Cahaya di Langit Pekalongan

Cahaya di Langit Pekalongan
Dewasa ini banyak sekali muncul aliran-aliran Islam ataupun organisasi-organisasi baru yang mengatasnamakan Islam di indonesia sejak era reformasi tahun 1997 hingga sekarang 2016, yang sejatinya sudah ada sejak zaman jauh sebelum NKRI berdiri. organisasi-organisasi Islam tersebut muncul untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka ke ranah publik dan pemerintah, yang pada kenyataannya mereka mempunyai faham yang berbeda-beda walaupun satu yaitu islam. Sebagai contoh kecil, kita bisa lihat bagaimana saat hari lebaran ataupun saat menentukan awal puasa ramadhan itu terjadi perbedaan yang sangat jelas, itu masalah klasik di negeri ini.
Di era sekarang organisasi Islam atau aliran Islam banyak mengklaim dirinya mengaku ber faham ahlussunnah wal jamaah ataupun manhaj salafussholeh, pertanyaaanya apakah itu faham ahlussunnah wal jamaah dan siapakah mereka? Banyak terdapat hadits-hadits yang bertalian dengan akan adanya firqoh-firqoh yang berselisihan paham dalam lingkungan ummat Islam. Salah satunya yaitu hadits Nabi Saw yang Artinya: “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad, akan berfirqoh ummatku sebanyak 73 firqoh yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk neraka“. bertanya para Shahabat: “Siapakah firqoh (yang tidak masuk neraka) itu yaa Rasulallah?“. Nabi menjawab: “Ahlussunnah Wal Jamaah”. (H.R. Imam Thabrani). /hadits yang serupa dengan ini tersebut juga dalam kitab “Al Milal Wan Nihal” Juz 1 Hal. 11, karangan Syahrastani (wafat 548 H).
Dari sudut bahasa, perkataan ahl al sunnah wa al jamaah merupakan suatu istilah yang tersusun dari tiga rangkaian suku kata. Pertama, ahl yang berarti keluarga, pengikut ataupun golongan. Kedua, As-sunnah dari sudut bahasa mempunyai pengertian al thariqah(jalan atau perilaku), baik jalan dan perilaku tersebut benar atau tidak. adapun dari segi terminology/istilah, as-sunnah mengandung arti jalan yang di tempuh oleh nabi sallallahu’alaihi wasalam dan para sahabatnya yang selamat daripada syubhat dan hawa nafsu. KH hasyim asyari mengatakan :

اَلسُّنَّةُ كَمَا قَالَ اَبُو الْبَقَاءِ فِى كُلِّيَّاتِهِ : لُغَةً اَلطَّرِيْقَةُ وَلَوْ غَيْرَ مَرْضِيَّةً، وَشَرْعًا اِسْمٌ لِلطَّرِيْقَةِ الْمَرْضِيَّةِ الْمَسْلُوْكَةِ فِى الدِّيْنِ سَلَكَهَا رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَوْ غَيْرُهُ مِمَّنْ هُوَ عَلَمٌ فِى الدِّيْنِ كَالصَّحَابَةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ لِقَوْلِهِ : عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ.         ــ

Maksudnya : ”As-sunnah seperti yang dikatakan oleh Abu Al-Baqa” didalam kitab Al-Kulliyyat, karangannya, secara literalnya adalah jalan, meskipun (jalan tersebut) tidak di ridhoi. adapun As-sunnah menurut istilah syara’ adalah : nama bagi jalan dan perilaku yang di ridhoi di dalam agama yang di tempuhi oleh rasullullah sallallahu ’alaihi wasalam atau orang-orang yang dapat menjadi teladan dalam beragama seperti para sahabat radiyallahu ’anhum, berdasarkan sabda nabi sallallahu ’alahi wasalam, ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidn sesudahku.
Ketiga, perkataan al-jamaah secara etimologi, perkataan al-jamaah ialah segolongan manusia yang bersama-sama secara kolektif dalam mencapai suatu tujuan. adapun secara terminologi, perkataan al-jamaah membawa maksud : mayoritas kaum muslimin (al-sawad al-a’zam), dengan arti bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah sebuah aliran yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Muhaddits As-Syaikh Abdullah Al-Harari.
Adapun pengertian Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mayoritas kaum muslimin (al-sawad al-a’zam) dilihat seiring dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : اِنَّ اُمَّتِيْ لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَاِذَا رَاَيْتُمْ اِخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْاَعْظَمِ.                       ـ

Maksudnya: dari shahabat anas bin malik radiyallahu ’anhu berkata : aku mendengar rasulullah sallallahu ’alahi wasalam bersabda : sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan, (oleh sebab itu) apabila kamu melihat terjadinya suatu perselisihan, maka hendaklah kamu ikuti kelompok mayoritas.
Berbicara tentang ahlussunnah wal jamaah maka kita akan berbicara tentang abu hasan al asy’ari. Beliau merupakan pemimpin ahlusunnah wal jamaah, imam ahli kalam, pendukung sunnah rasullulah, pembantu agama yang pakar dalam bidang keilmuan. abu hasan al asy’ari pada hakekatnya tidak mengadakan suatu perkara baru dalam bidang aqidah, sebaliknya beliau merupakan orang yang menyusun semula ilmu aqidah mengikut apa yang telah di tetapkan di dalam al-quran dan apa yang dibawa dan di i’tikadkan oleh rasullulah dan para sahabat. nama lengkap abu hasan al asy’ari adalah a Ali ibn ismail ibn abu basyar ishaq ibn salim ibn ismail ibn abdullah ibn musa ibn bilal ibn abi burdah ibn abu musa Abdullah (sahabat rasulullah dikenali dengan nama abu musa al-asy’ari) ibn qais, beliau dilahirkan di basrah (iraq), beliau wafat di basrah dalam usia 64 tahun. 260-324 H. Dan siapakah yang di sebut mayoritas umat muslim di dunia? kita bisa lihat  yg diyakini ratusan juta umat Islam di dunia yg berfaham ahlussunnah wal jamaah diantaranya indonesia, malaysia, brunei, india, pakistan, mesir, negara-negara didaratan syam (syiria, jordan, libanon, dan palestina) maghribi, yaman, iraq, turki, daghestan, chechnya, afganistan dan masih banyak lagi yg lainya. dan mereka semua para pengikut madzhab syafi’i, maliki, hanafi, serta orang-orang yang utama dari kalangan madzab hanbali (fudala’ al hanabilah).
Untuk belajar faham ahlusunnah wal jamaah maka kita perlu mengenal setelah mengenal maka kita bisa mempelajari setelah mempelajari insya Allah akan bisa memahami ahlussunnah wal jamaah itu apa dan siapa mereka. faham suatu kelompok (firqoh) bisa terdeteksi berfaham ahlusunnah wal jamaah atau tidak jika memahami tiga perkara diantaranya wajib (sesuatu yang harus ada), mustahil (sesuatu yang tdk mungkin ada), dan jaiz (sesuatu yang bisa ada, bisa juga tidak ada) sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Al-Fudholi dalam kifayatul ‘Awwam.
Faham ahlusunnah wal jamaah seharusnya menjadi pembelajaran awal bagi kaum muslimin wal muslimat di seluruh Indonesia, umumnya dunia. karena jalan menuju persatuan dan kesatuan islam salah satu yang penting adalah faham yang sama. Karena begitu pentingnya pembelajaran ini maka sepantasnya kita dukung dan kita perjuangkan ulama-ulama yang mengajarkan faham ahlusunnah wal jamaah, karena inilah faham yang diajarkan rasullulah. salah satu ulama yang mengajarkan faham ahlusunnah wal jamaah di pekalongan adalah Ky. Muhammad Syarif Kradenan Gang 01. Beliau mengajarkan pokok-pokok fondasi dalam beragama islam yang sesuai dengan faham rasullulah dan para sahabatnya. majlis ini bernama Majlis Ta’lim AQOIDUL KHOMSIN, diantara kitab-kitab yang di kaji majlis ini: risalah awal (KH.said bin armiya’) risalah tsani (KH.said bin armiya’), jauhar tauhid (KH.Soleh darat), majmu’ syariat (KH.soleh darat), munjiyat (KH.soleh darat), Al-Hikam (KH.soleh darat), dan masih banyak yang lainya. Acara-acara di majlis ini diantaranya setiap tahun mengadakan maulid rasulullah yang di hadiri para ulama dan habaib di wilayah pekalongan dan wilayah lain di indonesia, yang di hadiri ribuan jamaahnya.Inilah cahaya dilangit Pekalongan.Semoga Beliau selalu dalam perlindungan ALLAH dan berjuang menerangi dunia dengan keilmuanya, dan semoga bukan menjadi bagian dari pada ulama-ulama yang ikut terjun ke dunia politik, yang mengesampingkan ilmu nya. Yang  satu contohnya, dalam Islam dilarang untuk memilih orang yang bukan Islam untuk menjadi pemimpin.Dikatakan memilih saja tdk boleh apa lagi menjadi salah-satu penyokong suksesnya kepemimpinan selain islam,islam bukan agama yang tidak toleran terhadap umat lainya,akan tetapi islam juga bukan agama yang tidak punya aturan.tapi inilah realita yang harus kita hormati sebagi bagian dari ke Bhinekaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Satu yang paling penting sebagai anak bangsa ini jaga persatuan dan kesatuan dengan cara menghormati dan menghargai sikap setiap individu maupun golongan dalam mengambil sikap dalam mengaspirasikan ide dan keilmuanya. Indonesia adalah bangsa yang besar yang memiliki berbagai macam budaya, agama, aliran, dan pemahaman. Jagalah persatuan dan kesatuan dengan semangat bhineka tunggal ika, inilah kita dan seharusnya kita. Dan yang terpenting, salah satu solusi untuk mempersatukan ummat dan keutuhan NKRI adalah dengan keimanan atau keyakinan yang sama yaitu aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.  (Aris/SII)
Baca:   Cerita Dibalik Aksi Super Damai 212

Comments

comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.