88 ribu hektar. Kemudian kawasan tengahnya sudah tercemar terutama oleh limbah industri dan juga kita lihat masih belum optimalnya untuk pembuangan limbah rumah tangga, limbah kotoran ternak, tinja. Nah, ini perilaku yang harus diperbaiki,” cetusnya.

Doni Monardo juga mengungkapkan bahwa kotornya Sungai Citarum membawa dampak kepada kualitas air PDAM.

“Saya pernah bertemu dengan pimpinan PDAM, saya tanya, apakah air yang dihasilkan PDAM ini layak untuk diminum? mereka mengatakan bahwa air ini air bersih. Saya tanya lagi, ya atau tidak, apakah air ini layak untuk diminum? jawabannya adalah ini air bersih. Artinya, orang PDAM tidak menjamin kualitas air yang dihasilkan dari Sungai Citarum kemudian juga mengalir ke Bekasi, yang dikelola itu layak untuk diminum. Sehingga kalau begitu saya katakan PDAM singkatannya bukan lagi Perusahaan Daerah Air Minum, tapi Perusahaan Daerah Air Mandi, karena tidak bisa diminum. Kenapa tidak bisa diminum? Karena ternyata kualitas air yang diolah sudah tidak layak,” ungkapnya.

Permasalahan DAS Citarum Adalah Bencana Ekologis

Doni Monardo kembali memaparkan ,”Tadi saya katakan, limbah industri, limbah rumah tangga dan juga tinja, dan tadi kita lihat gambar dari Gary yang sebenarnya ada satu dokumen dimana sempat memperlihatkan bangkai binatang, ada sapi dan kambing. Jadi begitu parahnya Sungai Citarum, bahkan kita bisa berjalan diatas (sampah) Sungai Citarum. Ini sudah bencana ekologis, saya sangat setuju sekali. Menyelesaikan Citarum tidak bisa oleh pemerintah saja, harus melibatkan seluruh komponen masyarakat, jadi kolaborasi pentahelix ini adalah bagian dari cara kita bergotong-royong,” kata Doni Monardo.

“Kemudian bagaimana masalah kebencanaan ini kita mitigasi, tidak ada cara lain, terpenting adalah perubahan perilaku. Sekali lagi perubahan perilaku,” tekan Doni Monardo.

Jenderal bintang tiga ini juga mengakui bahwa sebagian wilayah DAS Citarum kini kondisinya sangat baik.

“Sudah banyak kawasan DAS Citarum kondisinya sudah baik sekali, anak-anak sudah bisa berenang, kita puas walau belum sepenuhnya, beberapa kawasan ini sudah sangat baik,” ujarnya.

Namun Doni Monardo juga menyayangkan perilaku masyarakat yang belum optimal dalam mengelola sampah, terutama pada kurun waktu tertentu.

“Saat hujan, tiba-tiba sampah ini datang lagi di Sungai Citarum. Ini yang sangat disayangkan, kerja keras dari seluruh pihak, terutama para Dansektor bersama komponen masyarakat lain, tidak diikuti oleh masyarakat yang berada di anak sungai, cucu sungai dan cicit sungai. Jadi kita istilahkan Sungai Citarum ini punya anak sungai, cucu sungai dan cicit sungai, sampai ke selokan-selokan,” ujar Doni Monardo lagi.

Timbulan sampah yang berada di anak Sungai Citarum.

“Sekali lagi, masalah Citarum ini tidak boleh hanya dibebankan kepada mereka yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum, tetapi karena ini DAS (Daerah Aliran Sungai), dari hulu semuanya satu kesatuan. Kehadiran militer disini diharapkan bisa menggerakan seluruh komponen yang ada di tengah-tengah masyarakat, dan kita juga berharap tokoh-tokoh agama untuk ikut menyadarkan masyarakat, di setiap kegiatan-kegiatan jumatan, kegiatan ibadah, kita tentu harus menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan dengan lingkungan. Karena selama ini, ibadah atau kegiatan dakwah lebih diisi kepada hablum minallah dan hablum minannas. Saat menjadi Pangdam Siliwangi, saya mengajak MUI untuk juga mengisi hablum minalalam, bagaimana kita manusia juga harus menjaga hubungan dengan alam, kalau tidak maka kerusakan ekosistem akan semakin parah, dan setiap saat masyarakat tidak bisa mendapatkan air bersih lagi,” urainya panjang lebar.

Doni Monardo menekankan kembali, “Sekali lagi, kolaborasi pentahelix berbasis komunitas menjadi ujung tombak kita, jangan sampai bencana ekologis ini menjadi berkepanjangan. Hari ini kita mendapat berita yang cukup bagus, beberapa kawasan di Saguling, Cirata dan Jatiluhur, sudah muncul lagi ikan endemik, ini bukti bahwa mutu air membaik, dan ikan-ikan ini belasan tahun mungkin tidak pernah kelihatan. Alhamdulillah, dengan penanganan Citarum yang belum tiga tahun, ikan ini muncul kembali.”

“Ini tidak bisa bekerja sendiri, butuh kerjasama dan butuh kesadaran seluruh komponen. Tidak cukup hanya pemerintah, tapi seluruh pihak, seluruh masyarakat. Makanya dalam beberapa kegiatan yang dilakukan oleh satgas, pasti melibatkan teman-teman media, dan setiap ada kejadian itu langsung diviralkan dan ini sangat efektif,” pesan Doni Monardo.

“Jadi sekali lagi, dibutuhkan gerakan, sebuah semangat untuk orang diberikan apresiasi ketika ikut terlibat dalam Citarum Harum ini,” tambahnya.

Tindak Tegas Industri yang Merusak Ekosistem

Pada kesempatan paparannya tersebut, Doni Monardo juga sempat mengungkapkan pengalaman yang menarik terkait dengan industri yang memproduksi limbah cair yang dibuang ke aliran sungai.

“Ini satu hal yang mungkin saya baru sampaikan, sebelum Perpres itu dikonsepkan, beberapa pengusaha industri tekstil minta bertemu dengan saya. Mungkin salasatu faktornya adalah jangan sampai ada Perpres No.15 tahun 2018. Alhamdulillah, pertemuan itu sampai hari ini tidak terjadi. Jadi saya mencegah mereka memanfaatkan kelemahan dalam aturan untuk masih membuang limbah ke dalam sungai,” terangnya.

“Data-data industri yang saya peroleh, kalau mereka itu optimal dalam mengelola limbah, maka mereka harus keluar uang paling tidak jutaan rupiah, tetapi faktanya banyak yang tidak melakukan. Kalau toh (tidak) dilakukan, biasanya (dibuang) sembunyi-sembunyi. Dan terbukti dibeberapa Sektor ditemukan pipa-pipa saluran limbah industri itu menembus beberapa wilayah kemudian tiba-tiba muncul ditengah-tengah sungai,” ungkap Doni Monardo.

“Jadi, ini sudah ada niat yang sangat tidak baik untuk tidak melakukan pengelolaan limbah sebagaimana diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Dan orang-orang seperti ini tidak bisa dibiarkan, jadi saya senang tadi Pak Gubernur sudah mengambil langkah-langkah tegas. Kedepan kalau masih ditemukan seperti ini (perusahaan buang limbah), harus ditutup, dicabut izinnya, berikan sanksi,” pinta Doni Monardo.

“Mereka yang merusak ekosistem menghancurkan peradaban manusia,” tegas Doni Monardo.

“Ini yang harus kita jadikan bahan acuan, karena tidak bisa dibiarkan, sudah jelas air Citarum ini dijadikan konsumsi warga di Bandung, Jakarta. Jangan biarkan sumber air kita menjadi tercemar,” pungkas Doni Monardo menyimpulkan paparan yang disampaikannya.

[st]

Comments

comments