Gunung Manglayang Pesona Eksotik Alam Yang Terlupakan Di Belahan Timur Bandung

Gunung-Manglayang
gunung-manglayang-pesona-eksotik-alam-yang-terlupakan-di-belahan-timur-bandung

“Jawa Barat beribukotakan Bandung. Alam Bandung yang memiliki sejuta pesona dikelilingi oleh sederatan pegunungan, sehingga seolah-olah Bandung berada di sebuah kawah raksasa yang dipagari dengan gunung dan pegunungan yang kokoh dan memiliki potensi  pariwisata yang dapat dijadikan PAD bagi Jawa Barat. Gunung Manglayang yang terletak sekitar 21 Km sebelah Timur Kota Bandung, dekat dengan  kawasan kampus Unpad dan kampus baru ITB, serta berada dekat dengan kawasan perekemahan nasional Kiara Payung, Jatinangor Sumedang”

 

Bandung–Gunung Manglayang adalah sebuah gunung bertipe  Stravolcano  yang terletak di antara Kota Bandung  dan Kabupaten Sumedang , Jawa Barat, Indonesia dan memiliki ketinggian sekitar 1818 mdpl. Pemandangannya cukup indah, namun karena relatif tidak terlalu tinggi, sehingga kurang dikenal oleh pendaki-pendaki gunung pada umumnya.

Dalam deretan gunung-gunung Burangrang – Tangkuban Perahu – Bukit Tunggul – Gunung Manglayang, Gunung Manglayang menjadi gunung yang terindah dari rangkaian keempat gunung tersebut. Mungkin itulah sebabnya di kalangan para penggiat alam bebas, gunung ini sempat terlupakan terkecuali para penggiat alam bebas dari Bandung dan sekitarnya. Walaupun begitu, Gunung Manglayang tetap menawarkan pesona alamnya tersendiri.

 

Waktu Tempuh Dan Eksotisme

 

Dibutuhkan waktu kurang lebih 4 Jam perjalanan dari Baru Bereum untuk dapat mencapai puncak Manglayang dengan tempo pendakian sedang. Stamina anda akan diuji ketika melewati tanjakan tanpa henti dengan sudut kemiringan sekitar 45 – 60 derajat. Sejak titik awal pendakian di desa Baru Bereum jalur terus menanjak dan dapat dikatakan tidak ada jalur yang landai. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan dapat menghilangkan kelelahan tersebut, mulai dari kerindangan hutan pinus, hamparan persawahan di kejauhan sampai lembah Manglayang yang hijau menyegarkan dapat anda nikmati. Sepanjang jalur pendakian dari Baru Bereum sampai puncak Manglayang akan sulit menemukan sumber mata air, sehingga membawa banyak perbekalan air adalah pilihan yang bijak. Perlu diingat juga selama anda dalam perjalanan sampai tiba puncak dan kembali lagi ke rumah, jangan ambil apapun kecuali gambar dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki. Memang, Gunung Manglayang tidak sepopuler gunung-gunung lain yang ada di sekitar Bandung. Tapi jika Anda ingin sesekali mencoba berpetualang di alam bebas untuk sejenak melepaskan kepenatan sehari-hari, tidak ada salahnya Anda mencoba mendaki Manglayang.

Baca:   Pemprov Aceh Launching Aceh International Rapa’i Festival di Jakarta

Pesona alamnya yang eksotik dan natural, pengunjung akan dimanjakan dengan kesegaran dan keasrian alamnya, sangat tepat bagi mereka yang memiliki hobby camping karena terdapat lahan hutan yang tidak begitu lebat untuk sekedar menyepi melakukan kontemplasi sesaat, untuk melepaskan hiruk pikuk hawa kota yang menyesakkan setelah sepekan melakukan aktifitas serta pengunjung dapat melihat view pemandangan kota bandung dari Manglayang

 

view-bandung-via-manglayang
#view-bandung-via-manglayang

 

Jalur Pendakian Cocok Bagi Pemula

 

Menurut Wikipidia, Jalur Barubereum dapat dicapai melalui daerah Jatinangor. Di sana pendaki dapat menuju ke arah Universitas Padjadjaran,Jatinangor lalu mengambil arah ke Bumi Perkemahan Kiara Payung, namun terus lagi hingga sampai di desa Barubereum. Saat tiba di Kawasan Barubereum terdapat deretan warung makan dan untuk jalur pendakian sendiri mengikuti jalur berbatu ke arah kiri, sedangkan ke arah kanan yang melewati barisan warung adalah jalur menuju tempat perkemahan. Jalur ini diawali dengan melewati aliran sungai kecil, kemudian dilanjutkan dengan kebun jeruk nipis penduduk. Dari awal pendakian sampai puncak, jalur ini terbilang terjal dan jarang menemui jalan datar. Kondisi fisik jalur pendakian dimulai dengan tanjakan tanah liat diselingi tanjakan berbatu, keseluruhannya sangat licin dan merupakan jalur air, sehingga sangat tidak direkomendasikan melakukan pendakian pada musim hujan.

Jalur pendakian gunung ini tidak dilengkapi dengan pos/shelter karena jarak dan waktu tempuh yang cukup singkat, 2 jam jalan normal. Untuk lokasi membangun tenda hanya bisa dilakukan di Puncak Bayangan dan Puncak Manglayang. Jalur yang jelas ini akan berpisah di persimpangan, trek vertikal ke kiri adalah arah menuju Puncak Bayangan dan trek landai ke kanan adalah menuju Puncak Manglayang. Untuk membangun tenda sangat direkomendasikan di Puncak Bayangan, meskipun tempatnya tidak luas hanya berkapasitas 4-5 tenda, namun pemandangannya sangat terbuka, serupa seperti berada di PuncakGunung Cikuray

Baca:   Diskopperindagpar Kabupaten Madiun Sosialisasikan Regulasi Pariwisata

 

Camping Yang Menyenangkan

Amatan SII Titik air gunung ini hanya ada di sungai kecil saat awal pendakian, selebihnya tidak ditemukan sumber air. Sepanjang jalur hutan tropis tidak begitu lebat menjadi santapan yang cukup melindungi pendaki dari panas matahari. Secara personal saya merekomendasikan pendakian pada malam hari, selain tidak panas kita juga dimudahkan dengan tidak melihat langsung terjalnya jalur pendakian.

Turun dari gunung ini juga tidak bisa dibilang mudah, jalur yang kecil dan licin sangat memperlambat mobilitas. Satu hal yang penting dari gunung ini adalah ketika malam hari yang cerah, karena tidak begitu tinggi lampu-lampu kota Bandung terlihat begitu jelas dari Puncak Bayangan. Sedangkan di Puncak Manglayang tidak dapat melihat apapun selain rimbunnya hutan dan 1 kuburan.

Sedangkan untuk jalur pendakian melalui Batu Kuda bisa ditempuh dalam jarak 1,5 jam. Pendakian dilakukan dengan jalan santai dan istirahat sejenak untuk “mengambil napas” dan minum beberapa teguk air.Jalur pendakian melalui Baru Kuda masih lebih bersahabat dibanding jalur pendakian melalui Barubeureum.

Potensi Peningkatan Sektor Pariwisata Jawa Barat

Dari kesemua pesona alam yang lestari  di kawasan gunung Manglayang, sebenarnya jika digali dan dikembangkan sedemikian rupa, dapat meningaktkan sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) di sektor Pariwisata Jawa Barat yang berguna untuk peningkatan perekonomian daerah seperti di kawasan Lembang, Dago dan sekitarnya.

 

(bhq)

Comments

comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.