Membiayai Transisi Energi: Bagaimana Mengalirkan Dana untuk Mencapai Ekonomi Net-Zero

oleh -
Membiayai Transisi Energi: Bagaimana Mengalirkan Dana untuk Mencapai Ekonomi Net-Zero
New Energy Transitions Commission Report, Financing the Transition

Laporan baru dari ETC menilai kebutuhan pembiayaan dan mengidentifikasi kebijakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan investasi dalam skala yang diperlukan

LONDON, — Investasi di bidang energi bersih harus meningkat empat kali lipat dalam dua dekade ke depan menurut Energy Transitions Commission (ETC). Dalam laporan terbaru yang berjudul Membiayai transisi energi: Bagaimana mengalirkan dana untuk mencapai ekonomi Net-Zero, ETC menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang kuat terkait ekonomi riil dan sistem keuangan apabila ingin mengalirkan dana pembiayaan dalam skala yang diperlukan.

Laporan tersebut juga mengidentifikasi pembayaran “konsesional/hibah” yang dibutuhkan untuk mendukung percepatan pensiun dini pembangkit listrik uap bertenaga batu bara, pengakhiran deforestasi, dan pembiayaan penyerapan karbon.

Investasi modal sekitar $3,5 triliun USD per tahun akan dibutuhkan di antara sekarang dan tahun 2050 untuk membangun perekonomian net-zero di skala global, naik dari belanja modal saat ini yaitu $1 triliun per tahun nya. Dari kebutuhan invetasi tersebut, 70% akan diperlukan untuk infrastruktur dasar pembangunan rendah karbon seperti pembangkitan tenaga listrik, transmisi, dan distribusi. Di hampir semua sektor perekonomian, infrastruktur-infrastruktur dasar tersebut menjadi fondasi dekarbonisasi.

Kebijakan ekonomi riil yang dirancang dengan baik harus menciptakan insentif yang kuat bagi investasi pihak swasta dalam transisi energi. Contoh dari kebijakan ekonomi yang baik adalah penetapan target ambisius untuk pembangkitan energi terbarukan pada tahun 2030, penetapan harga karbon dan regulasi produk guna mendorong dekarbonisasi dalam industri berat, penerbangan, dan perkapalan, serta target tahun pelarangan penjualan mobil dengan mesin pembakaran konvensional (mis., paling lambat 2035).

Tindakan utama lainnya termasuk berbagai bentuk regulasi keuangan, dukungan fiskal yang ditargetkan untuk pengembangan dan penerapan awal teknologi baru, serta komitmen Net-Zero dari lembaga keuangan.

Secara konseptual, pembiayaan investasi (yang diekspektasikan untuk memberikan keuntungan) akan berbeda dengan pembiayaan “konsesional/hibah” yang berperan penting guna membantu menutupi biaya ekonomi percepatan pensiun dini pembangkit listrik uap bertenaga batu bara, untuk mengompensasi insentif deforestasi, dan untuk mendanai  aktivitas penyerapan karbon.

Aliran pendanaan yang memadai merupakan kunci untuk merealisasikan masa depan Net-Zero dan membatasi dampak perubahan iklim. Pembiayaan melalui investasi swasta, pemerintah, dan filantropi dibutuhkan untuk menghasilkan pendanaan dalam skala besar dan aliran pendanaan internasional guna memastikan kita beralih dari pembuatan target ke pengambilan aksi, serta menghasilkan perekonomian global rendah karbon
Adair Turner, Ketua, Energy Transitions Commission, pada siaran pers, (24/3/2023).

Akselerasi investasi yang diseimbangdengan penghematan

Sebagian dari investasi yang dibutuhkan akan diimbangi dengan pengurangan investasi dalam bahan bakar fosil. Hal ini dapat memangkas kebutuhan investasi modal dari $3,5 triliun per tahun menjadi $3 triliun secara net, dengan asumsi $0,5 triliun akan dikerahkan untuk investasi bari di sector bahan bakar fosil. Ini setara dengan 1,3% dari rata-rata proyeksi Pendapatan Domestik Bruto global tahunan selama 30 tahun ke depan. Meski tergantung dengan perkembangan harga bahan bakar fosil, investasi ini juga dapat menciptakan sistem energi dengan biaya operasional yang lebih rendah dari sistem eksisting, menghasilkan penghematan sebesar $2–3 triliun per tahun pada tahun 2050 dan seterusnya. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, skala investasi tersebut akan tetap diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meski dalam situasi tidak adanya tantangan perubahan iklim.

Melihat hal di atas, biaya inkremental yang dibutuhkan akan berada jauh di bawah kebutuhan investasi bruto. Namun, realokasi dan mobilisasi modal dalam skala yang diperlukan tidak akan terjadi tanpa kebijakan ekonomi riil yang kuat di seluruh bidang perekonomian, serta aksi untuk mengatasi tantangan sektor keuangan di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Melihat investasi transisi energi membutuhkan investasi modal yang besar, proyeksi ETC menunjukkan bahwa puncak kebutuhan investasi akan terjadi di sekitar tahun 2040, seiring dengan pengembangan sistem energi masa depan, sebelum akhirnya menurun ke laju penggantian aset yang lebih rendah.

Investasi global – insentif untuk berinvestasi apa pun tantangannya

Secara global, tedapat pendanaan yang cukup untuk membiayai transisi energi. Meskipun terdapat sejumlah tantangan jangka pendek terkait investasi dalam masa transisi (mis., suku bunga tinggi), hal ini dinegasi oleh biaya pembangunan dan operasional energi terbarukan yang lebih murah daripada bahan bakar fosil baru di lebih dari 95% pasar listrik global. Hal ini ditambah dengan terjadinya dorongan untuk berinvestasi dalam ketahanan energi serta penghematan efisiensi.

Peningkatan skala investasi yang diperlukan akan berbeda sesuai dengan pengelompokan penghasilan negara. Dalam perekonomian berpenghasilan tinggi dan Tiongkok, investasi tahunan untuk membangun perekonomian Net-Zero perlu meningkat dua kali lipat dari tingkat saat ini, paling lambat pada tahun 2030. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperlukan peningkatan empat kali lipat yang paling lambat pada tahun 2030.

Di semua negara, sebagian besar pembiayaan akan berasal dari lembaga keuangan swasta dan mekanisme pasar apabila kebijakan ekonomi riil dirancang dengan baik. Namun, bahkan dalam perekonomian berpenghasilan tinggi, lembaga keuangan publik harus memainkan peran dalam membiayai jenis investasi tertentu, seperti teknologi yang baru pertama kali diterapkan, infrastruktur (mis., jaringan transportasi dan distribusi hidrogen serta CCUS), dan retrofit bangunan residensial.

Di beberapa perekonomian berpenghasilan rendah dan menengah, hanya mengandalkan aliran finansial dari pihak swasta tidak akan dapat menjamin investasi yang memadai mengingat tantangan yang diciptakan oleh tingginya risiko ekonomi makro aktual, penghematan domestik yang tidak memadai, dan faktor-faktor lain yang meningkatkan biaya serta mengurangi aliran pembiayaan swasta. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan yang signifikan dalam aliran finansial internasional ke sejumlah perekonomian berpenghasilan rendah. Sebagaimana yang diusulkan dalam laporan Songwe-Stern, pembiayaan dari negara ekonomi tinggi ke ekonomi berkembang akan memerlukan peningkatan besar dalam skala pembiayaan yang disediakan oleh para Bank-bank Pembangunan Multilateral (Multilateral Development Banks – MDBs) dan perubahan dalam strategi dan pendekatan MDBs yang dapat membantu meningkatkan mobilisasi investasi swasta.

“Tantangan pembiayaan sangat penting dalam menghasilkan perekonomian Net-Zero; berapa banyak yang kita butuhkan untuk diinvestasikan, di sektor apa dan di wilayah geografis mana, guna memperbaiki perekonomian kita yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dibutuhkan untuk mengatasi krisis iklim. Laporan ETC ini membahas dengan tepat pertanyaan tersebut secara teliti dan sistematis. Lebih penting lagi, laporan tersebut menyoroti berbagai faktor pengaruh yang dibutuhkan untuk memungkinkan ketersediaan investasi ini: kebijakan ekonomi riil; kebijakan yang menargetkan sistem keuangan; serta skala dan peran dana konsesional. Laporan tersebut memberikan wawasan yang sangat penting untuk membentuk pekerjaan berbagai lembaga, termasuk MDB saya.”

“Di EBRD, kami telah menetapkan target untuk menjadi Bank ramah lingkungan secara mayoritas paling lambat pada tahun 2025, dan laporan ini menggarisbawahi bidang-bidang utama yang harus menjadi fokus kami, kebijakan ekonomi riil yang harus kami kerjakan bersama dengan negara-negara tempat kami beroperasi guna menciptakan kondisi yang memungkinkan bagi investasi, serta peran yang harus kami jalankan untuk memobilisasi modal sektor swasta bersama dengan investasi dari kami sendiri.” ujar Nandita Parshad, Direktur Pelaksana, Sustainable Infrastructure, EBRD.

Dukungan yang diberikan oleh lembaga keuangan dan regulasi keuangan dapat mengakselerasi proses realokasi modal. Lembaga keuangan harus mengembangkan rencana transisi Net-Zero, yang dapat memainkan peran dalam mobilisasi modal dan transformasi aset menjadi teknologi rendah karbon. Regulasi keuangan juga seharusnya memastikan pelaporan dan pengelolaan yang transparan atas risiko serta strategi yang berhubungan dengan perubahan iklim.

Peran yang sangat penting untuk pembayaran konsesional/hibah

Dengan adanya kebijakan yang baik, investasi modal akan menghasilkan keuntungan positif bagi para investor. Namun, pencapaian pengurangan emisi akan mengakibatkan biaya ekonomi – khususnya, percepatan pensiun dini pembangkit listrik uap bertenaga batu bara yang masih memiliki daya saing operasional dibandingkan dengan energi terbarukan, penghentian deforestasi yang menghasilkan pengembalian positif kepada para pemilik lahan dan bisnis, serta peningkatan skala pelenyapan karbon dioksida.

Oleh karena itu, pembayaran konsesional/hibah untuk mengompensasi biaya-biaya ini di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (tidak termasuk Tiongkok) menjadi sangat penting untuk dapat mencapai sekitar $0,3 triliun USD per tahun paling lambat pada tahun 2030 jika perekonomian global ingin mencapai tujuan dalam menahan kenaikan suhu di 1,5°C. Secara teori, dana ini dapat berasal dari perusahaan swasta melalui pasar karbon sukarela (voluntary carbon market), filantropi, dan pembiayaan bilateral dari negara berpenghasilan tinggi.

Pada tahun 2030, pembiayaan konsesional/hibah ini dapat mencapai:

  • Sekitar $25–50 miliar USD per tahun untuk mencapai percepatan pensiun dini aset pembangkit listrik ataupun pertambangan batu bara yang ada, dengan kebutuhan pembayaran ini menurun menjadi nol paling lambat pada tahun 2040.
  • Sekitar $130 miliar USD per tahun untuk pengakhiran deforestasi paling lambat pada tahun 2030 – dengan potensi jumlah pembiayaan jauh lebih tinggi apabila konsumsi daging merah terus meningkat. Skala pembayaran ini menimbulkan pertanyaan apakah dana yang tersedia akan lebih baik digunakan melalui mekanisme cara lain, mis., secara langsung mendukung pemerintah yang bersedia dan mampu memberlakukan larangan deforestasi.
  • Sekitar $100 miliar USD per tahun untuk mendanai penyerapan karbon. Awalnya pembiayan ini diperuntukkan untuk solusi berbasis alam seperti reboisasi, tetapi aka nada peningkatan peran pada tahun 2030/40-an untuk solusi buatan seperti Penangkapan Karbon dan Penyimpanan Udara Langsung (Direct Air Capture of Carbon and Storage – DACCS).

“Kami percaya bahwa pembiayaan dapat memainkan peran utama dalam menjadi faktor penentu perekonomian global nol emisi karbon, terutama apabila para institusi keuangan seperti bank bekerja melalui kemitraan.”

“Seperti yang sudah jelas dikemukakan oleh ETC, pembiayaan perlu bekerja sama dengan pemerintah dan upaya filantropi untuk menghasilkan investasi signifikan yang dibutuhkan untuk melakukan transisi.” ujar Zoë Knight, Direktur Pelaksana & Pimpinan Grup, Centre of Sustainable Finance, HSBC.

Untuk membaca laporan lengkapnya, kunjungi: https://protect-eu.mimecast.com/s/_2m5Ck7VnuOYYYlUQ7WRI?domain=energy-transitions.org/

Laporan ETC disertai dengan 5 lembar lampiran tiap sektor yang merangkum kebutuhan, tantangan, dan tindakan investasi yang diperlukan untuk dekarbonasi sektor listrik, bangunan, transportasi, industri, serta hidrogen paling lambat pada tahun 2050. Laporan bisa diunduh di sini: https://protect-eu.mimecast.com/s/eanUCl7Vou2OOOGIqdEO7?domain=energy-transitions.org.***/PRNewswire/

Comments

comments