Meski Suasana Lebaran, Dinsos Semarang Tetap Patroli PGOT

oleh -
TPD saat melakukan asesmen orang yang terjaring patroli PGOT. (dok)

SEMARANG – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang tetap melakukan patroli pengemis, gelandangan dan orang telantar meskipun masih dalam suasana hari raya Idul Fitri. Sedikitnya terdapat 33 orang yang dibina dari hasil patroli yang melibatkan Satpol PP dan Tim Penjangkauan Dinsos (TPD).

“Hari ketiga lebaran, patroli dengan Satpol PP ada 23 PGOT yang kita bawa ke rumah dinas Wali Kota Semarang untuk pembinaan,” kata Koordinator TPD, Dwi Supratiwi saat ditemui, Senin (16/5/2022).

Dwi Supratiwi menyebut 10 orang berasal dari luar Kota Semarang dan 13 orang merupakan warga Kota Semarang yang harus menjalani pembinaan.

“Prosedurnya masih sama, dirapid test dan vaksin dulu di rumdin baru dikarantina selama 5 (lima) hari untuk pembinaan,” jelasnya.

“Dari 23 itu yang masuk kategori gelandangan ada 3 (tiga), 10 (sepuluh) orang mengemis, dan 10 (sepuluh) orang lainnya mengemis dengan modus pemulung,” imbuhnya menjelaskan.

Pada patroli bersama Satpol PP selanjutnya terdapat 10 orang terjaring dengan rincian 8 orang warga Semarang dan 2 orang dari luar Jawa Tengah. Dari 10 (sepuluh) tersebut, diantaranya 3 (tiga) orang dibawa karena terbukti mengemis, 5 (lima) orang melakukan aktivitas modus mengemis, 2 (dua) orang gelandangan dan 1 (satu) orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Selain patroli bersama, lanjutnya, Dinsos dan Satpol PP juga melakukan patroli secara terpisah, “Satpol PP juga melakukan patroli sendiri, dan pembinaan selanjutnya diserahkan Dinsos Semarang. Jadi kita tetap berkoodinasi dan saling mendukung penertiban ini,” ujarnya.

Sementara Kasie TSPO, Bambang Sumedi menegaskan bahwa tujuan patroli PGPT adalah untuk mengajarkan kepada masyarakat agar bisa berusaha hidup dengan layak, bukan mengandalkan belas kasihan orang lain.

“Sebagai bagian dari Pemerintah, Dinas Sosial pastinya ingin masyarakat bisa hidup dari hasil jerih payahnya, mengais rejeki yang halal dari usaha yang jelas, bukan mengharap belas kasihan dengan cara meminta-minta,” ucapnya.

Menurutnya, penegakan perda tentang PGOT dan pelarangan memberi sedekah kepada orang jalanan merupakan hal yang tepat, “Kita ini punya budaya yang bagus, budaya luhur masyarakat yang saling peduli. Namun harapannya bukan seperti ini tentunya. Tapi bahu membahu, tolong menolong untuk menjaga keluarga dan masyarakat sekitar kita agar jangan sampai hidup sebagai peminta sedekah,” tuturnya.

Peningkatan kualitas hidup, lanjutnya telah dimulai dari dunia pendidikan yang terus mengalami perbaikan sehingga kesempatan untuk belajar semakin terbuka, “Ada banyak panti asuhan anak, ada banyak program beasiswa. Ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya agar jangan sampai warga hidup menggelandang, terutama anak-anak jangan sampai hidup di jalanan,” tandasnya.

Apalagi program kementerian sosial juga sinergi dengan program pendidikan, “Ada BPNT PKH dan non PKH, pelatihan wirausaha, pelatihan tataboga, rias kecantikan, dan sebagainya. Edukasi hal-hal semacam inilah yang kita tekankan kepada PGOT yang terjaring patroli agar bisa gigih berjuang, bukan pasrah lalu mengandalkan belas kasihan,” tutupnya. (qq)

Comments

comments