JAKARTA, sorotindonesia – Ketersediaan air bersih di Indonesia kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Di tengah melimpahnya sumber daya air, data menunjukkan ironi yang nyata: sekitar 28 juta warga masih berjuang untuk mendapatkan akses air minum layak setiap hari, memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis yang lebih parah pada tahun 2045.
Para pakar memperingatkan, persoalan ini disebabkan oleh kombinasi masalah serius, mulai dari rendahnya cakupan layanan perpipaan, meningkatnya pencemaran sumber air, hingga dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Data dari Bappenas mengungkap bahwa pemanfaatan air masih didominasi sektor pertanian yang menyerap lebih dari 80% pasokan, sementara kebutuhan rumah tangga dan industri kerap terabaikan.
Kondisi ini diperburuk oleh laporan World Resources Institute (WRI) yang menyatakan lebih dari separuh daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jutaan warga di Jawa, NTT, dan Sulawesi rutin menghadapi kekeringan setiap musim kemarau.
Pemerintah, melalui Kementerian PUPR, mengakui bahwa target 100% akses air minum layak pada 2030 sulit tercapai tanpa peningkatan investasi infrastruktur yang signifikan. Berbagai upaya seperti percepatan pembangunan bendungan dan program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) terus digalakkan.
Meskipun demikian, para pengamat menekankan bahwa solusi teknis saja tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan jangka panjang yang komprehensif serta keterlibatan aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber air. Tanpa langkah strategis, ancaman krisis air bersih tidak hanya akan berdampak pada kesehatan, tetapi juga berisiko mengganggu ketahanan pangan dan stabilitas sosial bangsa di masa depan.

