Waspadai Ancaman Radikalisme di Kampus

oleh

Jakarta.SI–Radikalisme di kampus masih tetap diwaspadai meski kampanye upaya meluruskan kelompok aliran itu terus dilakukan. Di sisi lain, pemahaman masyarakat hingga akademisi tentang bela negara juga masih perlu diluruskan karena selalu menganggapnya dengan fisik dan militer. Bela negara menjadi salah satu pilar untuk menangkal radikalisme.

Ratusan mahasiswa dan dosen mengikuti pelaksanaan seminar pertahanan dan bela negara yang di gelar oleh Universitas Pertahanan dan UPN Veteran Jogja di Ruang Seminar Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran, Selasa (27/2/2018).

Wakil Rektor II Universitas Pertahanan Indonesia Laksda TNI Supartono menjelaskan, di bidang pendidikan, jika akademisi menekuni keilmuan dan memanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dalam rangka membangun NKRI maka bisa kategorikan bela negara. Namun, ia tidak menampik ada beberapa pihak yang memiliki ilmu tetapi justru memerangi pemerintah bukan sekadar untuk mengoreksi.

“Sehingga timbullah radikalisme, itu orang terpelajar semua, bagaimana itu [kelompok radikal] bisa digiring untuk bisa menghayati Pancasila bahwa itu ideologi satu-satunya yang tidak bisa kita ubah,” ungkapnya di sela-sela seminar di UPN Veteran Jogja, Selasa (27/2/2018).

Ia menambahkan, radikalisme merupakan salah satu dari tindakan yang berpotensi merongrong ketangguhan negara. Sayangnya, radikalisme juga banyak di kalangan muda terpelajar seperti mahasiswa. Tak jarang aliran garis keras masuk ke kampus mengajak mahasiswa untuk bisa bergabung. Radikalisme di kampus jika tidak ditangani dengan serius maka bisa menjadi persoalan di kemudian hari bagi instansi maupun perguruan tinggi tersebut.

“Memang pertamanya itu secara syariat tetapi sedikit sedikit dimasuki paham radikal sehingga ujungnya, aslinya memerangi pemerintah,” ucap mantan Komandan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya ini.

Munculnya kelompok generasi muda yang menolak pancasila dinilai karena tidak paham substansinya, padahal ideologi ini dapat mewadahi semua agama, yang juga disusun oleh para ulama. Adanya beberapa penyimpangan seperti kasus korupsi kadang disimpulkan oleh kelompok tersebut bahwa pancasila tak sesuai dengan norma agama. Padahal tindakan penyimpangan itu hanya dilakukan segelintir orang, sehingga tidak bisa menjadi dasar untuk memerangi pemerintah atau berupaya mengganti ideologi pancasila.

Ia tak menampik, kampus menjadi salah satu yang diwaspadai terkait kemungkinan tumbuhnya benih radikalisme karena tempat berkumpulnya para pemuda yang sekian tahun lagi akan memimpin suatu negara. “Susahnya itu kalau dikendalikan dari luar [negeri], tidak menutup kemungkinan mereka [pemuda yang terjerumus radikalisme] ini nggak tahu apa-apa. Seperti diberi bantuan materi dan sebagainya. Bukan berarti pemerintah kecolongan, tetapi mereka masuknya secara halus, yang kemudian membawa ideologi atau paham dari luar,” tegas

Salah satu langkah yang dapat mencegah terjadinya radikalisme di kampus adalah ada upaya berbagai pihak untuk memberikan pemahaman bahwa bela negara tidak selau berkaitan dengan militer atau perang dengan senjata. Namun, bersifat semua kegiatan baik sipil maupun militer yang kuat untuk keakuannya kepada negara bahwa segala hal yang ada dalam negara adalah milik bersama yang harus dipertahankan dari rongrongan baik dalam maupun luar negeri.

Universitas Pertahanan, lanjutnya, siap bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia terutama kampus dalam memerangi radikalisme. Pada saat pelaksanaan Ospek mahasiswa baru disisipkan ada materi bela negara seperti outbond bernuansa bela negara yang tidak berarti militer. “Itu ada kajian akademiknya berupa suatu metode atau buku yang menjadi pedoman untuk setiap perguruan tinggi,” ujarnya.

Guru Besar UPN Veteran Jogja Prof. Danisworo menambahkan, pentingnya pemahaman bela negara kepada generasi muda agar mereka sadar bahwa Indonesia selalu ada gangguan, tantangan dan ancaman. Jika kesadaran bela negara tidak ditumbuhkan sejak saat ini, ke depan dikhawatirkan akan menjadi bom waktu yang semua orang tidak lagi peduli dengan kondisi bangsa.

Ia sepakat, bahwa bela negara bukan kegiatan fisik semata, tetapi bisa dilakukan dalam berbagai sektor. Semua orang dapat menerapkan bela negara sesuai kemampuan yang dimiliki. Seorang ahli bidang energi, maka bisa mengupayakan ketahanan bidang tersebut, begitu juga dengan ekonomi, dokter dapat menggunakan ilmunya untuk bela negara.

“Tetapi saya ngajar di S2, S3 itu mereka pikirannya, wah ini [bela negara] wajib militer ini. Padahal sama sekali bukan. Akademisi punya tanggung jawab untuk mengubah stigma yang menganggap bela negara ini selalu militer,” tegasnya. [Bhq/Zul]

Comments

comments

Tentang Penulis: baihaqi

"katakan yang benar meskipun pahit akibatnya.."