Umat Islam Perlu Berpolitik

oleh -
Umat Islam Perlu Berpolitik

sorotindonesia.com | Semarang,- Prof. Dr. KH. Abdul Jamil, MA., menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang di Masjid Al Ikhlas jalan Slamet Riyadi nomor 18, Gayamsari, Kota Semarang, Ahad (28/10/2018) sore. Membuka paparannya, Abdul Jamil mengungkapkan, berbagai hal terkait perpolitikan di Indonesia. Di antaranya dia tidak setuju dengan adanya pendapat tentang menarik diri dari politik sebab politik dianggap kotor.

“Saya tidak setuju dengan ungkapan ‘Jangan masuk gelanggang politik, karena politik itu kotor‘. Ini sengaja dihembuskan bangsa kolonial untuk melemahkan umat Islam,” kata Jamil dalam FGD yang diikuti para Ketua MUI kecamatan, Ormas Islam, dan Ormas Kepemudaan.

Selanjutnya, Guru Besar UIN Walisongo Semarang ini menerangkan, kebijakan Negara terkait dengan aturan, sistem, dan perundang-undangan diatur dalam mekanisme sesuai perpolitikan yang berlaku di sebuah negara. Karenanya umat Islam perlu memahami dan ikut berperan dalam politik. Karenanya, berpolitik itu penting untuk dapat menentukan kebijakan yang menyangkut keberlangsungan kehidupan kebangsaan antar umat beragama.

Oleh karenanya, dia memberikan tipikal tentang generasi yang ada di Indonesia. Generasi founding father merupakan yang pertama, yakni para pejuang kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Mereka yang berjuang, tak pernah merasakan nikmatnya kemerdekaan. Dijelaskan lebih lanjut, pada umumnya pada generasi tersebut berjuang dan menata bangsa Indonesia. Selanjutnya generasi penikmat, generasi ini tidak pernah berjuang, dan membangun. Sebab, hanya tinggal menikmati saja.

Sementara yang disebut sebagai ketiga adalah generasi perusak. Mereka ini tidak memperjuangkan, tidak membangun, dan tidak pula bisa menikmati hasil pembangunan. Dialah yang merusak Negara ini dengan perilaku korupsi, dan sebagainya.

Melanjutkan analogi yang diutarakan Prof Jamil, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Dr. H.A. Mujib Rohmat, MH., memberikan gambaran umum tentang mahasiswa. Mahasiswa itu ada 2, yang pertama, kata Mujib, mahasiswa yang idealis. Karena itu sering melakukan aksi demonstrasi. Dalam pikirannya berisikan rumusan teori, dan ideologi dan selalu memikirkan aspirasi. Mahasiswa pada kategori ini memang terbengkalai dalam kegiatan akademik, dan sering lupa pada tujuan awalnya belajar di perguruan tinggi. Namun dia mampu berfikir tentang masa depan bangsa ini.

Berkebalikan dengan dengan mahasiswa idealis yang acap kali bermain dengan ide kebangsaan, perjuangan, dan aspirasi, mahasiswa pragmatis sebagai bentuk kedua dari realita pendidikan Indonesia lebih terfokus pada kegiatan akademik saja. Sebab itu, yang terpikirkan hanyalah kuliah, segera lulus dan bekerja. Kompetensinya bagus, namun tidak tahu dan tidak pernah terpikirkan bagaimana arah keberlangsungan bangsa ini di masa mendatang.

Dari hal tersebut, Mujib memberikan sedikit simpulan, pemuda sebagai objek persoalan di mana pada hari ini semua persoalan bermuara pada pemuda. Sebagai pembanding Indonesia, Mujib memberikan pandangan tentang kondisi kebangsaan di New Zeland. Dengan kondisi kehidupan yang tidak memiliki kejelasan agama, yang mana budaya masyarakat setempat beranggapan bahwa agama merupakan konsumsi pribadi tanpa perlu adanya orang atau instansi yang mempertanyakannya dan tidak perlu pula dijelaskan pada masyarakat, namun memiliki toleransi yang tinggi. (arh)

Comments

comments