Rektor UNIBRAW : PMP Penting Masuk Kurikulum Lagi

Pentingnya PMP/Pendidikan Moral Pancasila dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum bagi mahasiswa disuarakan oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. DR. Muhammad Bisri. Hal itu sebabkan maraknya berbagai propaganda ideologi asing di Indonesia, baik yang bersumber dari paham individualisme-liberalisme, kapitalisme, komunisme maupun fundamentalisme agama sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

 

 

 

SII.Jakarta–Peran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) digantikan dengan Pelajaran Pendidikan Kewargenanegaraan yang lazim disebut PPKN saat ini, dinilai tidak berhasil membentuk mental dan karakter kebangsaan bagi para pelajar yang nantinya menjadi generasi bangsa di masa yang akan datang.

 

Sedangkan jika masa tahun 70-80 an kita mengenal pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Dari namanya saja jelas “Pendidikan” yang memiliki makna mendidik, mengarahkan, membimbing, mewarisi.

Pengertian Ideologi Menurut Definisi Para Ahli – Berikut beberapa pengertian ideologi yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh kenegaraan. 

 

  • Alfian : Menurut definisi Alfian, pengertian ideologi adalah suatu pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam tentang bagaimana cara yang sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku bersama dalam berbagai segi kehidupan.
  • C.C. Rodee :  Menurut pendapat C.C. Rodee yang menyatakan bahwa pengertian ideologi adalah sekumpulan yang secara logis berkaitan dan mengindentifikasikan nilai-nilai yang memberi keabsahan bagi institusi dan pelakunya.
  • Ali Syariati : Menurut Ali Syariati mengenai pendapat tentang pengertian ideologi yang mengatakan bahwa ideologi adalah sebagai keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati oleh suatu kelompok, suatu kelas sosial, suatu bangsa atau suatu ras tertentu.

Dari hasil pendapat para ahli mengenai pengertian ideologi, yang disimpulkan bahwa pengertian ideologi adalah kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia.

 

Konsep ideologi menurut pakar  tersebut menyimpulkan sebuah arti lebih dari  ‘kepribadian’,‘pandangan hidup’,  ‘filosofi’, ‘tatanan’, ‘nilai budaya’. Maka ideologi bukanlah agama.

Suatu masyarakat boleh menganut suatu agama namun harus memiliki ciri budaya dan karakter tersendiri. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia telah memiliki warisan budaya nilai-nilai karakter dan kepribadian bangsa yang oleh “founding father” kita dinamakan Pancasila.

 

Mata pelajaran Pancasila disarankan kembali agar dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan usia dini hingga Perguruan Tinggi.

Hal itu sebabkan maraknya berbagai propaganda ideologi asing di Indonesia, baik yang bersumber dari paham individualisme-liberalisme, kapitalisme, komunisme maupun fundamentalisme agama sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

Pentingnya Pancasila dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum bagi mahasiswa disampaikan oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. DR. Muhammad Bisri pada acara pembukaan Pelatihan untuk Pelatih Sosialisasi Empat Pilar dengan kalangan dosen Perguruan Tinggi se-Jawa Timur di Kota  beberapa bulan ke belakang di Malang, di Ijen Suites Hotel,  Malang, Jumat  (4/3).

“Kita prihatin dengan proses kerusakan moral dan nasionalisme generasi muda saat ini. ‎ Muncul fenomena LGBT membuat kita harus berpikir kembali agar Pancasila kembali dijadikan kurikulum pendidikan,” kata Bisri.

Baca:   Pasukan TNI Disiagakan Siap Bebaskan Sandera Abu Sayyaf

Terkait dengan hal tersebut, Ketua Badan Sosialisasi MPR Ahmad Basarah mengakui betapa pentingnya Pancasila kembali dimasukkan menjadi kurikulum pendidikan bagi semua jenjang pendidikan.

Dulu, di masa Orde Baru, mata pelajaran Pancasila, menjadi kurikulum khusus. Namun lewat UU Sisdiknas. Tahun 2004, mata pelajaran Pancasila dihapus.

“Kalau sekarang ada mata pelajaran Pancasila namun tidak menjadi kurikulum khusus, tapi nempel di PKN, nempel di mata pelajaran tertentu dan hanya menjadi bagian saja.” kata Ahmad Basarah, di Hotel Ijen Suites, Malang, Sabtu (5/3).

Padahal menurut politisi PDI Perjuangan tersebut, MPR menginginkan Pancasila sebagai hal prinsipil dan fundamental dan sudah seharusnya sebagai mata pelajaran pokok.

“Makanya kita harapkan semua perguruan tinggi se-Indonesia memasukkan Pancasila dalam kurikulum dan untuk mewujudkan kami sudah berkoordinasi dengan menteri pendidikan nasional agar PT merubah kurikulum pendidikan agar Pancasila kembali dijadikan mata pelajaran pokok,” ujar anggota Komisi III DPR ini.

Kapan direalisasikan, Ahmad Basarah hanya mengatakan kalau pihaknya berharap Kementerian Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Komisi X DPR untuk segera merevisi kurikulum pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP dan SMA.

“Sudah saatnya memasukkan Pancasila sebagai mata pelajaran pokok dan materinya disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing,” katanya.

Menurutnya, materi Pancasila diberikan kepada jenjang pendidikan paling rendah yakni PAUD sangat penting. Sebab kalau tidak ditanamkan kepada anak didik, maka tidak akan inheren dalam perkembangan jiwa dan pemikiran peserta didik.

Memberikan pemahaman Pancasila diusia dini ujar Basarah sesungguhnya sama pentingnya ketika memberikan dokrin nilai-nilai agama kepada anak sejak usia dini.

“Kalau Pancasila tidak ditanamkan kepada anak didik usia dini bagaimana bisa menjadi pandangan hidup yang diakui dan dipraktekkan. Makanya Pancasila dimasukkan dalam usia dini sangat penting,” demikian Basarah.

Tuntut Pengembalian Kurikulum PMP

Sebagaimana yang dirilis Antara bahwa Anggota TNI AD, Kopral Partika Subagyo menggelar aksi tunggal bertajuk Moral Bangsa Semakin Rusak di kawasan Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin (11/5). Dalam aksinya, Kopral Partika Subagyo menuntut dikembalikannya mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dalam kurikulum sekolah dan penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila.

 

 

kopral partika subagyo

#foto antara.

Sampai kapankah negeri tercinta kita ini yang diisi oleh para orang-orang pintar tapi sudah tidak mempedulikan budaya dan kepribadian bangsa, akan sadar dengan nilai pendidikan karakter bangsa?. Jawabnya berpulang kepada kita semua. Modernitas memang perlu namun akhlak dan budi pekerti jauh lebih penting. Bayangkan jika seandainya satu atau dua dekade yang akan datang negeri kita dipimpin oleh orang pintar akan tetapi tidak memiliki identitas bangsa. “pintar” tapi keblingar” akan membuat negeri ini hancur dibandingkan jika “bersahaja” tapi “pancasilais”karena memiliki sekaligus melestarikan nilai karakter kepribadian bangsa.

 

tim.SII

Comments

comments



Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.