M Busro : Kalau Kehilangan Tanah Air, Hendak Dicari Kemana?

oleh -

Semarang,- “Kalau kita kehilangan emas atau harta benda, tentu saja masih bisa dicari. Akan tetapi kalau kehilangan tanah air, hendak kita cari dimana?” tanya Busro, mantan ketua PC GP Ansor Semarang di acara HUT pertama ormas Ganaspati pada sambutannya di salasatu rumah makan di kawasan Jl Gajah Mada, Kota Semarang, Sabtu (27/1/2018).

“Selaku mantan ketua Ansor Semarang saya merasa senang dan bangga, dahulu kami merasa sendiri dalam menjaga negara ini dari paham radikal. Dengan adanya Ganaspati ini serasa ada rekan seperjuangan,” ujar Busro memberi semangat.

Sambutan hangat diberikan kepada Ganaspati di tasyakuran ulang tahunnya yang pertama, selain dihadiri oleh M Busro, turut hadir sejumlah tokoh masyarakat dalam mengiringi perjalanan organisasi yang dipimpin oleh Ratya Mardika ini.

Komandan Unit Intel Kodim 0733/BS, Kapten Ragil Surono mengatakan bahwa kehadiran Ganaspati memang dibutuhkan oleh masyarakat. Kapten Ragil juga berpesan agar Ganaspati bisa mengambil peran penting dalam menjaga kondusifitas di masyarakat.

“Jaga kondusifitas masyarakat, kami harap Ganaspati terus menunjukkan kontribusi positif bagi negara, khususnya di Kota Semarang,” pesan Ragil.

Wakasat Binmas Polrestabes Semarang, Kompol Maulud, pada kesempatan tersebut mengakui bahwa peran Ganaspati nyata bagi bangsa Indonesia dalam menjaga masyarakat dan negara.

“Tahun lalu, Ganaspati juga turut ambil bagian dalam aksi menolak HTI dan menolak pembentukan FPI.” kata Kompol Maulud. Dirinya juga berharap adanya Ganaspati bisa membantu kinerja aparat dalam menjaga masyarakat, “Ada payung hukum yang jelas terkait PAM Swakarsa, ada empat pilar, ada nawacita. Dengan adanya Ganaspati, semoga bisa membantu kinerja Polres dan Kodim dalam berbagai kegiatan keamanan negara,” harapnya.

Yunantyo Adi Setiawan mewakili Komunitas Pecinta Sejarah Semarang pada giliran sambutannya juga menyinggung tentang kaum radikal, “Militansi kaum ekstrimis yang menggangu tatanan kehidupan bernegara dan beragama. Orang beribadah diganggu, saat dihalau, justru kita yang dituduh sebagai pengacau kebhinekaan” Jelasnya.

“Kecepatan dalam merespon gerakan ekstrimis dan radikalis, itulah yang diharapkan dari Ganaspati,” harapnya.

Setiawan Budi turut memberikan sambutan, sebagi perwakilan dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama), dirinya mengakui perkembangan Ganaspati cukup pesat, “Ganaspati ini saya perhatikan sudah semakin tersebar di Indonesia. Untuk itu, saya harap selanjutnya bisa lebih solid dalam mengawal NKRI,” tandasnya singkat. [AR Hidayat_SorotIndo]

Comments

comments