Nepal memasuki babak baru dalam sejarah politiknya dengan menunjuk Sushila Karki (73) sebagai Perdana Menteri interim. Uniknya, penunjukan wanita pertama yang memimpin Nepal ini bukan hasil dari proses politik konvensional, melainkan dipilih oleh gerakan generasi Z melalui serangkaian debat di platform komunitas digital, Discord.
Karki, seorang mantan Ketua Mahkamah Agung yang dikenal memiliki citra bersih, naik ke tampuk kekuasaan setelah gelombang unjuk rasa masif yang dipimpin anak-anak muda berhasil melengserkan Perdana Menteri sebelumnya, Sharma Oli. Protes tersebut dipicu oleh kemarahan publik atas kasus korupsi dan keputusan pemerintah memblokir 26 platform media sosial, termasuk WhatsApp dan Instagram.
Setelah dilantik pada Jumat pekan lalu, Karki berjanji akan menjalankan amanah yang diberikan oleh kaum muda. Dalam pidato publik pertamanya, ia menegaskan akan fokus pada tuntutan utama mereka, yaitu pemberantasan korupsi, tata kelola pemerintahan yang baik, dan penciptaan lapangan kerja.
“Kita harus bekerja sesuai dengan pemikiran generasi Gen Z,” ujarnya.
Menepis kekhawatiran akan penyalahgunaan kekuasaan, Karki membuat janji yang mengejutkan: ia hanya akan menjabat selama enam bulan untuk memperbaiki keadaan sebelum menyerahkan kembali tanggung jawab kepada parlemen yang baru. Salah satu agenda pertamanya adalah menginvestigasi kekerasan yang terjadi selama unjuk rasa dan memberikan kompensasi kepada para korban


