JAKARTA – Keluarga penumpang Lion Air atas nama Rudianto Sangasi, datangi kantor pusat Lion Air di Jl. Gajah Mada, Jakarta. Pasalnya, Rudianto yang tujuan penerbangannya ke Bandara Sam Ratulangi, Kota Manado, ditunda keberangkatannya oleh maskapai penerbangan nasional swasta itu saat transit di Bandara Juanda dengan alasan kesehatan.
Diceritakan oleh salaseorang kerabat Rudianto, Rahmat Pakaya, S.H., bahwa Rudianto itu sedianya berangkat ke Manado dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta (langsung) pada hari Rabu tanggal 30 November 2022 pukul 5.30 WIB, tetapi ada pemberitahuan perubahan jadwal keberangkatan melalui email dan WA bahwa pesawat dimajukan jam pemberangkatannya ke pukul 03.10 WIB.
“Kami baru tau bahwa pesawat yang awalnya langsung dari Jakarta ke Manado, ternyata transit di Bandara Juanda Surabaya. Persoalannya Rudianto sedang dalam kondisi kesehatan yang terganggu dan mengalami kebutaan tiba-tiba sehingga harus dibantu menggunakan kursi roda. Dari Bandara Soekarno Hatta dinyatakan layak terbang untuk sampai ke Manado, ada surat dari dokter di bandara Soekarno Hatta untuk kepentingan itu. Tetapi saat turun transit di Bandara Juanda, Rudianto tidak diperkenankan lagi naik ke pesawat dengan alasan kesehatan oleh dokter di Bandara Juanda,” jelas Rahmat.
Mirisnya. Rudianto diketahui ditinggal di Bandara Juanda saat keluarga yang menjemput di Bandara Sam Ratulangi Manado tidak menemukan Rudianto, hanya tasnya yang tiba. Lalu keluarga menghubungi kerabat yang mengantar Rudianto ke Bandara Soekarno Hatta.
“Saat tau Rudianto ditinggal di Bandara Juanda, kami langsung menanyakan ke Lion Air terkait alasan ditunda keberangkatannya. Selain itu, saat Rudianto ditinggal di Bandara Juanda, kerabat yang kami hubungi di Surabaya mengatakan bahwa Rudianto kondisinya ditinggal sendirian di depan klinik kesehatan bandara tanpa ada yang mendampingi baik dari maskapai Lion Air maupun dari pihak petugas bandara. Dan lagi tidak ada koordinasi antara bandara. Itu yang kami sangat sesalkan,” tegasnya.
Menyikapi itu, kerabat akhirnya sempat membawa Rudianto ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya untuk pemeriksaan dan istirahat dengan biaya sendiri. Dan menurut Rahmat, Lion Air hanya menyediakan penerbangan pengganti untuk Rudianto pada tanggal 1 Desember 2022, pukul 07.40 WIB.
Hasil pemeriksaan di RS Mitra Keluarga Surabaya, ungkap Rahmat, kondisi Rudianto relatif normal dan dalam keadaan sadar, hanya saja harus menggunakan kursi roda sehubungan dengan gangguan mata yang dideritanya.
“Persoalan baru kembali muncul saat Rudianto bersiap naik pesawat dari Bandara Juanda ke Bandara Sam Ratulangi pada pagi hari tadi, tetapi tidak mendapatkan izin dari dokter di Bandara Juanda. Mirisnya, dokter meninggalkan Rudianto di klinik tanpa mau memberikan surat layak terbang. Anehnya, dokter di Bandara Juanda (dr Yuli) malah minta surat keterangan kesehatan untuk kalayakan terbang dari dokter lainnya di luar bandara, itu juga yang kami sesalkan,” terang Rahmat.
Prinsipnya, sambung Rahmat, hal tersebut menjadi beban bagi keluarga yang berkeinginan segera merawat Rudianto di kampung halamannya di Manado.
“Kami merasa dipersulit, kami berharap ada solusi dan kompensasi bagi kerabat kami, Rudianto. Karena kami dari awal sudah mengikuti prosedur, baik syarat vaksin hingga PCR dan pemeriksaan kesehatan di Bandara Soekarno Hatta. Kini kami tentunya menuntut tanggung jawab maskapai Lion Air dan pihak bandara untuk pemberangkatan Rudianto hingga sampai di Manado dan selama ia berada di Surabaya,” ujarnya.
“Kami akan upayakan persoalan ini dibawa ke maskapai penerbangan dan stakeholder terkait di bawah pemerintahan juga lembaga perlindungan konsumen, termasuk Ombudsman,” pungkas Rahmat Pakaya.





