Sekber Insan Pers Jawa Tengah Tangkal Hoax Dan Anti Kriminalisasi Jurnalis

oleh -
Sekber Insan Pers Jawa Tengah Tangkal Hoax Dan Anti Kriminalisasi Jurnalis

sorotindonesia.com, Semarang, – Kabar bohong masih mendominasi dunia maya. Seperti terkait pada penipuan jual beli online, dan kasus ujaran kebencian yang benuansa Sara. Menyikapi hal tersebut, para jurnalis Jawa Tengah mengadakan Focus Group Discussion yang bertajuk Peran Pers Dalam Pencegahan Hoax di Indonesia, Sabtu (2/2/2019).

Selain itu, acara yang digelar di Hotel Dafam, Jalan Imam Bonjol 188 Semarang Tengah, Kota Semarang, tersebut juga dimaksudkan untuk membentuk sekretariat bersama (Sekber) Insan Pers Jawa Tengah (IPJT) untuk melawan hoax dan anti kriminalisasi jurnalis.

Pengurus Sarikat Pers Republik Indonesia Jawa Tengah, Suwondo, mengatakan pihaknya berusaha mengakomodir pekerja media online agar terlindungi dari sisi keamanan, dan kenyamanan dalam menjalankan tugas peliputan melalui Sekber.

Dia menerangkan, peran jurnalis dalam mencegah peredaran hoax yang ada di media sosial membutuhkan ruang tersendiri. Lebih dari itu, adanya jaminan terhadap keselamatan pekerja media juga menjadi pertimbangan. Oleh karena itu, hal-hal tersebut menjadi poin-poin penting yang ia bawa dalam Kongres Dewan Pers Independen pada April mendatang.

Sementara, Ketua Persatuan Wartawan Online Indonesia (PWOI) Jawa Tengah, Rohmad Dakwah mengatakan, PWOI yang ada di 28 Kabupaten/Kota di Jateng sudah mendapatkan pelatihan untuk mengetahui kode etik jurnalistik. Oleh sebab itu, dia memastikan media online yang tergabung bersamanya sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Atas adanya Sekber, Kasubdit Cyber Crime Polda Jateng, AKBP. Drs Agung Prabowo saat dimintai keterangan usai mengisi FGD menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut. Ia berharap, Sekber yang dibentuk bisa bersinergi dalam menangkal hoax.

“Harapan kita bersinergi dengan Polda. Saling mendukung, agar masyarakat jangan lagi terprovokasi. Supaya masyarakat tenang, damai, tentram,” kata Agung

Terhadap peredaran hoax yang beredar di berbagai media sosial, baik berupa tulisan, meme, video atau lainnya, Agung menekankan untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Bila mana informasi tersebut tidak diketahui sumber dan kebenarannya, Agung menegaskan untuk menghapus.

“Jika masyarakat mendapatkan kiriman yang tidak jelas sumbernya, kebenarannya masih diragukan karena tidak ada klarifikasi, dan memiliki kemampuan untuk mencari berita klarifikasi informasi tersebut, Jangan dishare, lebih baik dihentikan atau dihapus,” kata Agung.

Hal tersebut diterangkan sebagaimana contoh dalam paparannya. Agung menunjukkan sebuah kasus penyebaran hoax pria asal Kelurahan Keturen, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal yang membuat kabar bohong dengan memelintir statmen Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang prediksi adanya bencana besar akan melanda Jateng. [arh]

 

Comments

comments